Membludak! Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp 100 Triliun

Sukabumiupdate.com
Selasa 07 Apr 2026, 20:22 WIB
Membludak! Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp 100 Triliun

Ilustrasi Pinjol. (Sumber : AI/ChatGPT).

SUKABUMIUPDATE.com - Pinjaman online tak dipungkiri di Indonesia semakin marak digunakan karena prosesnya yang dinilai cepat dan mudah. Kondisi ini membuat berbagai kalangan masyarakat memanfaatkan pinjol demi memenuhi berbagai kebutuhan seperti biaya hidup, pendidikan, hingga kebutuhan konsumtif.

Namun, di balik kemudahan itu, muncul fenomena meningkatnya jumlah masyarakat yang terjerat utang. Tidak sedikit pengguna yang mengambil lebih dari satu pinjaman sehingga beban cicilan semakin berat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa outstanding pembiayaan atau utang masyarakat pada platform pinjaman online telah mencapai Rp 100,69 triliun hingga Februari 2026. Angka ini menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap layanan keuangan digital tersebut.

“Pada industri pinjaman daring, outstanding pembiayaan pada Februari 2026 tumbuh 25,75 persen year on year dengan nominal sebesar Rp 100,69 triliun,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman dalam konferensi pers daring pada Senin, 6 April 2026, dikutip dari Tempo.co. Adapun posisi tersebut meningkat dibandingkan Januari 2026 yang tumbuh sebesar 25,52 persen.

Adapun tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 tercatat sebesar 4,54 persen pada Februari 2026. Posisi tersebut meningkat dibandingkan Januari 2026 yang tercatat sebesar 4,38 persen.

Agusman menerangkan, piutang pembiayaan di perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 1,02 persen year on year menjadi Rp 512,14 triliun pada Februari 2026. Adapun rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,78 persen, meningkat dibandingkan Januari yang tercatat sebesar 2,72 persen. Sedangkan NPF net tercatat sebesar 0,81 persen, sedikit menurun dibandingkan Januari 2026 yang tercatat sebesar 0,82 persen.

Sementara itu, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 53,53 persen year on year menjadi Rp 12,59 triliun. Posisi tersebut melambat dibandingkan Januari yang tumbuh 71,13 persen year on year. Adapun NPF gross BNPL tercatat sebesar 2,79 persen, meningkat dibandingkan Januari yang tercatat sebesar 2,77 persen.

Sumber: Tempo.co

 

 

Berita Terkait
Berita Terkini