Konflik Global Picu Lonjakan Harga, Slamet: Indonesia Harus Percepat Kemandirian Pangan

Sukabumiupdate.com
Senin 06 Apr 2026, 22:53 WIB
Konflik Global Picu Lonjakan Harga, Slamet: Indonesia Harus Percepat Kemandirian Pangan

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, drh Slamet. | Foto: Istimewa/PKS.

SUKABUMIUPDATE.com - Anggota Komisi IV DPR RI, drh Slamet, menyoroti meningkatnya tekanan terhadap ketahanan pangan nasional akibat konflik geopolitik global. Lonjakan harga energi sebagai dampak utama konflik telah mendorong kenaikan biaya logistik dan produksi pangan dunia.

Dalam keterangan pada 4 April 2026, legislator asal daerah pemilihan Sukabumi itu menyebut Indonesia yang masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis menghadapi risiko ganda, yaitu kenaikan harga global dan pelemahan nilai tukar. Data menunjukkan Timur Tengah menyuplai sekitar 30 persen minyak dunia dan 20 persen jalur perdagangan global melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan kawasan tersebut langsung berdampak pada harga energi dan biaya pengapalan global.

"Tekanan paling signifikan terjadi pada komoditas pangan strategis. Indonesia mengimpor gandum sekitar 11 juta ton per tahun (100 persen impor) dengan risiko kenaikan harga global akibat lonjakan biaya energi dan logistik," kata dia, dikutip sukabumiupdate.com.

Baca Juga: Sempat Meluap, Talang Air di Cibadak Sukabumi Kini Dibersihkan

Lalu komoditas kedelai yang mencapai ±2,6 juta ton per tahun (70–80 persen impor) juga mengalami kenaikan harga global, tercatat mencapai sekitar USD 409,48 per ton pada Februari 2026, dipicu oleh kenaikan biaya pupuk dan transportasi. Sementara itu, impor gula industri yang ditargetkan mencapai 3,12 juta ton pada 2026 mengalami tren kenaikan harga global akibat meningkatnya biaya produksi berbasis energi. Adapun garam industri dengan kebutuhan impor sekitar 577 ribu ton per tahun juga terdampak kenaikan ongkos logistik dan energi yang mendorong harga global naik dan membebani industri turunan dalam negeri.

Selain komoditas pangan, lanjut Slamet sektor input produksi pun terdampak signifikan. Indonesia mengimpor LPG sekitar 8,5 juta ton per tahun, sedangkan produksi domestik hanya sekitar 1,3 juta ton, sehingga sangat bergantung pada pasar global. Gas yang menyumbang sekitar 70–80 persen biaya produksi pupuk nitrogen mengalami kenaikan harga seiring lonjakan energi global. Kondisi ini menyebabkan harga pupuk meningkat dan berimplikasi pada bertambahnya beban subsidi pemerintah.

"Risiko fiskal pun meningkat, termasuk potensi pembatasan volume pupuk subsidi yang pada akhirnya dapat menekan produktivitas petani dan memperburuk ketahanan pangan nasional," ujarnya mengingatkan.

Baca Juga: Razia Kamar di Lapas Sukabumi, Gunting-Kosmetik hingga Sikat Gigi Modifikasi Ikut Diamankan

Slamet menegaskan kondisi ini harus direspons dengan langkah strategis dan terukur. Pemerintah perlu mempercepat substitusi impor melalui pengembangan komoditas lokal seperti sorgum dan kedelai domestik, memperkuat cadangan pangan nasional, serta melakukan reformasi sistem logistik untuk menekan biaya distribusi.

Selain itu, perlindungan terhadap petani dan pelaku UMKM pangan harus diperkuat melalui jaminan pupuk subsidi dan dukungan pembiayaan. Diversifikasi negara sumber impor serta penguatan ekosistem pangan berbasis koperasi juga menjadi langkah penting.

“Krisis ini harus menjadi momentum untuk membangun kemandirian pangan nasional yang lebih kuat, resilien, dan berpihak kepada petani serta masyarakat,” tegasnya. (ADV)

 

Berita Terkait
Berita Terkini