SUKABUMIUPDATE.com - Sing Puriding, cerita pendek (cerpen) Sunda yang menceritakan kisah-kisah horor seputar urban legend yang berkembang di masyarakat Sunda. Kata “Sing Puriding” sendiri merupakan istilah yang sering digunakan orang sunda ketika sedang merasakan suasana horor dengan ditandai bulu kuduk meremang.
Perlu diingat jika “Sing Puriding” ini hanya cerita fiktif dan tidak juga didasarkan pada kejadian nyata, jadi murni hanya sebuah karangan belaka. Nah, untuk cerita SIng Puriding yang pertama ini, kita akan mengangkat cerita yang terinspirasi dari sebuah urban legend yang cukup terkenal di Sunda yaitu “Sandekala”.
Sandekala sendiri adalah mitos yang sudah lama menyebar dari mulut ke mulut mengenai makhluk halus atau jin yang keluar saat peralihan sore ke malam (wanci sareupna) atau saat maghrib. Sosok ini diyakini sering mengganggu anak-anak yang masih bermain di luar rumah saat hari mulai gelap.
Baca Juga: 6 Kisah Mistis yang Jadi Urban Legend Urang Sunda, Apa Kamu Percaya?
Menurut beberapa sumber, istilah ini berasal dari bahasa Sunda sande (bukan) dan kala (waktu) yang sering dikaitkan dengan pamali keluar rumah saat senja. Nah, langsung saja kita buka cerita Sing Puriding yang pertama dengan judul “Sandekala di Leuweung Hideung” (Sandekala di Hutan Hitam) dan ini bagian pertama, karena cerita ini masih ada lanjutannya.
Awal cerita, sore itu, langit di kaki gunung mulai berubah warna. Jingga perlahan memudar, digantikan abu-abu yang menggantung diam di atas leuweung (hutan).
Ujang belum juga pulang.
Padahal dari tadi siang, ibunya sudah mengingatkan,
“Tong nepi ka sandekala di luar, Jang…” (Jangan sampai waktu sandekala masih di luar, Jang)
Tapi seperti biasa, Ujang terlalu asyik mencari kayu bakar di pinggir hutan.
Saat ia sadar hari mulai gelap, suasana sudah berubah.
Sepi.
Bukan sepi biasa—sepi yang terasa “ngadengekeun” (seperti sedang mendengarkan).
Langkah Ujang mulai cepat.
Daun-daun kering yang diinjak terdengar lebih keras dari biasanya. Angin pun seperti berhenti.
Tiba-tiba…
“kres… kres…”
Ada suara lain. Bukan dari langkahnya.
Ujang berhenti. Suara itu ikut berhenti.
“Ah, paling sato…” (Ah, palingan binatang) gumamnya, mencoba menenangkan diri.
Ia melanjutkan jalan, lebih cepat.
“kres… kres…”
Suara itu muncul lagi. Sekarang lebih dekat.
Ujang menoleh pelan ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya bayangan pohon dan kabut tipis yang mulai turun.
Tapi entah kenapa… dadanya terasa berat.
Seperti ada yang memperhatikan.
Saat itulah ia melihat sesuatu di samping jalan.
Sebuah tikar tua. Tergulung. Kotor.
Tergeletak di antara akar pohon.
“Saha nu miceun samak di dieu…” (Siapa yang buang tikar di sini) pikirnya.
Ia hampir melangkah lewat.
Tapi…
tikar itu bergerak sedikit.
Pelan.
Seperti ada yang bernapas di dalamnya.
Ujang membeku.
Angin tiba-tiba berhembus dingin.
Daun-daun bergetar.Dan dari dalam gulungan tikar itu terdengar suara lirih…
“…jang…”
Ujang langsung lari.
Tanpa menoleh lagi.
Kayu bakar yang ia bawa jatuh berserakan di jalan.
Suara langkahnya berpacu dengan detak jantungnya.
Dan di belakangnya…
“kres… kres… kres…”
Masih mengikuti.
Saat ia sampai di ujung kampung, suara itu tiba-tiba hilang.
Seolah tidak pernah ada.
Hanya suara adzan magrib yang mulai terdengar dari surau.
Ibunya sudah menunggu di depan rumah.
Wajahnya tegang.
“Ti mana wae, Jang…?” (Darimana saja, Jang?)
Ujang tidak langsung menjawab.
Nafasnya masih terengah.
Ia hanya berkata pelan:
“Tadi… di leuweung… aya nu nuturkeun…” (Tadi, di hutan ada yang ngikutin)
Ibunya diam sejenak. Lalu menarik Ujang masuk ke rumah.
Dan berbisik pelan:
“Eta mah lain sato…” (Itu bukan binatang)
Sejak hari itu, Ujang tidak pernah lagi keluar rumah saat sandekala.
Dan warga kampung mulai kembali mengingatkan anak-anak mereka:
“Lamun geus sandekala… ulah ulin di luar.” (Kalau sudah waktu sandekala jangan main di luar.
Lanjut bagian 2.




