Antisipasi Puncak Kemarau, Pemprov Jabar Siaga Penuh Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Sukabumiupdate.com
Kamis 13 Agu 2026, 10:54 WIB
Antisipasi Puncak Kemarau, Pemprov Jabar Siaga Penuh Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Petugas Dishut Jabar saat menggelar patroli rutin di wilayah rawan Karhutla. (Sumber Foto: Humas Jabar)

SUKABUMIUPDATE.com - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau dengan memperketat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Jabar bersama sejumlah pihak terus mengintensifkan upaya mitigasi guna menekan potensi kebakaran yang kerap meningkat saat cuaca kering dan curah hujan rendah.

Kepala Dishut Jabar, Dodit Ardian Pancapana, mengatakan berbagai langkah preventif telah dilakukan, mulai dari patroli rutin di wilayah rawan hingga penguatan koordinasi lintas sektor.

​"Kami bersama berbagai pihak terus mengintensifkan patroli berkala di wilayah rawan, memantau kondisi tutupan hutan, menggalakkan sosialisasi edukatif, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi meminimalkan risiko karhutla," ujar Dodit dikutip dari siaran pers Humas Jabar, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, peran aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan karhutla. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghindari pembakaran sampah di sekitar kawasan hutan, memastikan api unggun benar-benar padam, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Baca Juga: Pascakebakaran Ciptamulya, Pemprov Jabar Dorong Pembenahan Jaringan Listrik di Kampung Adat

Selain itu, warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi atau titik api di kawasan hutan maupun lahan.

Dodit menjelaskan, kondisi cuaca kering, rendahnya curah hujan, serta menurunnya kadar air pada vegetasi membuat kawasan hutan dan lahan menjadi lebih rentan terbakar. Sebagian besar kejadian karhutla di Indonesia juga dipicu oleh aktivitas manusia dan faktor kelalaian.

"Dampak karhutla tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam habitat satwa liar, menurunkan kualitas tanah, meningkatkan emisi gas rumah kaca, serta memicu pencemaran udara yang berisiko bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia," katanya.

Ia menegaskan bahwa menjaga kelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama karena hutan memiliki fungsi penting sebagai penyedia air bersih, penyerap karbon, dan penyangga kehidupan.

"Menjaga kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan, penyedia air bersih, dan penyerap karbon merupakan tanggung jawab bersama," ujar Dodit.

BPBD Perkuat Kesiapsiagaan

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar juga memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Ali, mengatakan upaya yang dilakukan meliputi peningkatan pemantauan wilayah rawan kebakaran, penyebaran informasi peringatan dini, serta penguatan koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat.

Selain itu, BPBD terus mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area kering, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

"Kesiapsiagaan personel dan peralatan penanganan kebakaran juga terus diperkuat agar dapat melakukan respons cepat apabila terjadi kejadian," kata Teten.

Menurutnya, sinergi seluruh pihak menjadi kunci untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan serta memastikan penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu sehingga dampaknya terhadap masyarakat maupun lingkungan dapat diminimalkan.

Berdasarkan data BPBD Jabar per 10 Agustus 2026, tercatat 90 kejadian karhutla yang tersebar di 72 kecamatan di Jawa Barat.

Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 16 kasus, disusul Kabupaten Majalengka sebanyak 11 kasus, dan Kabupaten Bandung sebanyak 8 kasus. (adv)

Berita Terkait
Berita Terkini