Buka Suara, Suu Kyi Mengaku Bersedih Atas Krisis Warga Rohingya

[object Object]
Selasa 19 Sep 2017, 08:59 WIB
Buka Suara, Suu Kyi Mengaku Bersedih Atas Krisis Warga Rohingya

SUKABUMIUPDATE.com - Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, akhirnya berbicara menanggapi tindak kekerasan militer Myanmar terhadap warga etnis Rohingya di negara bagian Rakhine. Peraih penghargaan Nobel Perdamaian itu berbicara dalam sebuah pidato di televisi tentang krisis pengungsi warga etnis Rohingya, yang telah mengejutkan dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah menyatakan dengan tegas militer Myanmar melakukan pembersihan etnis.

Dalam pidato pertamanya terkait isu Rohingya ini, Suu Kyi mengaku bahwa dia telah mempersiapkkan perdamaian dan kesejahteraan masyarakat, termasuk warga etnis Rohingya, di negara bagian Rakhine.

"Bahkan sebelum krisis ini dimulai, kami telah memastikan bahwa pekerjaan pembangunan telah dimulai di Rakhine untuk kemakmuran semua orang. Kami menginginkan kedamaian dan kemajuan, kami bekerja untuk perdamaian, stabilitas dan peraturan hukum tanah," kata Suu Kyi, seperti yang dilansir NDTV pada 19 November 2017.

Suu kyi juga mengatakan pihaknya akan mengambil semua tindakan yang diminta dunia internasional untuk memastikan perdamaian tercipta di Rakhine dan Myanmar secara keseluruhan. “Kami juga akan menyelidiki mengapa begitu banyak warga Muslim yang melintasi perbatasan dan pergi ke Bangladesh,” kata Suu Kyi yang menghindari penyebutan nama etnis Rohingya.

Lebih lanjut Suu Kyi mengungkapkan kesedihannya atas penderitaan yang dirasakan warganya dari berbegai kelompok dan etnis di Rakhine. Dia Menambahkan pemerintah berkomitmen untuk pemulihan perdamaian, stabilitas dan supremasi hukum.

Pejuang demokrasi Myanmar itu juga mengatakan negaranya tidak takut dan khawatir terhadap semua pengawasan dunia internasional atas krisis Rohingya yang terjadi.

"Orang mengharapkan kita untuk membuat semuanya baik-baik saja dalam rentang waktu yang sangat singkat. 18 bulan adalah waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan krisis. Kita akan menghadapi tantangan dari waktu ke waktu," tegasnya.

Hampir 450 ribu etnis minoritas Muslim Rohingya telah menyelamatkan diri ke Bangladesh. Ini terjadi karena militer Myanmar dan kelompok milisi Buddha garis keras melakukan bumi hangus terhadap pemukiman dan desa-desa warga etnis Rohingya. Tindakan ini mengundang kecaman dunia internasional dan PBB.

Semua mata kini tengah menuju ke Aung San Suu Kyi sebagai pemimpin Myanmar yang selama ini hanya berdiam diri terhadap krisis Rohingya. Di Myanmar, Suu Kyi menempati posisi sebagai State Consellor atau semacam perdana menteri.

Penolakan Aung San Suu Kyi untuk membela warga etnis Rohingya secara terbuka selama hampir sebulan tindak kekerasan militer Myanmar telah membingungkan dan membuat marah masyarakat internasional, yang pernah menjadikannya sebagai juara perjuangan demokrasi.

Sumber: Tempo

Berita Terkini