Sahur Sendiri di Texas, Puasa Ramadan Pelajar SMA Al Bayan Sukabumi di Negeri Minoritas

Sukabumiupdate.com
Kamis 19 Mar 2026, 12:50 WIB
Sahur Sendiri di Texas, Puasa Ramadan Pelajar SMA Al Bayan Sukabumi di Negeri Minoritas

Jauh dari Kampung Halamannya, Arfa tetap menjalani Ramadan dengan penuh makna di Texas.

SUKABUMIUPDATE.com - Suasana Ramadan di Indonesia selalu dinantikan karena kehangatan dan kebersamaannya. Mulai dari riuhnya momen berburu takjil hingga syahdunya saat dibangunkan sahur oleh keluarga tercinta, semua itu menjadi memori indah yang takkan terlupakan.

Kini di Ramadan 1447 H, momen tersebut menjadi hal yang tak bisa dirasakan oleh Arfa Diya Athillah adalah seorang pelajar SMA Pesantren Unggul Al Bayan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, yang saat ini tengah mengikuti program pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) di negara bagian Texas, Amerika Serikat. 

DPMD Kabupaten Sukabumi.DPMD Kabupaten Sukabumi.

Selama sekitar tujuh bulan, Arfa telah tinggal di Amerika Serikat sebagai siswa pertukaran. Ia menetap di Texas, negara bagian yang dikenal dengan budaya koboi dan hidangan barbeque khasnya. Arfa tinggal di pinggiran kota Houston bersama seorang host dad dan seorang siswa pertukaran dari Italia. Sekolahnya merupakan public school yang berjarak sekitar 15 menit dari rumah.

Baca Juga: Lebaran Hari Ini, Jemaah DKM Abu Bakar Shidiq dan Almarkaz Sukabumi Idulfitri Lebih Awal

Kehidupan Arfa di Texas

Pengalaman tinggal bersama keluarga angkat menjadi salah satu hal paling berkesan bagi Arfa. Ia menggambarkan keluarganya sebagai sosok yang hangat dan penuh canda. Suasana rumah selalu dipenuhi tawa, dan mereka sering menghabiskan waktu dengan bepergian ke berbagai tempat baru. Dukungan dari keluarga angkat juga sangat terasa, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

“Aku sangat beruntung bisa mendapatkan keluarga yang begitu baik dan suportif, mereka selalu mendukung hal yang aku lakukan, salah satunya adalah dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan,” dikutip dalam keterangan, Kamis (19/03/2026).

Ramadan tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda bagi Arfa. Untuk pertama kalinya, ia menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga dan teman-temannya di Indonesia.

Tidak ada suara azan magrib dari masjid terdekat, tidak ada jajanan khas seperti bala-bala dan mi glosor, serta tidak ada sosok ibu yang membangunkan sahur. Rasa rindu pun kerap muncul, terutama saat melihat unggahan keluarga dan teman di media sosial.

“Biasanya Ramadan adalah bulan yang paling aku tunggu-tunggu, yang aku anggap sebagai the best time of the year,” ungkap remaja asal Bogor tersebut.

Baca Juga: Waspada! Bahaya Terlalu Banyak Makan Makanan Bersantan Saat Lebaran

Meski demikian, makna Ramadan tetap sama bagi Arfa: bulan penuh keberkahan, kasih sayang, serta kesempatan untuk meningkatkan kesabaran dan ketakwaan meskipun kini ia harus menjalaninya sendirian.

Arfa saat bersama host family atau keluarga angkatnya di Amerika.Arfa saat bersama host family atau keluarga angkatnya di Amerika.

Rutinitas Puasa di Amerika

Di Texas, saat peralihan musim dingin ke musim semi, Arfa menjalani puasa selama 12–13 jam setiap hari, durasi yang tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Untuk sahur, ia harus berjuang keras bangun sendiri. Arfa bahkan memasang hingga 10 alarm sekaligus. Ia juga mengandalkan Alexa, asisten virtual, yang harus ia matikan dengan perintah suara. 

“Aku harus berteriak “Alexa, stop!”, agar berhenti, ujarnya”. Bahkan sesekali, ibunya di Indonesia turut menelepon untuk memastikan ia tidak kesiangan.

Karena menjadi satu-satunya yang berpuasa di rumah, Arfa harus menyiapkan makanan sahur sendiri. Menu yang dibuat pun bervariasi, mulai dari eggs benedict, kentang goreng dengan beef hot dog, scrambled egg, hingga nasi goreng. Namun jika waktu mepet, Indomie menjadi pilihan utama yang selalu mengingatkannya pada kampung halaman.

Toleransi dan Dukungan Lingkungan

Sebagai seorang Muslim di Amerika, Arfa merasa bersyukur karena tidak pernah mengalami diskriminasi. Justru sebaliknya, teman-temannya di sekolah menunjukkan rasa ingin tahu yang positif tentang Islam, sehingga tercipta ruang diskusi yang penuh toleransi.

Di lingkungan rumah dan sekolah, ia belum menemukan orang lain yang juga berpuasa. Namun, keluarga angkatnya sangat mendukung. Mereka memahami bahwa Arfa tidak makan dan minum di siang hari, membantu mengatur jadwal agar ia bisa berbuka tepat waktu, bahkan sering membelikan makanan untuk berbuka.

Baca Juga: H-3 Arus Mudik Sukabumi Melonjak: 2.400 Kendaraan Padati Tol Bocimi Seksi 3

Masjid dan Aktivitas Keagamaan Arfa

Di sekitar Houston, terdapat sebuah masjid bernama Masjid Istiqlal Houston yang didirikan oleh komunitas Muslim Indonesia. Di sana, Arfa bisa bertemu dengan sesama Muslim, termasuk banyak orang Indonesia. Selama Ramadan, masjid ini mengadakan berbagai kegiatan seperti pembagian jajanan untuk buka bersama.

Sementara itu, untuk salat tarawih, ia biasanya melaksanakannya sendiri di kamar karena keterbatasan transportasi dan jaraknya yang cukup jauh sehingga jarang dikunjungi. Namun Arfa berencana melaksanakan salat Idul Fitri di sana. 

Dalam kesempatan lain, Arfa juga sempat berbagi pengalamannya dalam kesendiriannya:

“Menjelang waktu berbuka, aku biasanya menyiapkan makanan ringan seperti sepotong pizza dan susu. Setelah itu, aku pergi ke masjid Isa Ibnu Maryam yang berjarak sekitar 20 menit dari rumah,” ucapnya.

Di masjid tersebut, Arfa merasakan sambutan yang hangat. Ia disuguhi makanan dan minuman gratis layaknya tamu istimewa. Meskipun masjidnya tidak besar, suasananya terasa nyaman dan menenangkan. Ia kemudian mengikuti salat isya dan tarawih selama sekitar satu setengah jam, serta mendengarkan kajian singkat dari syekh setempat.

Menjalani Ramadan di lingkungan non-Muslim tentu memiliki tantangan tersendiri. Arfa tetap harus menjalani aktivitas seperti biasa, termasuk saat jam makan siang di sekolah, di mana ia tetap duduk bersama teman-temannya di kafetaria tanpa makan.

Ia juga tetap mengikuti pelajaran olahraga seperti sepak bola, basket, dan aktivitas gym dalam kondisi berpuasa. Meski terasa lelah, pengalaman ini mengajarkannya arti komitmen dan kesabaran.

Bagi Arfa, mengikuti program pertukaran pelajar bukan hanya tentang belajar di sekolah Amerika, tetapi juga tentang membawa identitas sebagai Muslim Indonesia ke lingkungan yang berbeda.

Ramadan kali ini memberinya pemahaman baru tentang arti kehidupan dan makna rumah yang sesungguhnya. Ia menyadari bahwa esensi Ramadan tidak bergantung pada tempat.

“Meskipun berbeda, aku belajar bahwa makna Ramadan jauh lebih luas dari sekadar suasana yang biasa kita rasakan di Indonesia.”

Di mana pun berada, Ramadan tetap menjadi bulan penuh keberkahan dan rahmat yang selalu menghadirkan cerita-cerita baru yang istimewa.

“Semoga Ramadan selalu memberikan kita keberkahan di mana pun kita berada.”

Sebagai informasi, program pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) ini merupakan beasiswa berbasis prestasi yang ditujukan bagi siswa SMA berusia 15–17 tahun untuk menghabiskan satu tahun akademik di Amerika. Para peserta tinggal bersama keluarga angkat, bersekolah di SMA setempat, mengembangkan keterampilan kepemimpinan, serta memperkenalkan budaya negara asal kepada masyarakat Amerika.

 

Berita Terkait
Berita Terkini