SUKABUMIUPDATE.com - Kuliner tradisional bukan sekadar pemuas rasa, melainkan juga simbol identitas suatu bangsa. Bagi masyarakat Melayu Patani di Thailand Selatan, simbol tersebut salah satunya mewujud dalam sebotol Budu, saus pelengkap makanan tradisional yang memiliki peranan penting dalam kebudayaan mereka.
Dikutip dari Tasteatlas, Budu dikenal sebagai saus fermentasi ikan dengan cita rasa asin gurih yang pekat dan aroma yang khas. Di wilayah Thailand Selatan, pelengkap hidangan ini lazim disajikan bersama aneka kuliner lokal, terutama menu ikonik Nasi Kerabu.
Secara historis, Budu lahir dan berkembang di kawasan pesisir yang dihuni oleh masyarakat Melayu, meliputi Kelantan dan Terengganu di Malaysia, serta Pattani, Yala, dan Narathiwat di Thailand Selatan. Berawal dari kearifan lokal masyarakat nelayan purba yang memanfaatkan garam untuk mengawetkan hasil tangkapan ikan kecil yang melimpah, metode ini berevolusi menjadi warisan kuliner yang melegenda.
Baca Juga: Mengenal Nasi Kerabu: Kuliner Biru Pemersatu Melayu Serumpun di Malaysia dan Thailand Selatan
Di wilayah gajah putih, saus penambah nafsu makan ini bahkan jamak dikenal dalam literatur lokal dengan nama “บูดู-Budu”. Nomenklatur tersebut merujuk pada saus fermentasi ikan tradisional yang menjadi pengikat rasa bagi budaya masyarakat Melayu Muslim di kawasan tersebut.
Seni Meracik Resep Tradisional Budu
Membuat Budu membutuhkan kesabaran karena mengandalkan proses biologi alami. Berikut adalah bahan-bahan baku dan metode pembuatan Budu secara tradisional:
Bahan Utama Komponen Fermentasi:
- 1 kilogram ikan teri (atau jenis ikan laut berukuran kecil lainnya)
- 200 gram garam krosok (garam kasar)
- Air bersih secukupnya
- Bahan Racikan Penyajian (Sambal Budu):
- Cabai rawit merah (sesuai selera, iris tipis)
- Bawang merah (iris tipis)
- Jeruk nipis (peras airnya)
- Sedikit gula merah
- Air hangat secukupnya
Baca Juga: Mengintip Hikayat Patani: Sejarah Kerajaan Melayu Patani, Jejak Islam dan 4 Ratu Penguasa
Tahapan Pembuatan: Dari Kandungan Garam hingga Fermentasi Bulanan
- Membersihkan Ikan: Ikan laut kecil yang telah disiapkan dicuci bersih di bawah air mengalir untuk menghilangkan kotoran dan menekan aroma amis yang berlebih. Setelah itu, ikan wajib ditiriskan agar kadar air berkurang.
- Proses Penggaraman: Ikan dicampur dengan garam kasar secara merata. Tahapan penggaraman ini bertujuan membantu proses fermentasi alami sekaligus menjaga ketahanan bahan makanan dari bakteri pembusuk.
- Proses Fermentasi: Campuran ikan dan garam dimasukkan ke dalam wadah atau tempayan tanah liat yang tertutup rapat. Wadah ini disimpan dalam kurun waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Selama masa itu, daging ikan akan hancur dan mengekstraksi cairan pekat beraroma khas.
- Penyaringan Akhir: Setelah masa fermentasi dirasa matang, cairan pekat tersebut disaring dengan kain halus untuk memisahkannya dari ampas sisa tulang ikan, menghasilkan saus Budu murni yang bertekstur mulus.
Cara Menikmati Budu ala Masyarakat Patani
Masyarakat Melayu Patani jarang mengonsumsi Budu secara langsung dari botol. Sebelum dihidangkan di meja makan, cairan Budu umumnya diracik terlebih dahulu menjadi sambal dengan mencampurkan irisan cabai rawit, bawang merah, serutan gula merah, dan kucuran jeruk nipis segar agar rasanya seimbang antara asin, pedas, manis, dan asam.
Sambal Budu ini menjadi pelengkap wajib yang ampuh menambah selera makan, terutama saat disandingkan dengan:
- Nasi Kerabu (Nasi biru khas Melayu)
- Sepiring nasi putih hangat
- Ikan laut bakar
- Ulam-ulaman (Lalapan mentah tradisional)
- Lauk-pauk khas Melayu lainnya
Bagi entitas Melayu Patani di Thailand Selatan, Budu adalah pengingat akan asal-usul mereka. Keberadaannya yang tak lekang oleh waktu membuktikan bahwa sebotol saus tradisional mampu menjadi jangkar budaya yang menghubungkan kehidupan pesisir, tradisi leluhur, dan identitas melayu di tengah keberagaman Asia Tenggara.
Penulis: Is-Ma-Ae Tahlohding, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi





