SUKABUMIUPDATE.com – Di tengah maraknya tren belanja pakaian secara online, Iwan (40), warga Kampung Puncak Manggu, Desa Balekambang, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, tetap bertahan mencari nafkah sebagai tukang jahit keliling. Selama hampir dua tahun terakhir, ia menawarkan jasa vermak atau perbaikan pakaian dengan berkeliling menggunakan sepeda motor Honda Supra.
Setiap hari, Iwan mulai berkeliling sejak pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Berbekal mesin jahit dan keterampilan yang dimilikinya, ia menyambangi kampung demi kampung untuk melayani berbagai kebutuhan pelanggan, mulai dari mengecilkan celana, memperbaiki pakaian sobek, mengganti resleting, hingga berbagai jenis reparasi pakaian lainnya.
"Kalau lagi ramai, sehari bisa dapat sekitar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu, itu juga masih penghasilan kotor. Tapi tidak menentu, tergantung banyaknya pelanggan," ujar Iwan kepada Sukabumiupdate.com, Selasa (21/7/2026).
Baca Juga: Rumah Elin di Cibodas Palabuhanratu Ludes Terbakar, Diduga Dipicu Korsleting Listrik
Sebelum menjadi tukang jahit keliling, Iwan pernah bekerja di salah satu usaha konveksi di kawasan Tanah Abang, Jakarta, sekitar tahun 2000. Pengalaman itu menjadi bekal yang terus dimanfaatkannya untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya.
Selain jasa vermak, Iwan juga masih menerima pesanan pembuatan baju maupun celana di rumahnya. Namun, saat berkeliling ia memilih hanya melayani jasa vermak agar pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan bisa menjangkau lebih banyak pelanggan.
"Kalau di rumah masih menerima bikin baju atau celana, meski sekarang sudah jarang. Tapi kalau keliling begini khusus perbaikan atau vermak saja," katanya.
Baca Juga: Surga Pecinta Manis, 15 Toko Roti dan Kue di Sukabumi dengan Harga Terjangkau
Menurut Iwan, perubahan pola belanja masyarakat turut memengaruhi profesinya. Semakin banyak orang membeli pakaian secara online sehingga permintaan pembuatan pakaian baru tidak lagi sebanyak dulu. Kondisi itu membuatnya beradaptasi dengan lebih fokus menawarkan jasa vermak keliling.
"Sekarang kan banyak yang beli baju online, jadi saya lebih memilih jahit keliling. Alhamdulillah masih ada yang membutuhkan jasa vermak," tuturnya.
Meski penghasilannya tidak selalu stabil, Iwan tetap optimistis menjalani profesinya. Bersama istri dan dua anak yang menjadi tanggungannya, ia berharap keterampilan menjahit yang telah ditekuni selama puluhan tahun dapat terus menjadi sumber rezeki bagi keluarganya.
Baca Juga: Pekerja Bangunan asal Palabuhanratu Diduga Tersengat Listrik dan Jatuh dari Ketinggian
Bagi Iwan, profesi sebagai tukang jahit keliling bukan sekadar mata pencaharian, melainkan bentuk perjuangan untuk bertahan di tengah perubahan zaman. Selama masih ada pakaian yang perlu diperbaiki, ia akan terus berkeliling menawarkan jasa vermak kepada masyarakat di wilayah Pajampangan.














