SUKABUMIUPDATE.com - Di tengah kehidupan yang serba terhubung, melihat orang lain bepergian, berkumpul, mengikuti tren, hingga mencoba berbagai aktivitas baru hanya dengan membuka media sosial sudah menjadi hal biasa.
Kondisi ini terkadang membuat seseorang merasa takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out). Namun, ada istilah lain yang justru mengajak kita menikmati keadaan ketika tidak ikut dalam berbagai hal tersebut, yakni JOMO (Joy of Missing Out).
Lantas, apa sebenarnya JOMO dan bagaimana konsep ini bisa membuat hidup terasa lebih tenang?
Baca Juga: Goa Putih Sukabumi, Wisata Alam Tersembunyi di Hutan Gunung Walat untuk Pecinta Susur Goa
Apa itu JOMO?
Mengutip dari jurnal berjudul Fenomena Joy of Missing Out (JoMO) Pada Komunitas Lyfe With Less Dalam Kampanye #SalingSilang yang ditulis mahasiswi Universitas Bakrie, JOMO merupakan singkatan dari Joy of Missing Out.
Kata JOMO sendiri bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesenangan atau kebahagiaan karena tidak ikut dalam sesuatu.
Istilah ini muncul sebagai kebalikan dari FOMO (Fear of Missing Out). Seperti kita tahu jika FOMO membuat seseorang takut tertinggal dari tren, aktivitas, atau kehidupan orang lain, JOMO justru mengajarkan seseorang untuk merasa nyaman ketika memilih tidak ikut.
Misalnya, ketika media sosial dipenuhi foto orang-orang yang sedang liburan, seseorang dengan pola pikir FOMO mungkin berpikir untuk sesegera mungkin pergi liburan juga.
Sementara orang yang menerapkan JOMO bisa berpikir kebalikannya. Mereka tidak segan untuk tidak mengikuti apa yang dilakukan kebanyakan orang dan lebih memilih melakukan apa yang membuat mereka nyaman.
Baca Juga: Wanci Carangcang Tihang Jam Berapa? Mengenal Penanda Waktu Orang Sunda
JOMO bukan berarti antisosial
JOMO bukan berarti seseorang tidak mau bertemu orang lain, membenci media sosial, atau sengaja mengisolasi diri.
JOMO lebih berkaitan dengan kemampuan untuk menentukan apa yang memang ingin dilakukan dan apa yang sebenarnya tidak perlu diikuti.
Seseorang bisa saja tetap aktif bersosialisasi, tetapi tidak merasa bersalah ketika sesekali mengatakan “tidak” pada ajakan atau tren.
Kenapa JOMO semakin relevan?
Media sosial membuat kita hampir selalu mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain. Teman sedang nongkrong, seseorang sedang traveling, ada konser yang ramai, atau sebuah tren sedang viral—semuanya bisa muncul dalam hitungan detik di layar ponsel.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa hidupnya kurang menarik dibandingkan orang lain.
Di sinilah JOMO menjadi relevan. Alih-alih terus mengejar apa yang dilakukan orang lain, seseorang belajar untuk memusatkan perhatian pada pengalaman dan kebutuhan dirinya sendiri.
Contoh JOMO dalam kehidupan sehari-hari
JOMO sebenarnya bisa dilakukan melalui hal-hal sederhana, seperti:
- Memilih tidur lebih awal daripada ikut nongkrong.
- Tidak membeli barang hanya karena sedang viral.
- Tidak membuka media sosial ketika sedang ingin menikmati waktu sendiri.
- Menolak ajakan yang memang tidak ingin diikuti.
- Tidak merasa harus mengetahui semua tren terbaru.
- Menikmati akhir pekan di rumah tanpa merasa hidup sedang tertinggal.
- Membiarkan pesan atau notifikasi tidak langsung dibalas ketika sedang membutuhkan waktu pribadi.
Jadi, kalau FOMO lebih banyak dipengaruhi oleh rasa takut kehilangan kesempatan, JOMO lebih dekat dengan kesadaran memilih.
JOMO juga bukan berarti seseorang harus selalu menolak ajakan. Kalau memang ingin pergi bersama teman, ya pergi.
Jika ingin mengikuti tren, silakan ikut. Intinya adalah pilihan tersebut dibuat karena memang kita menginginkannya, bukan karena takut dianggap ketinggalan.













