SUKABUMIUPDATE.com - Nada-nada lagu anak kembali memenuhi panggung pertunjukan di Sukabumi malam itu. Lagu seperti Naik Delman, Naik Kereta Api, hingga Kupu-Kupu yang Lucu dibawakan dalam balutan teater musikal bertajuk Ibu Sud (Ibu Soed): Senada Senandika.
Di atas panggung, seorang perempuan muda memainkan biola sambil memerankan Saridjah Niung atau Ibu Sud, tokoh pencipta lagu anak yang selama ini dikenal luas di Indonesia. Lewat pertunjukan itu, Sukabumi seperti sedang memanggil pulang salah satu tokoh penting yang lahir dari kotanya sendiri.
Mengangkat Sosok Ibu Sud dari Sukabumi
Sutradara sekaligus penulis pertunjukan, Den Aslam, mengatakan tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa Ibu Sud lahir dan tumbuh di Sukabumi. “Hari ini kita mementaskan musikal Ibu Sud. Yang mana Ibu Sud itu lahir dan tumbuh di sini, di Sukabumi,” ujar Den Aslam usai pertunjukan kepada sukabumiupdate.com, Minggu malam (18/5/2026).
Baca Juga: Kreatif, SDN Pakujajar CBM Kota Sukabumi Bikin Video Tarian India Sambut SPMB 2026
Menurutnya, pertunjukan tersebut bukan sekadar nostalgia lagu anak, tetapi juga upaya menghidupkan kembali nilai pendidikan dan karakter yang terkandung dalam lagu-lagu karya Ibu Sud. “Generasi sekarang kan masih sangat kekurangan lagu-lagu anak,” katanya.
Di tengah dominasi lagu viral media sosial, Den Aslam mencoba menghadirkan kembali lagu-lagu Ibu Sud dengan aransemen yang lebih segar dan dekat dengan generasi muda.
“Kalau kita secara masif di dunia teater dan kesenian menggaungkan kembali lagu-lagu ini, me-remix kembali lagu-lagu yang secara aransemen sudah jadul tapi kita bikin fun dan populer, itu salah satu alternatif memperjuangkan kemurnian anak-anak Indonesia,” lanjutnya.
Baca Juga: More Than Cooking, It’s a Style: Miyako Perkenalkan Rice Cooker Limited Edition
Proses Riset dan Mencari Jejak Ibu Sud
Untuk menghidupkan sosok Ibu Sud di atas panggung, Den Aslam harus melakukan riset literatur mendalam. Ia menelusuri buku biografi lama terbitan Depdikbud yang memuat perjalanan hidup Ibu Sud.
Dari buku tersebut, diketahui Ibu Sud berasal dari keluarga keturunan Bugis dan tinggal di kawasan Jalan Kaum, wilayah Cikole, Kota Sukabumi. Selain riset literatur, tim produksi juga mencoba menelusuri keluarga Ibu Sud yang masih ada di Sukabumi maupun Jakarta.
Tokoh Ibu Sud diperankan oleh Ghaisan Insyira atau Cancan, perempuan 20 tahun asal Sukabumi yang ternyata baru pertama kali bermain teater musikal. Mahasiswi semester akhir Politeknik Sukabumi itu sebelumnya lebih dekat dengan dunia musik dan permainan biola.
Baca Juga: Sempat Dikira Mayat, Perempuan Warga Kabandungan Pulang Paksa dari RSUD Sekarwangi
Lagu seperti Naik Delman, Naik Kereta Api, hingga Kupu-Kupu yang Lucu dibawakan dalam balutan teater musikal bertajuk Ibu Sud: Senada Senandika.
“Ini sebetulnya juga pertama kali saya ikut teater musikal ini,” ujar Cancan.
Ia mengaku harus mempelajari karakter Ibu Sud melalui buku biografi dan berbagai riset lainnya. Menurutnya, Ibu Sud merupakan perempuan dengan karakter kuat dan berbeda dari perempuan pada zamannya. “Karakter Ibu Sud itu lebih keras, agak tomboi juga,” katanya.
Selama proses latihan, Cancan bersama para pemain lain membangun chemistry melalui pembacaan naskah, latihan rutin, hingga kebersamaan di luar panggung.
Baca Juga: Bapperida Optimistis 31 Desa Wisata Mampu Dongkrak Ekonomi Warga Sukabumi
Membawa Pulang Ingatan Tentang Lagu Anak
Sedikitnya 13 lagu karya Ibu Sud ditampilkan dalam pertunjukan tersebut. Lagu-lagu yang dahulu identik dengan ruang kelas taman kanak-kanak kini hadir lebih dramatik melalui perpaduan musik, dialog, dan tata panggung.
Bagi Cancan, lagu-lagu Ibu Sud bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana menanamkan rasa cinta tanah air kepada anak-anak Indonesia. “Ibu Sud itu menanamkan kepada diri kita kalau negeri kita itu lebih indah dan kita tidak boleh dijajah,” ucapnya.
Di kota tempat Ibu Sud dilahirkan lagu-lagunya malam itu kembali menemukan rumahnya. Sedikit catatan, Ibu Sud lahir 26 Maret 1908 dengan nama Saridjah Niung di Sukabumi, Jawa Barat, Hindia Belanda saat itu (Belum Indonesia).
Baca Juga: Antisipasi Pelajar Titipan, Disdikbud Kota Sukabumi: SPMB 2026 Berbasis Aplikasi
Beliau meninggal dunia tahun 1993 di Jakarta dan dimakamkan di TPU Menteng Pulo II, Jakarta Unit Islam (Blok AAI, Blad 091, Petak 0255). Suaminya adalah Raden Bintang Soedibjo (1927–1954). Sedangkan bapaknya bernama Mohamad Niung (seorang pelaut Bugis) dan ibu bernama Saini.


