Dua Tahun Rumah Ambruk Akibat Gempa, Warga Sukabumi Kini Kehilangan BPJS karena Desil

Dua Tahun Rumah Ambruk Akibat Gempa, Warga Sukabumi Kini Kehilangan BPJS karena Desil

Herti (46 tahun), warga Kampung Jayanti, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, berdiri di rumahnya yang rusak akibat dampak gempa bumi pada 2024. | Foto: SU/Ilyas Supendi

SUKABUMIUPDATE.com - Kehidupan Herti (46 tahun), warga Kampung Jayanti, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, memprihatinkan. Rumahnya ambruk akibat dampak gempa bumi pada 2024. Dua tahun berlalu, ia mengaku belum menerima bantuan untuk memperbaiki tempat tinggalnya.

Sebagian bangunan rumah Herti saat ini terbuka tanpa atap. Bagian kamar tidur yang sekarang, tidak bisa dijadikan tempat beristirahat. Lalu dapur hingga kamar mandi mengalami kerusakan. Sementara itu, bagian rumah yang masih berdiri juga dalam kondisi mengkhawatirkan karena atap dan plafonnya telah rusak dan lapuk.

Saat hujan turun, air merembes masuk ke dalam rumah. Lantai hingga barang-barang milik Herti, termasuk pakaian dan kasur, kerap basah akibat kebocoran tersebut.

Di tengah kondisi itu, Herti mengaku belum mampu memperbaiki rumahnya karena keterbatasan ekonomi. Terlebih, suaminya meninggal dunia pada 5 April 2025, sehingga dia harus menjalani kehidupan sebagai janda dengan dua anak.

Herti (46 tahun), berdiri di rumahnya yang ambruk akibat dampak gempa bumi pada 2024. | Foto: SU/Ilyas SupendiHerti (46 tahun) berdiri di rumahnya yang ambruk akibat dampak gempa bumi pada 2024. | Foto: SU/Ilyas Supendi

Baca Juga: Rp 2,7 Triliun dan Jalan Panjang Memulihkan Sukabumi dari Bencana

Herti mengatakan kerusakan rumahnya bermula setelah gempa bumi pada 2024. Saat itu, guncangan membuat bagian tempat tinggalnya mengalami retakan sebelum akhirnya ambruk.

"Asalnya gempa, yang besar itu waktu ada isu tsunami, kan besar banget ya, retak kamar yang di dekat dapur, retaknya banget sama kamar yang ini. Ya, mungkin karena bocor, retak jadi air sering masuk," kata dia ditemui di rumahnya pada Minggu (11/10/2026).

Peristiwa ambruknya bangunan itu terjadi pada malam hari, menjelang waktu salat Isya. Ketika kejadian, Herti sedang berada di rumah ibunya, sedangkan suaminya saat itu sedang bekerja sebagai pengemudi ojek pangkalan.

Dia mengetahui rumahnya ambruk setelah mendapat kabar dari tetangga. "Dari tetangga ngasih tahu. Itu rumah katanya, 'ambruk dapurnya'. Bunyinya kan sampai kayak orang gempa besar gitu ya, bruk gitu," tutur dia.

Herti kemudian bergegas pulang untuk melihat kondisi rumah. Namun, pemandangan bangunan yang ambruk membuatnya tak kuasa menahan kesedihan hingga pingsan. "Udah banyak orang, terus kan saya enggak kuat, jadi saya pingsan," ucapnya.

Setelah sadar, Herti mengaku kebingungan memikirkan nasib keluarganya. Penghasilan keluarga yang terbatas membuatnya tidak memiliki cukup uang untuk membangun kembali rumah yang rusak.

"Aduh, ya Allah, gimana ya? Ah, bleng weh pikiran gitu, rumah roboh, uang enggak punya, gitu, suami usaha cuma ngojek, anak cuma ya jadi (guru) honorer, gitu, gimana ngumpulin uang buat bangun lagi, gitu," katanya.

Belum Terima Bantuan Perbaikan Rumah

Sejak kejadian pada 2024 hingga Oktober 2026, Herti mengaku belum mendapatkan bantuan untuk memperbaiki kerusakan fisik rumahnya. Bantuan yang pernah diterimanya hanya berupa sembako.

Dia mengaku sempat mendapat informasi bahwa bantuan perbaikan rumah akan diupayakan. Namun hingga kini, bantuan tersebut belum diterimanya. "Ya kan bilangnya nanti ada, insya Allah bantuan turun, gitu ya. Saya mah cuma berharap mudah-mudahan aja dapat, gitu. Kalau sekarang kan suami sudah enggak ada," ujarnya.

Kondisi ekonomi Herti juga membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus memperbaiki tempat tinggalnya. Dia berharap ada pihak yang bersedia membantu, baik berupa material bangunan maupun bantuan lainnya.

"Yah, seorang ibu mengkhawatirkan, kan tinggal sama anak, apalagi mau memasuki musim hujan pasti pada bocor, enggak punya uang buat betulinnya, cuman berharap sama Allah aja. Mudah-mudahan ada tangan-tangan dermawan yang terketuk hatinya buat bantuan, apa aja gitu berupa bahan atau apa aja," ungkap dia.

Untuk mengantisipasi air hujan, Herti pernah memasang terpal di bagian kamar mandi. Namun, terpal tersebut tidak bertahan lama karena mudah sobek sehingga harus diganti.

Sementara itu, bagian atap dan plafon rumah yang masih tersisa juga mulai lapuk. Kerusakan tersebut membuat Herti semakin khawatir setiap kali hujan turun.

Baca Juga: BPJS Non Aktif Gegara Desil, Dinkes Kabupaten Sukabumi Sisir Pasien Penyakit Katastropik

Tak hanya itu, Herti mengaku tidak menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Dengan kondisi yang saat ini sering sakit-sakitan, ia juga menyebut kepesertaan BPJS Kesehatan yang sebelumnya dimiliki, kini sudah tidak aktif.

Menurut Herti, dirinya mendapat pemberitahuan bahwa kepesertaan BPJS Kesehatan PBI tidak lagi aktif sejak Desember 2025 lalu karena masuk kategori desil yang lebih tinggi.

"Dulu dapat, kalau sekarang katanya kan desilnya tinggi, jadi ada pemberitahuan bahwa BPJS saya sudah enggak aktif. Dari Desember enggak aktifnya," katanya.

Herti mengaku mengetahui dirinya masuk desil 7 setelah ada pendataan yang dilakukan petugas. Dia mengatakan petugas sempat datang untuk melihat dan memotret kondisi rumahnya.

Meski demikian, Herti berharap kondisi rumah dan keadaan ekonominya dapat menjadi perhatian agar dirinya bisa memperoleh bantuan yang dibutuhkan.

"Iya, pengin diperbaiki. Bantuannya dari mana aja. Dari mana aja, gitu. Enggak dari anak juga mudah-mudahan dari mana aja bantuannya," kata dia.

Berita Terkini