SUKABUMIUPDATE.com – Di balik sunyinya Kampung Ciherang, RT 19/07, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, tersimpan kisah pilu tentang perjuangan hidup sebuah keluarga yang bertahan di tengah keterbatasan.
Pasangan suami istri, Sodikin (49) dan Lilis (46), menjalani hari-hari mereka di sebuah rumah semi permanen berukuran 6 x 9 meter yang kondisinya nyaris roboh. Dinding bilik bambu yang telah usang tampak rapuh dimakan waktu. Sementara atap dari bambu dan kayu terlihat lapuk, bahkan di beberapa bagian sudah bolong, membiarkan angin dan air hujan leluasa masuk ke dalam rumah.
Dari luar, rumah itu mungkin tampak seperti hunian sederhana pada umumnya. Namun siapa sangka, di baliknya tersimpan cerita tentang keteguhan hati seorang istri dan kepasrahan seorang suami yang tak lagi mampu menjalani hidup seperti dulu.
Baca Juga: Update Kasus Kematian Nizam: Susul Ibu Tiri, Ayah Kandung Resmi Jadi Tersangka
Sejak tahun 2018, Sodikin terpaksa menghentikan aktivitasnya sebagai pencari nafkah akibat penyakit tulang yang dideritanya. Rasa sakit yang terus menghantui membuatnya hanya bisa terbaring dan berdiam diri di rumah, sementara peran sebagai tulang punggung keluarga kini sepenuhnya diemban oleh Lilis.
“Iya, saya hanya bisa pasrah. Alhamdulillah untuk kebutuhan sehari-hari, istri saya yang mencari nafkah sebagai kuli serabutan,” ujar Sodikin kepada Sukabumiupdate.com, Senin (20/4/2026), dengan nada lirih.
Menurut keterangan medis, Sodikin mengalami keropos tulang yang memicu rasa nyeri berkepanjangan. Derita yang tak kunjung reda itu bahkan sempat mengguncang mentalnya hingga ia melakukan tindakan nekat.
“Dulu saya pernah menyayat bagian bokong pakai pisau karena kesal dengan kondisi ini,” ungkapnya.
Di tengah himpitan keadaan, Lilis berdiri sebagai sosok yang tak tergoyahkan. Dengan segala keterbatasan, ia tetap melangkah, bekerja serabutan demi memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga terpenuhi.
“Saya sebagai istri menerima kondisi ini. Ini sudah nasib kami. Sekarang saya yang mencari untuk keluarga,” kata Lilis.
Baca Juga: 28 Ucapan Hari Kartini dalam Bahasa Sunda Cocok Untuk Caption Media Sosial
Cobaan keluarga ini kian berat ketika anak sulung mereka kembali pulang setelah mengalami perceraian. Kini, enam orang harus berbagi ruang sempit di rumah yang kian rapuh, menghadapi hari-hari dengan segala keterbatasan.
“Kami hidup seadanya. Anak sulung kembali lagi ke keluarga setelah bercerai, jadi sekarang kami tinggal enam orang,” tambah Sodikin.
Di tengah kondisi yang serba sulit, secercah harapan masih menyala. Harapan itu bertumpu pada anak kedua mereka, Alya, yang memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMK.
“Satu-satunya harapan kami ada di pundak anak kedua kami yang ingin terus sekolah,” tutur Lilis, penuh harap.
Sementara itu, Ketua RT setempat, Duden, menyampaikan bahwa keluarga Sodikin telah terdaftar sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan telah mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.
“Alhamdulillah, ada bantuan sosial yang diterima keluarga Sodikin,” singkatnya.
Meski bantuan telah datang, kondisi rumah yang semakin reyot menjadi ancaman nyata bagi keselamatan mereka. Di tengah segala keterbatasan, keluarga ini masih menanti uluran tangan dan perhatian lebih lanjut, khususnya untuk memperbaiki tempat tinggal agar mereka dapat hidup dengan lebih layak dan aman.




