Jangan Buang Kulit Durian! Mengenal Briket Bioarang Si Raja Buah

Sukabumiupdate.com
Sabtu 26 Sep 2026, 15:56 WIB
Jangan Buang Kulit Durian! Mengenal Briket Bioarang Si Raja Buah

Berjejer Durian Segar Menanti di Kios Durian Cikakak Abah Ucup di Citepus Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: SU/Ilyas)

SUKABUMIUPDATE.com - Saat musim durian tiba, kulit si raja buah ini sering kali menjadi limbah yang mengusik kebersihan lingkungan. Menumpuk di pinggir jalan, pasar hingga tempat pembuangan sampah sementara, butuh waktu lama untuk terurai.

Daripada dibuang atau mengganggu kebersihan, kulit durian bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar padat, alternatif kayu bakar dan arang konvensional. Peneliti Universitas Malikussaleh Aceh mengolah kulit durian menjadi briket bioarang dan hasilnya sudah dipublikasikan dalam Chemical Engineering Journal Storage pada 2023.

Peneliti menguji pengaruh suhu karbonisasi dan komposisi tepung tapioka sebagai perekat terhadap kualitas briket. Kulit durian dipilih karena mengandung selulosa sekitar 50-60 persen serta lignin. Kedua komponen tersebut membuat kulit durian berpotensi digunakan sebagai bahan baku biomassa.

"Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan adalah penggunaan variasi suhu dan komposisi campuran arang kulit durian dengan tepung tapioka," tulis tim peneliti dilansir dari suara.com.

Baca Juga: Erling Haaland Makin Tajam, Lewati Torehan Gol Zlatan Ibrahimovic Bersama Timnas Norwegia

Formula Terbaik

Untuk mendapatkan formula terbaik, peneliti menguji beberapa kombinasi suhu karbonisasi dan jumlah perekat. Hasilnya, briket dengan kualitas terbaik diperoleh dari komposisi arang kulit durian yang dominan dengan sedikit perekat tepung tapioka. Formula tersebut diproses pada suhu 400 derajat Celcius, atau suhu tertinggi dalam percobaan.

Suhu karbonisasi juga berpengaruh terhadap kualitas briket. Semakin tinggi suhu yang digunakan, kadar air dan zat mudah menguap dalam briket cenderung semakin rendah.

Keduanya menguap selama proses karbonisasi. Sebaliknya, penambahan tepung tapioka dalam jumlah lebih besar justru menurunkan nilai kalor dan kadar karbon briket.

Meski begitu, briket dengan kandungan perekat paling tinggi, yakni 15 persen, memiliki karakteristik lain yang menarik. Briket tersebut memiliki laju pembakaran paling cepat, mencapai 0,110 gram per menit.

Baca Juga: John Herdman Pantau 3 Pemain Timnas Indonesia Jelang Hadapi Malaysia, Ada Emil Audero

Karakteristik itu dapat berguna untuk kebutuhan yang membutuhkan api lebih cepat, meski konsekuensinya bahan bakar menjadi lebih cepat habis.

Pemanfaatan kulit durian sebagai bahan bakar menawarkan dua manfaat sekaligus, mengurangi limbah dan menyediakan sumber energi alternatif. Kebutuhan energi Indonesia saat ini masih banyak ditopang bahan bakar fosil. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar. 

Berdasarkan peta jalan Kementerian ESDM yang dikutip dalam penelitian, potensi energi biomassa Indonesia diperkirakan mencapai 49,8 gigawatt. Briket dari kulit durian dapat digunakan untuk sejumlah kebutuhan rumah tangga, seperti memasak dan menyetrika, maupun kebutuhan lain yang memerlukan bahan bakar padat.

Bagi daerah yang menjadi sentra produksi durian, pemanfaatan ini juga berpotensi mengurangi persoalan limbah yang muncul setiap musim panen. Namun, penelitian tersebut belum menjadikan briket kulit durian sebagai produk yang siap diproduksi secara massal.

Baca Juga: Kisah Palu dan Peluh Emak-emak Pemecah Batu Purwasedar Sukabumi di Tengah Kemarau

Peneliti mencatat, proses pengeringan dalam penelitian masih mengandalkan sinar matahari langsung sehingga dipengaruhi kondisi cuaca dan kelembaban. Pengujian lebih lanjut, termasuk terkait kepadatan dan tekanan briket menggunakan peralatan khusus, masih diperlukan untuk memastikan kualitasnya tetap konsisten ketika diproduksi dalam skala lebih besar.

Peneliti mencatat, proses pengeringan dalam penelitian masih mengandalkan sinar matahari langsung sehingga dipengaruhi kondisi cuaca dan kelembaban, Pengujian lebih lanjut, termasuk terkait kepadatan dan tekanan briket menggunakan peralatan khusus, masih diperlukan untuk memastikan kualitasnya tetap konsisten ketika diproduksi dalam skala lebih besar.

Dengan demikian, kulit durian yang selama ini identik dengan limbah masih memiliki peluang untuk masuk ke rantai pemanfaatan energi. Tantangannya bukan lagi sekadar menemukan bahan bakunya, tetapi memastikan proses pengolahan dan kualitas briket dapat diterapkan secara konsisten di lapangan.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini