bankbjb

Situ Gunung Sukabumi: Kisah Mbah Jalun, Gunung Api Purba, hingga Wisata Dunia

Selasa 24 Mei 2022, 05:00 WIB
Situ Gunung Sukabumi: Kisah Mbah Jalun, Gunung Api Purba, hingga Wisata Dunia

SUKABUMIUPDATE.com - Berada di ketinggian 1.100-an meter di atas permukaan laut, danau Situ Gunung menyimpan sejumlah cerita menarik. Air bening yang berkelindan dengan eksotisnya hutan damar, membuat telaga seluas 7,6 hektare ini menjadi ikon pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Tak diketahui secara pasti bagaimana danau ini terbentuk, namun cerita Mbah Jalun dan letusan gunung api purba menjadi dua hal yang bisa ditelusuri.

Mbah Jalun dan Gunung Api Purba

Situ Gunung sudah dikenal sejak dulu, baik karena legendanya maupun aktivitas penelitian dan wisatanya. Pada 1881, Situ Gunung sudah menjadi perkebunan yang cukup besar. Bahkan dalam Java-bode (surat kabar yang diterbitkan di Batavia, Hindia Belanda) edisi 30 November 1888, Situ Gunung sudah disebut sebagai danau yang indah atau mooi bergmeer. Situ Gunung memiliki pemandangan danau yang indah di bawah kaki gunung Gede Pangrango dan sudah dikenal dengan transportasinya yang terjangkau.

Pengamat sejarah Sukabumi Irman Firmansyah mengatakan fasilitas di danau Situ Gunung saat itu sudah cukup lengkap. Kano dan rakit dapat disewa untuk mengelilingi danau karena telaga gunung seluruhnya berada di kawasan hutan lindung, sehingga airnya tidak tercemar dan bersih. Hanya bagian tengah Situ Gunung yang cocok untuk berenang karena masih banyak tanaman air di pinggir danau yang harus dibersihkan. "Situ Gunung dikenal indah," kata Irman kepada sukabumiupdate.com, Senin (23/5/2022).

photoPapan nama danau Situ Gunung. - (Sukabumiupdate.com/Oksa Bachtiar Camsyah)

Keberadaan danau Situ Gunung tak terlepas dari sosok Mbah Jalun yang kerap dibicarakan warga setempat. Konon, danau ini dibuat oleh bangsawan Mataram bernama Mbah Jalun yang buron ke wilayah Priangan dan menetap di lereng gunung Gede. Mbah Jalun adalah nama yang disematkan kepada Raden Rangga Jagad Syahadana atas nama anaknya, Jaka Lulunta. Mbah Jalun diperkirakan hidup pada 1770-1841. Menurut Irman, Mbah Jalun mengeruk tanah di Situ Gunung menggunakan kulit kerbau hingga menjadi danau.

"Itu dilakukan untuk menunjukkan rasa syukur atas kelahiran anaknya yang bernama Jaka Lulunta," ucap Irman yang juga Ketua Yayasan Dapuran Kipahare. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, Irman mengatakan masih ada keturunan Mbah Jalun yang hidup di kawasan Situ Gunung. Sebagian warga juga mempercayai cerita Mbah Jalun yang berhasil selamat dari hukuman gantungan Belanda di Alun-alun Cisaat pada 1814, lalu melarikan diri ke Bogor. Mbah Jalun memang dikenal ikut pergerakan perjuangan.

Masih menjadi polemik apakah kisah Mbah Jalun hanya legenda atau nyata. Virendra Nath Misra dan Peter Bellwood dalam bukunya "Recent Advances in Indo-Pacific Prehistory" menyebutkan bahwa sedimentasi di danau Situ Gunung dimulai hampir 8.000 tahun lalu. Sehingga, sejarah vegetasi yang tercatat di sana seluruhnya berada pada masa Holosen.

photoFoto danau Situ Gunung tahun 1937-an. - (Pustaka Yayasan Dapuran Kipahare)

Irman yang sudah menulis beberapa buku tentang Sukabumi, salah satunya "Soekaboemi the Untold Story", mengatakan nama Situ Gunung sendiri mirip dengan danau Tasikardi di Banten, yang dibuat untuk keluarga kerajaan dan pengairan. Dalam "Poesaka-Soenda" keluaran 1922, dijelaskan tasik berarti situ atau talaga, sedangkan ardi artinya gunung. Sementara Situ Ardi merupakan danau buatan.

Wawancara terpisah, tokoh masyarakat setempat, Ki Padugala, mengatakan Mbah Jalun datang ke wilayah Priangan setelah berpisahnya Kerajaan Mataram Kuno menjadi dua bagian: Kesultanan Ngayogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Tak dipungkiri ada pengaruh adu domba Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC dalam perpisahan tersebut. Selama di Priangan, Mbah Jalun kerap berpindah dari satu gunung ke gunung lainnya. Hingga satu waktu bertemu wanita bernama Nyi Neglasari atau Nyi Layung Koneng di wilayah Goalpara.

"Mbah Jalun menikah dengan Nyi Layung Koneng lalu pindah ke Situ Gunung," kata Ki Padugala. Selaras dengan Irman, Ki Padugala menyebut Mbah Jalun membuat danau Situ Gunung menggunakan kulit kerbau hingga berbulan-bulan untuk menyambut kelahiran putranya.


Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini