SUKABUMIUPDATE.com - Ulama sekaligus akademisi Nahdaltul Ulama (NU) mengingatkan agar para elit politik dan tokoh ormas Islam belajar kebijaksanaan pendiri NU KH Hasyim Asyari dalam hidup berbangsa dan bernegara.
“Mbah Hasyim itu mungkin tokoh utama yang bisa memadukan keindonesiaan dan keislaman,†kata pengasuh pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid atau Gus Solah usai peresmian Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asyari di pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad, (5/2).
Gus Solah berujar, kakeknya tersebut bisa memadukan nilai-nilai Islam dan nasionalisme atau cinta tanah air. “Pemikiran mbah Hasyim itu ya mencintai agama sekaligus bangsa, tidak mempertentangkan agama dan negara,†katanya.
Menurut dia, semula para tokoh di negeri ini termasuk tokoh NU mempertentangkan Islam dan Indonesia. "Baru selesai tahun 1984 ketika NU menerima dasar negara Pancasila,†katanya.
Saat ini, menurutnya, upaya untuk mempertentangkan Islam dan Indonesia itu kembali muncul. "Bagi kami perpaduan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan itu adalah faktor utama persatuan Indonesia dan harus dirawat, jangan sampai dilemahkan,†kata Rektor Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) ini.
Sementara itu, ulama sekaligus akademisi NU dan alumni pesantren Tebuireng, KH Tolchah Hasan, menceritakan bagaimana sikap kenegarawan KH Hasyim Asyari menjelang kemerdekaan Indonesia setelah Jepang menyerah.
Dia mengaku pernah baca buku, kala Jepang akan memberikan izin Indonesia merdeka, utusan Jepang datang Tebuireng dan menawari mbah Hasyim untuk jadi presiden. "Tapi mbah Hasyim sudah mendapat informasi bahwa yang layak jadi presiden itu Bung Karno sehingga mbah Hasyim menolak tawaran Jepang. Ini menunjukkan ego individu tidak ditonjolkan,†kata bekas Menteri Agama era Presiden Gus Dur ini.
Tolchah melanjutkan, Hasyim Asyari lebih mementingkan pendidikan demi melahirkan kader-kader yang militan dan berjuang demi kepentingan bangsa dan negara. “Lebih baik membina kader-kadernya sendiri karena tahu kepentingan bangsa. Semua murid mbah Hasyim jadi ulama dan pejuang besar yang berjuang demi bangsa dan negara,†kata bekas Rektor sekaligus guru besar Universitas Islam Malang (Unisma) ini.
Â
Sumber: TEMPO
Â
