Rakyat Terpecah, Ulama NU: Elit Jangan Paksakan Ego

Sukabumiupdate.com
Minggu 05 Feb 2017, 12:20 WIB
Rakyat Terpecah, Ulama NU: Elit Jangan Paksakan Ego

SUKABUMIUPDATE.com - Ulama sekaligus akademisi Nahdlatul Ulama (NU) yang juga alumni Pesantren Tebuireng mengingatkan agar elit politik dan tokoh-tokoh ormas tidak memaksakan kepentingan pribadi dan golongan. Pesan ini disampaikan di tengah kondisi bangsa yang rentan terpecah belah khususnya dalam persaingan pilkada DKI Jakarta.

Salah satu ulama yang juga akademisi NU dan alumni pesantren Tebuireng, KH Tolchah Hasan, mengatakan saat ini para elit politik dan tokoh ormas lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan daripada kepentingan nasional. Tolchah menyoroti banyak kasus hukum yang dilatarbelakangi kepentingan politik dalam persaingan Pilkada Jakarta.

“Sekarang ini terlalu banyak kasus (hukum), ego individu mengalahkan ego nasional, mestinya kalau kita ingin membuat pesatuan yang baik, harus berani mengorbankan ego individu,” kata bekas Menteri Agama era Presiden Gus Dur ini saat konferensi pers usai peresmian Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad, 5 Februari 2017.

Tolchah juga mengingatkan agar para elit politik dan tokoh ormas tidak memaksakan kehendak demi kepentingan politik dan kelompok. “Kepentingan pribadi atau kelompok harus ditinggalkan. Sekarang ini masing-masing punya kepentingan sendiri-sendiri dan itu dipaksakan harus tercapai,” ujar bekas Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) ini.

Pengasuh pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid atau Gus Solah juga mengingatkan masing-masing pihak yang bersaing dalam Pilkada DKI Jakarta agar tidak saling memfitnah dengan isu agama dan nasionalisme.

“Sekarang ini timbul gonjang ganjing terutama karena pilkada DKI yang sebetulnya tidak perlu sampai seperti itu. Sekarang ini kesannya yang mendukung Ahok itu bukan Islam dan yang tidak mendukung Ahok itu bukan Indonesia. Dua-duanya keliru, tidak ada hubungannya dengan itu,” kata Gus Solah yang juga Rektor Univeritas Hasyim Asy’ari. Menurutnya, masing-masing pihak harus duduk bersama dan ingat akan cita-cita para pendiri bangsa.

Sumber: Tempo

Berita Terkini