SUKABUMIUPDATE.com - Pemerintah akan menyalurkan bantuan pangan berupa beras kepada 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang dijadwalkan berlangsung sekaligus (one shoot) mulai Agustus 2026.
Sebanyak 997,2 ribu ton beras akan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan selama tiga bulan, dengan setiap KPM memperoleh jatah 10 kilogram beras setiap bulannya. Dimana penyaluran pada Agustus ini akan dilakukan setelah proses transfer Anggaran Belanja Tambahan (ABT) selesai.
Dalam arahannya di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026), Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng kepada 33,24 juta keluarga menunjukkan kapasitas negara dalam melindungi masyarakat.
"Bantuan pangan, 10 kilogram beras, 2 liter minyak goreng untuk 3 bulan, (kepada) 33,24 juta keluarga di desil 1, 2, 3, 4. Tunjukkan negara mana seperti kita? pasti ada yang lebih hebat, pasti. Tapi untuk bangsa Indonesia, not bad. Jangan anggap enteng kita terus. We are strong, we are rich, and we will be richer. Kita akan lebih kaya karena kita tidak mau jadi lugu lagi," ungkap Presiden, dikutip dalam keterangan resmi Badan Pangan Nasional.
Baca Juga: Tak Cukup Ashabiyah Hambalang
Prabowo menjelaskan, bantuan pangan tahap pertama tahun 2026 diberikan dalam bentuk beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter untuk setiap keluarga penerima manfaat (KPM). Bantuan tersebut dialokasikan selama tiga bulan dengan nilai yang diperkirakan setara Rp179.278 per keluarga setiap bulan.
Presiden juga menilai keberhasilan pembangunan sistem perlindungan sosial tidak lepas dari kontribusi pemerintahan sebelumnya. Ia menegaskan pembangunan bangsa merupakan proses panjang yang harus dijaga kesinambungannya.
"Program-program ini adalah hasil dari pemerintah-pemerintah sebelum kita. Saya selalu mengakui, tidak ada pembangunan bangsa, tidak ada transformasi bangsa yang sepotong-sepotong. Ini adalah long march," katanya.
Menurut Prabowo, keberadaan berbagai program bantuan sosial menunjukkan Indonesia telah memiliki fondasi negara kesejahteraan (welfare state) yang kuat.
Pelaksanaan bantuan pangan tahap pertama untuk alokasi Februari hingga Maret 2026 telah rampung pada akhir Juni lalu. Sepanjang penyalurannya, pemerintah mendistribusikan sekitar 664,88 ribu ton beras serta 132,97 ribu kiloliter minyak goreng kepada masyarakat.
Baca Juga: Cuaca Jabar 23 Juli 2026, Sukabumi Cerah Berawan di Pagi Hari
Program tersebut turut memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga beras. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,98 persen, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen.
Sementara itu, inflasi beras secara bulanan (month-to-month/mtm) hingga Juni 2026 berada di angka 0,45 persen atau masih di bawah satu persen, yang mencerminkan harga beras relatif stabil.
Untuk kelanjutan program, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan bantuan pangan tahap kedua untuk alokasi Juli hingga September siap dilaksanakan. Kesiapan tersebut didukung oleh stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog yang saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan cadangan beras tersebut disiapkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai arahan Presiden.
Baca Juga: Polisi: Bukan Rem Blong! Dump Truk Tabrak Motor, Warung Nasi dan Mobil di Lingsel Sukabumi
"Stok beras kita hari ini tertinggi sepanjang sejarah, selama kita merdeka. Ini stoknya hari ini 5,2 juta ton. Jadi ini untuk kepentingan masyarakat Indonesia, pasti atas arahan Bapak Presiden, kita gelontorkan," ucap Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
Ia juga menyebut beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut didukung oleh meningkatnya produksi dalam negeri sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada impor beras.














