Usai 5 Peserta Meninggal, Kemhan Resmi Setop Latsarmil SPPI dan Hapus Latihan Menembak

Sukabumiupdate.com
Selasa 30 Jun 2026, 11:53 WIB
Usai 5 Peserta Meninggal, Kemhan Resmi Setop Latsarmil SPPI dan Hapus Latihan Menembak

Setelah lima peserta SPPI meninggal, Kemhan mengubah Latsarmil menjadi Pembekalan Bela Negara dan Manajerial dengan menghapus latihan menembak. (Sumber Foto: instagram kemhanri)

SUKABUMIUPDATE.com – Kementerian Pertahanan (Kemhan) resmi menghentikan konsep Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Sebagai penggantinya, pemerintah mengubah program tersebut menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial dengan menghapus sejumlah materi bercorak militer, termasuk latihan menembak. Kebijakan ini diambil setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karoinfohan) Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan perubahan tersebut merupakan hasil evaluasi pemerintah terhadap penyelenggaraan SPPI.

"Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil lagi," kata Rico dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).

Baca Juga: DPR Sebut Dana Latihan Militer Manajer Kopdes Merah Putih Capai Rp30 Juta per Orang

Menurut Rico, berbagai aktivitas taktis dan teknis kemiliteran kini dikurangi dan dialihkan menjadi materi pembentukan karakter yang lebih sesuai dengan latar belakang peserta sebagai warga sipil.

"Kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini. Intensitas kegiatan fisik juga dikurangi dan disesuaikan dengan latar belakang peserta sebagai warga sipil," ujarnya.

Sebagai gantinya, pelatihan akan difokuskan pada pembentukan disiplin, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kemampuan manajerial yang dibutuhkan peserta untuk mengelola KDMP maupun KNMP.

"Fokus kegiatan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih," jelas Rico.

Video Latihan Menembak Merupakan Dokumentasi Lama

Rico juga menanggapi beredarnya video latihan menembak peserta SPPI di media sosial. Ia menegaskan bahwa rekaman tersebut merupakan dokumentasi lama yang diambil sebelum pemerintah melakukan evaluasi dan perubahan konsep pelatihan.

Menurutnya, materi latihan menembak sudah tidak lagi masuk dalam kurikulum pelatihan yang saat ini dijalankan.

Evaluasi Dilakukan Setelah 5 Peserta Meninggal

Evaluasi terhadap program SPPI dilakukan setelah terjadi serangkaian insiden yang menyebabkan lima peserta meninggal dunia di lokasi pendidikan berbeda.

Korban pertama adalah Yonanda Muhammad Taufiq, peserta pelatihan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, yang meninggal pada 17 Juni 2026 akibat cardiac arrest atau henti jantung.

Sehari kemudian, Anisa Muyassaroh, peserta di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, meninggal dunia akibat heat stroke.

Pada 23 Juni 2026, Novia Rahmadhani Sihotang, peserta Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta, meninggal dunia setelah mengalami komplikasi penyakit tuberkulosis.

Korban berikutnya adalah Muhammad Rifki Renaldi, peserta Satdik Yon Parako 465 Jakarta, yang meninggal pada 26 Juni 2026 setelah sebelumnya mengeluhkan sesak napas.

Sementara korban kelima, Nola Dya Sari, peserta Satdik C Kalimantan, meninggal dunia setelah mengalami gangguan kesehatan usai mengikuti kegiatan Latsarmil.

Perubahan konsep pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan peserta sekaligus memastikan materi yang diberikan lebih relevan dengan tugas mereka sebagai calon pengelola koperasi dan kampung nelayan di berbagai daerah.

Sumber: Suara.com

Berita Terkait
Berita Terkini