Tips Menulis ala Wulanfadi: Cara Keluar dari Writer’s Block dan Hindari Cerita Klise

Sukabumiupdate.com
Selasa 26 Mei 2026, 17:48 WIB
Tips Menulis ala Wulanfadi: Cara Keluar dari Writer’s Block dan Hindari Cerita Klise

Penulis muda Wulanfadi (tengah) saat menjadi narasumber utama kegiatan bedah buku di UMMI Sukabumi. (Sumber Foto: Siti Sayyidatunnisa)

SUKABUMIUPDATE.com – Nama besar Wulan Fadila Fatia atau yang akrab disapa Wulanfadi (26) di panggung sastra digital dan industri perfilman tanah air sudah tidak diragukan lagi. Namun, di balik deretan karya best seller-nya seperti novel A: Aku, Benci, dan Cinta, tersimpan sebuah perjalanan emosional yang penuh lika-liku.

Hadir sebagai narasumber utama dalam acara Bedah Buku yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA PBSI) di Aula Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Sabtu (23/5/2026), Wulanfadi membagikan kisah inspiratifnya secara mendalam.

Berawal dari Rasa Insecure dan Ruang Pemulihan Mental

Siapa sangka, ketertarikan awal Wulanfadi terhadap dunia kepenulisan justru lahir dari rasa tidak percaya diri (insecure) terhadap kemampuan akademiknya saat remaja. Dari kondisi tersebut, ia mencari ruang lain untuk berkembang hingga akhirnya menemukan bahwa menulis menjadi medium paling nyaman untuk menuangkan ide, perasaan, dan imajinasinya.

Bagi Wulan, menulis bukan sekadar aktivitas berkarya, melainkan metode katarsis untuk menenangkan diri. Beberapa ide ceritanya bahkan lahir sebagai respons jujur terhadap kondisi kesehatan mental pribadinya, termasuk saat ia berjuang melawan depresi dan melewati masa-masa pemulihan (mental recovery).

“Kayak misalkan dulu itu banyak cerita tentang persahabatan jadi cinta, aku juga pengen bikin yang kayak gitu lah. Tapi versinya aku gitu. Jadi sederhana aku melihat situasi sekitar dan respon aku itu lewat tulisan,” ungkap Wulan kepada sukabumiupdate.com dalam wawancara eksklusif.

Baca Juga: Berawal dari Wattpad, Wulanfadi Kini Jadi Novelis Best Seller dan Suarakan Pemberdayaan Perempuan

Siasat Menghadapi Writer's Block dan Tekanan Kreatif

Perjalanan melahirkan sebuah karya tidak selamanya berjalan mulus. Wulan mengaku sempat mengalami fase kehilangan motivasi dan kebuntuan ide total (writer's block) akibat tekanan mental yang berat. Di titik terendahnya, ia memilih berhenti menulis sama sekali dan fokus memulihkan diri.

Untuk bangkit kembali, Wulan menerapkan disiplin kecil secara bertahap. Ia memaksa dirinya konsisten menulis minimal satu halaman setiap hari, sebelum akhirnya perlahan-lahan kembali menemukan ritme menulisnya yang normal.

Jika kejenuhan melanda akibat terlalu lama mengurung diri di dalam rumah, Wulan memiliki formula penyegaran (healing) yang unik namun sederhana, seperti berjalan-jalan, naik transportasi umum, atau pergi ke perpustakaan.

“Biasanya aku berpikir, apa akar masalahnya, kadang kan kita nulis tuh keseringan ya jadinya mumet ya di rumah terus gitu, akhirnya aku tadabbur alam, jalan-jalan gitu, healing,” tuturnya.

Menurutnya, jeda seperti itu justru membantu memunculkan energi dan inspirasi baru dalam proses kreatif menulis.

Tips untuk Penulis Pemula: Hindari Pembukaan Klise!

Dalam kesempatan tersebut, novelis kelahiran Jakarta ini juga membagikan tips berharga bagi para penulis pemula yang sering merasa tidak percaya diri dengan kualitas tulisan awal mereka.

Menurut Wulanfadi, hal pertama yang harus dibangun bukanlah menghasilkan tulisan yang langsung sempurna, melainkan keberanian untuk menuangkan ide dan membangun rasa percaya diri terlebih dahulu.

"Penulis pemula harus mengetahui dan meyakini bahwa kemampuan mereka masih bisa terus berkembang, jadi wajar kalau tulisan awal masih punya banyak kekurangan. Karena itu jangan berhenti hanya karena merasa tulisannya belum bagus," papar Wulan.

Baca Juga: Hadirkan Penulis Wulanfadi, HIMA PBSI UMMI Sukabumi Bedah Novel A: Aku, Benci & Cinta

Wulan juga menyoroti kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula, terutama dalam membangun alur cerita. Banyak penulis baru, kata dia, masih menggunakan pembukaan yang klise seperti tokoh utama terbangun karena bunyi alarm atau memulai cerita tanpa menyiapkan konflik dan penyelesaian yang matang.

Karena itu, ia menyarankan penulis membuat gambaran besar cerita terlebih dahulu, mulai dari awal, tengah, hingga akhir.

"Yang pertama yaitu dengan merancang gambaran besar tentang awal, tengah, dan akhir cerita, lalu sambungannya dibangun berjalan sesuai konsep cerita agar ceritanya terhubung antara satu sama lain," tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya membaca karya tulis orang lain, baik fiksi maupun nonfiksi, sebagai modal utama untuk memperluas kosakata, melatih kepekaan gaya bahasa, serta memahami cara membangun karakter dan konflik agar cerita terasa lebih hidup.

"Dengan banyak membaca, penulis juga bisa memperluas wawasan dan melatih kepekaan terhadap berbagai gaya penulisan. Ini dapat menjadi bekal penting supaya tulisan yang dibuat tidak terasa monoton dan lebih hidup," jelasnya.

Kepuasan Terbesar: Membuat Pembaca Tidak Merasa Sendirian

Bagi Wulanfadi, memiliki karya yang populer dan sukses diadaptasi ke layar lebar adalah sebuah kehormatan besar. Namun, ia menegaskan bahwa indikator kepuasan tertingginya sebagai seorang penulis bukan diukur dari popularitas atau materi.

“Kepuasan aku sebenarnya sesederhana ngebuat orang lain itu happy pas bacanya, terus enggak ngerasa sendirian gitu, jadi ketika aku nulis sesuatu misalkan 'Aku Benci dan Cinta' kan banyak yang ngelihat tentang perasaan yang gak diterima atau segala macem. Aku pengen mengungkapkan itu, bahwa kamu ngerasa sendirian ngerasa ini, dan kamu bakal happy baca ini,” ungkapnya.

Menurutnya, menulis bukan hanya soal menghasilkan karya, tetapi juga perjalanan untuk memberi makna bagi diri sendiri dan orang lain.


Kontributor: Siti Sayyidatunnisa, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi.

Berita Terkait
Berita Terkini