Lestarikan Bahasa Widal, Jaga Warisan Budaya Tak Benda Kota Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Senin 06 Apr 2026, 15:08 WIB
Lestarikan Bahasa Widal, Jaga Warisan Budaya Tak Benda Kota Sukabumi

Ilustrasi AI. Pemkot Sukabumi ajak warga lestarikan bahasa widal (Sumber: copilot)

SUKABUMIUPDATE.com - Bahasa Widal atau Tipar, sejak tahun 2022 menjadi salah satu warisan budaya tak benda Kota Sukabumi. Sebagai warisan masa lalu, bahasa widal memiliki tantangan untuk naik level sebagai warisan budaya tak benda Jawa Barat, Indonesia bahkan Dunia, yaitu pelestarian dan pemanfaatan luas bagi warga masa kini dan mendatang.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi mengajak warga untuk melestarikan bahasa isyarat yang pernah menjadi sandi komunikasi warga di era penjajahan kolonialisme. Saat ini bahasa widal masih digunakan dalam lingkup sangat terbatas, oleh generasi tua di wilayah tipar kecamatan citamiang Kota Sukabumi.

Lewat video konten media sosial, Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana dan Kadisdikbud Novian Restiadi mengajak gen z dan alfa untuk mulai menggunakan bahasa widal sebagai alat komunikasi selain sunda, indonesia dan bahasa asing.

Baca Juga: Menjelajahi Curug Larangan, Salah Satu Air Terjun Favorit di Geopark Ciletuh Sukabumi

Lewat akun medsosnya Bobby Maulana menjelaskan bahwa bahasa Widal atau yang dikenal sebagai Bahasa Tipar adalah warisan kearifan lokal Kota Sukabumi yang memiliki nilai historis, filosofi, dan identitas masyarakat yang sangat kuat. “Sudah saatnya kita bersama-sama mengangkat dan memperjuangkan bahasa ini agar diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda, baik di tingkat provinsi, nasional, hingga dunia melalui UNESCO.”

“Ini bukan hanya tentang pengakuan, tetapi tentang kebanggaan, pelestarian, dan keberlanjutan budaya kita agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Terima kasih untuk @essajiwapermana yang telah menemukan bentuk sosialisasi yang sesuai dengan perkembangan zaman untuk memperkenalkan bahasa widal, sehingga bisa lebih dikenal luas oleh banyak orang, semoga kedepan bisa terus berkolaborasi 😊🙏.

“Mari kita jaga, kita gunakan, dan kita wariskan Bahasa Widal sebagai identitas Kota Sukabumi untuk generasi yang akan datang,” tulis Wali Wali Kota Sukabumi.

Baca Juga: Ihwal 9 Proyek Infrastruktur Pemkot Sukabumi, Pembangunan Jembatan Rp12 M Disorot

Dalam konten tersebut Bobby juga menerangkan saat ini belajar bahasa widal lebih mudah. Dengan aplikasi digital kamus bahasa widal, https://widal.essa.jp.net, karya pemuda Sukabumi.

“Ini sangat mudah, tinggal ketik bahasa sunda akan muncul versi bahasa widalnya,” jelas Bobby.

Masih di konten yang sama, Kadisbud Novian Restiadi menjelaskan bahwa saat ini status bahasa widal adalah aset warisan budaya tak benda kota Sukabumi. Untuk menjadikan bahasa tutur khas Sukabumi ini menjadi aset Jabar, Nasional bahkan dunia diperlukan upaya bersama melestarikannya.

Baca Juga: Babak Baru Kasus Kematian Nizam: Ibu Tiri Gugat Status Tersangka Lewat Praperadilan

“Salah satu syaratnya adalah mempunyai dampak sosial positif. Maksudnya bahasa widal ini hal yang mendekatkan masyarakat, menjadi upaya pelestarian budaya, dan menjadi salah satu budaya tutur yang memperkaya bahasa nasional,” ucap Novian.

Bahasa widal menjadi satu dari 4 budaya warga Kota Sukabumi yang diusulkan ke Unesco menjadi WBTB (warisan budaya tak benda). Sebagai calon warisan budaya dunia, bahasa widal hingga kini masih digunakan oleh warga Sukabumi yang paham dengan cara bertutur bahasa sandi yang identik dengan Tipar dan digunakan sejak zaman penjajahan kolonial di Indonesia.

Selasa 7 Juni 2022, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Sukabumi mengusulkan bahasa widal bersama kesenian Gotong Sisig, Gotong Lisung dan mochi (makanan) sebagai Warisan Budaya Dunia atau WBTB (warisan budaya tak benda). 

Baca Juga: Wisata Murah Meriah di Sukabumi Menikmati Kolam Koi di Kaki Gunung Sunda

Apa Itu Bahasa Widal

Tulisan Mohammad Ilham Ramadhan di portal mojok.co adalah yang paling menarik, setidaknya menjadi yang pertama muncul di mesin pencari google. Sederhananya Widal adalah bahasa gaul orang Sukabumi, khususnya di kawasan Tipar, Kecamatan Citamiang Kota Sukabumi.

Dalam tulisan itu, Widal sendiri memiliki arti "Tipar", karena bahasa ini lahir dengan cara menukar-nukar huruf dan bunyi dari bahasa Sunda.  Rumus dalam bahasa Widal utamanya Pelafalan huruf vokal tidak terjadi perubahan, kecuali kalau huruf vokal berada di depan kata maka akan ditambahkan bunyi “Ny”, contoh A = A (Nya); E = E (Nye) I = I (Nyi); U = U (Nyu); O = O (Nyo).

Sementara sejumlah pelafalan huruf konsonan juga berubah. B = H; C = J, Z (huruf yang berbunyi mirip); D = P, F, V (huruf yang berbunyi mirip); F = D; G = S; H = B; J = C; K = N; L = R; M = Y; N = K, Q, X (huruf yang berbunyi mirip); P = D; Q = N; R = L; S = G; T = W; V = D; W = T; X = N; Y = M; Z = C.

Baca Juga: Respons Krisis Energi Global, Dosen dan Mahasiswa Diimbau Jalan Kaki atau Bersepeda ke Kampus

Wikipedia mengutip penelitian mahasiswi UNPAD Rahayu Puziawati tahun 2019, bahasa widal ini disebut diciptakan warga Tipar saat masa pendudukan Belanda di Indonesia. Penggunaan bahasa Widal oleh masyarakat setempat untuk mengelabui pihak Belanda, di mana mereka berusaha untuk menyembunyikan maksud percakapan serta menjaga informasi agar tidak bocor terhadap pihak lawan.

Sementara, Yani Heryandi tahun 2013 dalam makalah thesis diploma Universitas Komputer Indonesia, coba mengurai fungsi dan makna kekinian dari bahasa widal yang faktanya tetap lestari hingga saat ini. 

Pertama, makna pesan bahasa Widal sebagai bentuk isyarat masyarakat Tipar Sukabumi ditunjukan sebagai bahasa sandi yang digunakan sebagai pembeda dengan masyarakat lainnya. Lalu, makna pesan sebagai bentuk refleksi diri menunjukan penggunanya memiliki ikatan emosional dengan masyarakat Tipar lainnya dan turut merepresentasikan budaya Sukabumi yang bersifat kesukuan. 

Baca Juga: Diskominfo Ajak Warga Kota Sukabumi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026, Ini Sasarannya!

Kemudian makna pesan sebagai bentuk pengaruh sosial menunjukan bahasa Widal dapat meningkatkan prestise, kepercayaan diri, dan status sosialnya dalam masyarakat Tipar. Pengguna bahasa widal akan mendapatkan pengakuan dari masyarakat Tipar lainnya, dan mewariskannya dengan mempergunakan bahasa Widal pada kehidupan sehari-hari. 

Selanjutnya makna pesan sebagai bentuk kebersamaan menunjukan bahwa bahasa Widal merupakan bentuk identitas bersama masyarakat Tipar yang harus dijaga bersama. Ada kesepakatan bahwa bahasa Widal sebagai bahasa asli penduduk tipar yang pola penerapannya tetap sama dari zaman dulu hingga sekarang. 

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan pesan bahasa Widal pada masyarakat Tipar Sukabumi pada dasarnya diakui sebagai bentuk warisan budaya yang dapat menjadi identitas para pelakunya sehingga harus dilestarikan keberadaannya sebagai salah satu sarana interaksi dalam sosialisasi masyarakat Tipar dan Sukabumi.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini