SUKABUMIUPDATE.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyebut BUMN ada yang berkontribusi ada juga yang justru menjadi beban bagi Jawa Barat. Pernyataan itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam Round Table Discussion: Jepitan Problem Investasi Danantara dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang ditayangkan di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, seperti dikutip sukabumiupdate.com, Jumat, (23/1/2026).
Dedi mengungkapkan, salah satu BUMN yang dinilai berkontribusi adalah Perum Perhutani, meskipun kontribusi tersebut lebih bersifat konservasi lingkungan dan belum berdampak secara finansial. Namun, ia menyoroti sedikitnya 10 BUMN yang hingga kini masih memiliki utang kepada Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB) dengan nilai total mencapai Rp3,7 triliun.
Ia menjelaskan, selama ini BUMN-BUMN tersebut hanya membayarkan bunga pinjaman, sementara utang pokok sama sekali belum dilunasi. Kondisi itu, kata Dedi, menjadi beban tersendiri bagi Bank BJB.
“Mereka hanya bayar bunganya saja dan ini menjadi beban bagi Bank Jabar (BJB),” keluh KDM.
Baca Juga: 2 Bulan Sudah Keropos, Perbaikan PJU KDM di Jalan Provinsi Ruas Surade - Ujunggenteng Sukabumi
Adapun BUMN yang tercatat memiliki utang ke Bank BJB antara lain:
1. PT Barata Indonesia sebesar Rp89 miliar lebih,
2. PT Kimia Farma Rp950 miliar lebih,
3. PT Perikanan Indonesia Rp96 miliar lebih,
4. PT Phapros Rp98 miliar lebih.
5. PT Rajawali Nusindo Rp403 miliar lebih,
6. PT Waskita Rp91 miliar lebih,
7. PT Waskita Karya Rp91 miliar lebih,
8. PT Wijaya Karya Serang Panimbang Rp278 miliar lebih,
9. PT Wijaya Karya Rp511 miliar lebih,
10. PT PPSD sebesar Rp239 miliar lebih.
"Beban pak, orang daerah itu harusnya dibantu, bukan dipinjem pak. saat ini mereka hanya membayar bunganya saja dan bahkan meminta restrukturisasi," ujarnya.






