SUKABUMIUPDATE.com - Korea Utara tidak akan menyerang lebih dulu meski kerap mengelurkan pernyataan ancaman untuk menghancurkan Amerika Serikat dengan senjata nuklirnya.
Dalam beberapa waktu terakhir Korea Utara sering melontarkan retorika berapi-api tentang serangan dahsyat yang kemudian disalahartikan Barat.Â
Namun menurut Van Jackson, seorang analis di Pusat Studi Strategis Victoria University, Wellington, Selandia Baru, Korea Utara konsisten dengan mengatakan pihaknya sedang mengembangkan persenjataan nuklir semata-mata untuk mencegah serangan nuklir oleh militer Amerika Serikat.
"Korea Utara membuat pernyataan yang cukup memancing perang sepanjang waktu," kata Jackson, yang menulis Rival Reputation Coercion and Credibility dalam Hubungan AS-Korea Utara.
"Tapi sebagian besar bersikap defensif," tambahnya, seperti yang dilansir USA Today pada 17 November 2017.
Korea Utara telah berjanji melancarkan serangan nuklir yang akan mengubah daratan Amerika Serikat menjadi lautan api, jika negara itu diserang lebih dulu. Pernyataan ini menunjukan negara komunis itu tidak akan melakukan tindakan militer secara tiba-tiba.
Presiden Donald Trump juga telah mengikuti pola pernyataan serupa dengan memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan memusnahkan Korea Utara jika diserang terlebih duhulu.
Saat berpidato tentang ini di parlemen Korea Selatan pada 8 November, Trump berkata: "Jangan meremehkan dan menantang kami. Kami tidak akan membiarkan kota-kota di Amerika terancam kehancuran. Kami tidak akan terintimidasi. "
Sebelum itu, dalam sebuah pidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 19 September, Trump memperingatkan Amerika Serikat memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar. Namun jika dipaksa untuk mempertahankan diri atau sekutunya, maka AS tidak punya pilihan selain menghancurkan Korea Utara secara total.
Menanggapi itu, pada 20 Oktober, Choe Son Hui, yang memimpin Kementerian Luar Negeri Korea Utara, mengulangi pesan pertahanan negaranya di sebuah konferensi Moskow mengenai non-proliferasi nuklir.
"Pemimpin kami Kim Jong Un telah menjelaskan pendirian kami: kami akan memaksa orang Amerika untuk berdamai atau menanggapi api dengan api," kata Choe. "Kami memiliki senjata nuklir dan rudal balistik, tapi kami tidak akan menggunakannya jika tidak ada ancaman. Senjata kami dimaksudkan untuk melindungi tanah air kami dari ancaman nuklir Amerika Serikat."
Choe kemudian menambahkan bahwa pembicaraan dengan Washington dapat dilanjutkan jika Trump berhenti mengancam negaranya.
Pidato Choe terjadi tiga hari setelah sebuah pernyataan 17 Oktober dipublikasikan di situs Uriminzokkiri, yang dikontrol negara sehubungan dengan laporan bahwa Amerika sedang mempertimbangkan untuk menggunakan senjata nuklir untuk menghancurkan fasilitas nuklir Korea Utara.
Dalam perkembangan terbaru Korea Utara menyatakan bahwa tidak akan menegosiasikan perdamaian jikan upaya ancaman militer Amerika terus berlanjut. Ini merujuk pada latihan bersama dengan Korea Selatan yang melibatkan 3 kapal induk.
Sumber: Tempo
