Penyebab Utama Indonesia Bergantung pada Sapi Impor Australia, Ini Kata Pakar

Sukabumiupdate.com
Rabu 29 Apr 2026, 17:50 WIB
Penyebab Utama Indonesia Bergantung pada Sapi Impor Australia, Ini Kata Pakar

Peternakan Sapi potong di Australia | Foto : Pixabay

SUKABUMIUPDATE.com – Data tahun 2025, Indonesia membeli sekitar 583.418 ekor sapi seharga USD4,00 per kilogram bobot hidup. Ketergantungan Indonesia terhadap impor sapi, khususnya dari Australia, masih menjadi persoalan yang belum teratasi.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menyampaikan bahwa penyebab utama kondisi tersebut adalah terbatasnya produksi daging sapi domestik atau dalam negeri.

Menurutnya, populasi sapi potong nasional belum mampu memenuhi kebutuhan daging, terutama di kota-kota besar dengan tingkat konsumsi tinggi. Rendahnya produktivitas sapi lokal dibandingkan sapi impor menjadi salah satu faktor kunci.

“Produktivitas sapi lokal relatif lebih rendah dibandingkan sapi Brahman Cross dari Australia. Sapi bali, misalnya, memiliki pertumbuhan yang lebih lambat,” ujarnya seperti dikutip sukabumiupdate.com dari laman resmi IPB, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, jika dilihat dari sisi konsumsi, permintaan daging sapi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah dan jumlah penduduk. Industri makanan, restoran, hotel, dan katering membutuhkan pasokan daging sapi yang stabil. Daging sapi juga memiliki nilai budaya tinggi, terutama saat momen keagamaan seperti Iduladha.

Baca Juga: A Yamin Soroti Pengawasan Miras Kota Sukabumi, Minta Implementasi Perda Diperjelas

Ketidakseimbangan antara permintaan dan produksi ini mengakibatkan defisit pasokan. Untuk menutupi kekurangan, pemerintah memilih impor sapi hidup dari Australia.

“Dari segi logistik dan infrastruktur, Australia memiliki sistem ekspor ternak hidup yang terintegrasi, termasuk pelabuhan Darwin, Kimberley, dan Queensland. Didukung kapal-kapal besar seperti MV Al Kuwait yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor sekaligus dengan harga yang relatif kompetitif,” tutur Prof Ronny.

Menurut Prof Ronny, impor sapi dari Australia menawarkan sejumlah manfaat, termasuk pasokan yang stabil untuk memastikan ketersediaan daging sapi di pasar lokal. Selain itu, harga sapi impor relatif bersaing, memberikan pilihan lain bagi industri. Dari segi kualitas, sapi Australia (Brahman Cross) lebih cepat tumbuh dan lebih cocok untuk feedlot. Semua faktor ini, kata dia, turut memperkuat hubungan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Australia.

Namun demikian, ketergantungan ini menimbulkan risiko. Ketergantungan dan nilai impor yang tinggi membuat Indonesia rentan terhadap gangguan geopolitik, fluktuasi harga global, serta risiko logistik dan kesehatan hewan. Sebagai gambaran, jika bobot sapi per ekor 300 kg, maka estimasi nilai impor tahun 2025 (583.418 ekor) mencapai USD700 juta, setara Rp11 triliun.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian telah berupaya mengurangi ketergantungan pada sapi hidup dan daging impor. Namun, Prof Ronny menyebutkan, kurangnya strategi jangka panjang dan permintaan yang terus meningkat, dampaknya belum terasa signifikan.

“Upaya pengurangan ketergantungan ini memerlukan perencanaan jangka panjang, bukan tindakan instan. Strateginya meliputi penguatan pembibitan sapi lokal seperti sapi bali dan PO (peranakan Ongole), serta mendukung riset genetik untuk meningkatkan produktivitas,” sarannya.

Baca Juga: Sekolah Swasta Gratis di Jakarta Makin Banyak: Rp 253 Miliar untuk 103 Lembaga Pendidikan

Ia juga menyarankan pengembangan feedlot berbasis pakan lokal seperti jagung, singkong, dan limbah pertanian untuk mengurangi biaya pakan impor. “Diversifikasi sumber impor seperti kerja sama dengan Brasil, India, dan negara-negara Asia Tenggara, sebaiknya dilanjutkan untuk mengurangi ketergantungan pada Australia,” imbuh dia.

“Fokus ke swasembada protein hewani melalui peningkatan konsumsi ayam, kambing, dan ikan, serta inovasi protein alternatif. Dari segi kebijakan dan insentif, subsidi bagi peternak lokal juga harus ditingkatkan, termasuk pengaturan kuota impor agar tidak menekan harga sapi domestik,” pungkasnya.

Sumber : ipb.ac.id

Berita Terkait
Berita Terkini