Leuwi Bunder Surade Resmi Jadi Desa Wisata, Simpan Cerita Pemandian Ratu-ratu Padjajaran

Sukabumiupdate.com
Sabtu 16 Mei 2026, 18:59 WIB
Leuwi Bunder Surade Resmi Jadi Desa Wisata, Simpan Cerita Pemandian Ratu-ratu Padjajaran

Wisatawan lokal saat berlibur di Lewi Bunder, Kampung Sindangrasa, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi | Foto : Ragil Gilang

SUKABUMIUPDATE.com – Agrowisata Leuwi Bunder yang terletak di Kampung Sindangrasa RT 19/RW 13, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, resmi dikukuhkan sebagai Desa Wisata Rintisan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pariwisata.

Pengukuhan tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Sukabumi, Asep Japar, bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan potensi wisata berbasis alam dan budaya di wilayah selatan Sukabumi.

Leuwi Bunder dikenal sebagai destinasi wisata alam yang menawarkan kolam alami dengan sumber mata air jernih yang tidak pernah kering. Tempat ini menjadi favorit wisatawan untuk berenang maupun bersantai bersama keluarga karena suasananya yang masih asri dan dikelilingi pepohonan rindang.

Pengelola Agrowisata Leuwi Bunder, Hasbulloh Haz, mengatakan pengukuhan tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan wisata berbasis agrowisata dan ekowisata di Desa Buniwangi.

“Alhamdulillah secara umum destinasi wisata di Desa Buniwangi Kecamatan Surade dipengukuhan kemarin mendapat predikat Desa Wisata Rintisan dari Bupati dan Dispar. Dengan konsep pengembangan agrowisata dan ekowisata sesuai program yang kami buat,” ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (16/5/2026).

Baca Juga: Curug Cibeureum Sukabumi Diserbu Wisatawan di Libur Panjang Isa Almasih

Ia berharap dukungan dari berbagai pihak agar pengembangan wisata Leuwi Bunder dapat menjadi percepatan pembangunan daerah melalui sektor pariwisata.

“Mohon doa dan support dari semuanya, para tokoh, sesepuh, media, aparatur untuk kami terus berbenah. Mudah-mudahan dengan mendapat sertifikasi ini ke depan menjadi ada jalan percepatan pembangunan di daerah melalui wisata,” tambahnya.

Cerita Lewi Bunder di masa lalu

Tak hanya menawarkan panorama alam, Leuwi Bunder juga menyimpan cerita yang dipercaya masyarakat secara turun-temurun. Menurut cerita para sesepuh, kawasan tersebut berkaitan dengan keturunan kerajaan Padjajaran.

Hasbulloh menuturkan, dahulu kala Sunan Raja Mandala yang merupakan salah satu bangsawan keturunan Padjajaran memiliki sejumlah keturunan yang diutus menyebarkan agama Islam ke berbagai wilayah Jawa Barat bagian selatan.

Karena kedekatan nama pantai Mandala Ratu dan lokasi Leuwi Bunder yang berada di perbatasan Desa Buniwangi dengan Desa Cipeundeuy, masyarakat meyakini tempat tersebut dahulu menjadi lokasi pemandian para ratu.

“Menurut para sesepuh sampai saat ini jika kebetulan akan terlihat pelangi dari atas langit yang tertuju cahayanya ke Leuwi Bunder atau dalam bahasa Sunda disebut katumbiri nutug leuwi,” kata Hasbulloh.

Ia juga menyebut terdapat tiga mata air di kawasan tersebut yang diyakini tidak pernah kering meski musim kemarau panjang, yakni Mata Air Barokah, Mata Air Kahuripan, dan Mata Air Kedijayaan.

“Ini sebagai bukti bahwa Leuwi Bunder dan sekitarnya sebagai tempat pemandian para ratu di masanya,” ucapnya.

Baca Juga: Mengenal Kila-kila Sunda: Kepercayaan Orang Tua Dulu Saat Membaca Tanda Alam

Secara geologi, Leuwi Bunder terbentuk secara alami dan disebut layak menjadi taman bumi atau geopark. Nama Leuwi Bunder sendiri konon diberikan oleh keturunan Prabu Siliwangi, yakni Mbah Baduy.

Leuwi Bunder memiliki kolam alami berukuran sekitar 20 x 15 meter dengan kedalaman bervariasi mulai 80 sentimeter hingga mencapai 8 meter. Lokasinya mudah dijangkau karena hanya sekitar 1 kilometer dari pertigaan Kampung Cibungur di jalur provinsi Surade–Ujunggenteng dengan kondisi jalan yang sudah diaspal.

Gratis dikunjungi

Menariknya, hingga kini wisatawan belum dikenakan tiket masuk alias gratis. Pengunjung hanya diminta membayar parkir seikhlasnya, sementara bagi yang berenang disarankan menyewa pelampung yang tersedia di lokasi.

Selain wisata alam, pengelola juga tengah menyiapkan sejumlah inovasi pengembangan kawasan. "Salah satunya memanfaatkan pompa hidran untuk mengangkat air dari Leuwi Bunder guna mengairi enam aliran lahan pertanian di Kampung Sindangrasa yang selama ini hanya mengandalkan tadah hujan," ungkapnya.

Berita Terkait
Berita Terkini