SUKABUMIUPDATE.com – Gagasan besar Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, dinilai masih relevan untuk menjawab berbagai tantangan bangsa di era modern. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku pemikiran Bung Karno yang digelar dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno 2026 di Cafe and Resto Onesaan, Jalur Lingkar, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Senin (29/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh diskusi tersebut menghadirkan Anggota DPRD Jawa Barat, Muhammad Jaenudin, sebagai pembicara utama, didampingi dosen Institut Almasthuriyah, Ario Ainal Yakin. Sementara jalannya diskusi dipandu oleh aktivis mahasiswa, Ilham Mu'az Barakah.
Forum tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar tingkat SMA/SMK, mahasiswa Institut Almasthuriyah, Universitas Nusa Putra, STISIP Widyapuri Mandiri, Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), hingga perwakilan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan seperti IPMASI, PMII, dan GP Ansor. Kehadiran peserta lintas organisasi menjadikan forum ini sebagai ruang dialog kebangsaan yang hidup dan dinamis.
Baca Juga: Ramdan Camp Bos RIAP Keluar Sebagai Juara, Sabuk Kapolres Tetap di Sukabumi
Dalam pemaparannya, Muhammad Jaenudin mengajak generasi muda untuk melihat Bung Karno tidak hanya sebagai proklamator dan tokoh perjuangan kemerdekaan, tetapi juga sebagai seorang intelektual yang melahirkan gagasan-gagasan besar bagi masa depan Indonesia.
Menurutnya, Bung Karno tetap mampu menghasilkan karya-karya monumental meskipun berada dalam tekanan penjajahan Belanda. Bahkan, masa-masa pengasingan justru menjadi periode yang melahirkan pemikiran-pemikiran penting.
"Bung Karno bukan hanya sosok penggerak perjuangan melawan Belanda, tetapi juga seorang pemikir yang pemikirannya tidak pernah berhenti meskipun diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda saat itu," ujar Jaenudin.
Ia mencontohkan lahirnya buku Indonesia Menggugat, yang berasal dari naskah pledoi Bung Karno saat menjalani proses peradilan kolonial.
Baca Juga: Usai Rekrut Gabriel Mutombo, Persib Bandung Kini Dikaitkan dengan Sandy Walsh ?
"Bayangkan Bung Karno saat diasingkan di Bandung menempati sebuah ruangan yang sangat sempit. Jangankan untuk beraktivitas, untuk tidur pun sulit. Tetapi justru dari kamar itulah lahir sebuah pledoi yang disampaikan di Pengadilan Hindia Belanda yang kemudian menjadi buku Indonesia Menggugat," katanya.
Jaenudin menjelaskan, setelah Indonesia merdeka, Bung Karno tidak berhenti memikirkan masa depan bangsa. Salah satu konsep yang diwariskannya adalah Trisakti, yakni cita-cita agar Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
"Dengan gagasan Trisakti, Bung Karno mengajarkan bagaimana bangsa Indonesia harus berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya," ungkapnya.
Ia menilai, konsep tersebut justru semakin penting di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Menurutnya, berbagai konflik internasional saat ini menunjukkan bahwa kondisi geopolitik dunia memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Harga Telur dan Ayam di Sukabumi Turun Drastis, Pedagang Sebut Libur Sekolah dan MBG Berpengaruh
Jaenudin mencontohkan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah sebagai salah satu gambaran bagaimana peristiwa global dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
"Misalnya akibat serangan AS-Israel ke Iran, kemudian dampaknya kita rasakan di Indonesia dengan naiknya nilai dolar, harga BBM ikut naik, dan harga-harga kebutuhan masyarakat juga meningkat," ujarnya.
Karena itu, ia menilai pemikiran Trisakti masih sangat relevan sebagai pijakan dalam memperkuat kemandirian bangsa agar tidak mudah terpengaruh oleh gejolak ekonomi dan politik internasional.
Sementara itu, suasana diskusi berlangsung interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pertanyaan, pandangan, hingga kritik mengenai implementasi nilai-nilai dari pemikiran Bung Karno dalam kehidupan berbangsa saat ini.(adv)



