SUKABUMIUPDATE.com – Perjalanan hidup Abah Sarnuh (80), seorang petani di kawasan Pasirdatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, tak hanya berkisah tentang kemandirian energi. Di balik usianya yang telah senja, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan membuka lahan, bertahan di tengah perubahan zaman, hingga menciptakan pembangkit listrik mandiri dari aliran sungai.
Kisah itu bermula pada 1998. Berangkat dari keterbatasan lahan di kampung halamannya di Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit, Abah Sarnuh memutuskan berpindah lokasi dan membuka kawasan yang kala itu dikenal masyarakat sebagai "gudang macan/sarang macan" karena kondisi hutannya yang masih sangat lebat dan jarang dijamah manusia.
Pada masa pascareformasi, kawasan tersebut menjadi tujuan ratusan warga yang menggarap lahan terlantar sebagai bagian dari upaya meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian kawasan kembali dikuasai perusahaan swasta pemegang Hak Guna Usaha (HGU), sehingga banyak penggarap harus bergeser mencari tempat baru.
"Dulu tanah terlantar ini digeruduk oleh masyarakat karena ada instruksi harus dikelola. Tapi akhir-akhir ini diambil lagi oleh perusahaan swasta pemegang HGU ke arah hilir. Dari 500 lebih warga yang menggarap, akhirnya kami terpaksa bergeser. Sekarang sisa lahan yang saya garap tinggal 45 are," bebernya.
Baca Juga: Tak Bergantung PLN, Warga Caringin Belasan Tahun Hidup Andalkan Kincir Air Rakitan Sendiri
Di atas lahan yang tersisa itulah Abah Sarnuh menghabiskan masa tuanya bersama sang istri. Dengan penuh kesabaran, ia menanam berbagai komoditas hortikultura seperti wortel dan pisang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Jika dahulu ia harus memikul hasil panen dan berjalan kaki menempuh medan terjal menuju wilayah bawah, kini keadaan sedikit berubah. Para tengkulak justru datang langsung ke kebunnya dengan sepeda motor yang dimodifikasi khusus untuk mengangkut hasil pertanian.
Namun, bukan hanya ketekunannya sebagai petani yang membuat sosok Abah Sarnuh begitu istimewa. Di tengah keterbatasan akses listrik dan jauhnya jaringan PLN dari tempat tinggalnya, ia memilih tidak menyerah pada keadaan.
Berbekal pengalaman dan rasa ingin tahu, pria berusia 80 tahun itu memanfaatkan aliran sungai di sekitar rumahnya untuk membangun pembangkit listrik sederhana berbasis kincir air. Meski tak pernah mengenyam pendidikan formal tentang kelistrikan, ia mampu memahami prinsip kerja dinamo dan kumparan hingga menghasilkan energi listrik.
Baca Juga: 4 Ribu Buruh Pabrik Pemasok Sepatu Nike di Bandung Terancam PHK, Bagaimana di Sukabumi?
Hasilnya, dua rumah dan sebuah mushala di kawasan Kontrak Pasirdatar kini dapat menikmati penerangan tanpa bergantung pada pasokan listrik pemerintah. Selama belasan tahun, listrik tersebut dinikmati secara mandiri tanpa tagihan bulanan.
"Prinsipnya dinamo digerakkan kincir oleh air, gesekannya di dalam oleh kumparan, langsung menghasilkan tenaga listrik yang dialirkan ke rumah. Di sini mah listrik dipakai kalau malam saja dan bisa diatur besar kecil volumenya," kata Abah Sarnuh.
Di usianya yang telah mencapai 80 tahun, semangat Abah Sarnuh tak pernah padam. Dari kawasan yang dulu dikenal sebagai "gudang macan", ia membangun kehidupan, mengolah tanah, dan menciptakan sumber energi bagi keluarganya sendiri.





