SUKABUMIUPDATE.com - Di usia lima tahun, sebagian besar anak masih sibuk berlari, menggambar, atau berebut mainan favorit. Namun bagi Riza Kalandara Alfatih, dunia masa kecilnya juga ditemani oleh hal lain: angka, bukan sekadar deretan simbol, melainkan permainan logika yang telah ia pahami jauh sebelum mampu menuliskannya.
Pagi di rumah keluarga ini biasanya berlangsung tenang. Tidak ada jadwal belajar yang terpampang atau buku latihan menumpuk di sudut ruangan. Yang ada justru balok kayu, kartu permainan, dan benda sehari-hari yang menjelma sebagai “ruang kelas” kecil yang tidak pernah ia sadari sebagai ruang belajar. Di sinilah dunia angka perlahan membuka pintunya bagi Riza.
Ibunya, Rizky Noorrahmi (31), mengingat bagaimana ketertarikan Riza pada konsep angka sudah muncul sejak usia dua tahun. Suaminya mengenalkan angka dengan cara yang tidak biasa: bukan menghafal bentuk, tapi mengajak Riza bermain dengan pola, urutan, dan hubungan jumlah. “Saat itu Riza belum tentu paham, tapi ia terbiasa mendengar dan bermain dengan ide angka. Ia mengerti konsep sebelum mengenal bentuk angkanya sendiri,” ujar Rizky kepada Sukabumiupdate.com, Senin (19/1/2025).
Baca Juga: Putusan MK Tok! Wartawan Tak Bisa Langsung Digugat Pidana atau Perdata
Meski demikian, keseharian Riza tetap sama seperti anak-anak lain. Waktunya di rumah lebih banyak untuk bermain bebas, tanpa target akademik. Rizky dan suami memilih tidak menuntut terlalu banyak dan lebih fokus menyediakan lingkungan yang aman untuk bertanya dan membuat kesalahan.
“Kami tidak menciptakan pola asuh khusus. Kami hanya menjaga agar ia merasa aman dan proses belajarnya tidak penuh tekanan,” lanjutnya.
Yang menarik, Riza tidak memiliki jadwal belajar tetap. Sang ayah sempat ragu apakah pola itu baik bagi kedisiplinan. Namun setelah memperhatikan ritme belajar Riza, mereka melihat bahwa fleksibilitas justru memberi ruang fokus yang lebih kuat. “Kalau minatnya muncul, ia bisa fokus lama. Kalau tidak, memaksa hanya membuat ia menolak. Kami belajar membedakan mana malas dan mana belum siap secara emosional,” kata Rizky.
Untuk menjaga suasana tetap menyenangkan, proses belajar dikemas menjadi permainan. Jika Riza terlihat lelah, sesi belajar berhenti atau diganti permainan lain. Card game, board game, hingga aktivitas fisik menjadi jembatan agar dunia angka tetap akrab tanpa memberi tekanan. “Kami tidak ingin belajar identik dengan stres atau bosan,” imbuhnya.
Baca Juga: Riza Kalandara Alfatih, Siswa TK di Sukabumi Menuju Olimpiade Matematika Asia Tenggara
Di luar rumah, sekolah juga memainkan peran penting. Sejak pertama kali ikut olimpiade, Riza mendapat latihan ringan dari wali kelasnya, Miss Nadia, sekitar 10 menit setiap pulang sekolah, tanpa kewajiban, tanpa paksaan. “Kalau Riza sedang tidak ingin, gurunya tidak memaksakan,” ujar Rizky.
Dalam matematika, Riza juga dibimbing oleh Mr. Rafqi dengan pendekatan serupa: pendek, santai, tetapi konsisten. Menurut Rizky, metode yang digunakan para guru sebenarnya tidak ada yang rumit. Namun kualitas pendekatannya membuat Riza merasa nyaman dan fokus saat belajar di sekolah.
Perjalanan Riza memasuki dunia kompetisi dimulai pada September 2025, ketika ia mengikuti Olimpiade Siswa Nasional kategori Bahasa Inggris secara daring dan meraih Juara 1 sekaligus Juara Umum kategori TK-A. Prestasi itu membuka jalan menuju tantangan berikutnya: Olimpiade Matematika tingkat Asia Tenggara, yang kini sedang ia persiapkan.
Tetap saja, di balik prestasinya, Riza tetaplah seorang bocah. Ada kalanya ia merasa kesal atau rewel saat menghadapi soal sulit. Namun orang tuanya memilih tidak langsung memberi jawaban atau mengalihkan suasana. “Kami lebih sering berdialog lewat pertanyaan kecil agar ia melihat masalah secara menyeluruh, bukan sekadar mengejar jawaban cepat,” ujar Rizky.
Di akhir percakapan, Rizky menitipkan pesan bagi orang tua lain yang mungkin melihat semangat belajar pada anaknya. “Hati-hati dengan ambisi yang menyamar sebagai dukungan. Anak dengan minat kuat bukan berarti harus dipacu terus. Preferensi anak itu sangat mudah berubah kalau mereka tidak nyaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, tugas orang tua bukan mempercepat, melainkan membersamai. “Dengarkan mereka, jaga rasa ingin tahunya tetap hidup. Arahkan agar tidak tersesat, tapi biarkan anak berkembang dengan caranya sendiri.”
Sebelumnya, Riza berhasil menuju babak final Olimpiade Matematika Asia Tenggara. Cerita lengkap dari ibundanya ini memperlihatkan bahwa prestasi Riza bukan lahir dari tekanan, melainkan dari ruang tumbuh yang penuh permainan, perhatian, dan pendekatan lembut antara rumah dan sekolah.



