(Part 2) Menggali Sejarah Hiroshima 2 di Desa Tegalpanjang Cireunghas Kabupaten Sukabumi

Jumat 27 Jan 2017, 04:19 WIB
(Part 2) Menggali Sejarah Hiroshima 2 di Desa Tegalpanjang Cireunghas Kabupaten Sukabumi

SUKABUMIUPDATE.com - Ini tulisan lanjutan dari bagian pertama yang diambil dari penuturan salah seorang pegiat sejarah soal keberadaan markas militer Kota Hiroshima 2 di Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi. Irman Firmansyah salah seorang tokoh dibalik komunitas Sukabumi Heritage, secara ekslusif menjelaskan panjang lebar kepada sukabumiupdate.com.

Sekitar dua kilometer ke arah timur tepatnya di kampung Bandang dibangun asrama tentara dan klinik militer dilengkapi dengan kolam penampungan air. “Sayangnya bangunan bersejarah ini sudah banyak yang menghilang, termasuk rel lori dari Kampung Pojok ke kampung Bandang, sisah jembatannya masih ada namun rel dan fasilitas lainnya sudah raib,” tutur Irman, Jumat (27/1).

Jepang akhirnya kalah perang, menyerah dan meninggalkan Indonesia termasuk Desa Tegalpanjang Kabupaten Sukabumi. Di dalam buku Sejarah Sukabumi, karya Ruyatna Jaya mengisahkan bahwa pada 2 Oktober 1945 dilakukan pengambil alihan Pabrik Kina di Tegal Panjang oleh pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh M. Kosasih.

Namun saat Belanda kembali ke Indonesia dengan agresi militer I tahun 1947, area ini diambil alih oleh tentara Belanda. Tegalpanjang khususnya Pabrik Kina yang sangat berharga saat itui direbut kembali oleh Indonesia dengan bantuan seorang desersir tentara Belanda yang membelot ke Republik Indonesia.

BACA JUGA:

(Part 1) Menggali Sejarah Hiroshima 2 di Desa Tegalpanjang Cireunghas Kabupaten Sukabumi

“Namanya Princen desersir tentara Belanda yang membelot ke republik dalam bukunya “Kemerdekaan Memilih”, menyebutkan pasukannya melakukan perebutan Pabrik Kina di Tegal Panjang dari pasukan Belanda pada tahun 1949,” lanjut Irman.

Fakta ini diperkuat juga oleh Aoh Kartamihardja dalam bukunya berjudul “Manusia dan Tanahnya”. Disebutkan bahwa saat Princen masuk ke Tegalpanjang pada tahun 1949, kondisinya sudah rusak parah, puing dengan rumput dan ilalang yang sangat tinggi.

“Buku ini juga mengisahkan bahwa 70% masyarakat Tegal Panjang dan Cipriangan tewas akibat Romusha baik dalam pembuatan jalan dan kawasan Hiroshima 2, maupun yang dikirim ke Rumpin dan Bayah,” tutur Irman.

Irman menambahkan bahwa Aoh Kartamiharja merupakan seorang penulis yang membawa Princen ke Kapten Saptaji di markas tentara Cipriangan untuk bergabung dengan Republik.

Bersambung.

Editor :
Berita Terkini