SUKABUMIUPDATE.com - Keindahan panorama dari puncak bukit atau warga sering menyebutnya Gunung Sabak dan Suta di Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, tidak lama lagi akan sirna. Februari 2017 ini, bukit kembar tersebut mulai diekploitasi dan eksplorasi untuk bahan baku semen dan keramik.
Sebagian besar warga yang tinggal di sekitar kawasan inipun sudah “merestui†rencana ekspolitasi tersebut. “Di kampung ini saja lebih dari 80 persen warganya sudah setuju dengan rencana tersebut, warga berharap dengan adanya tambah, bisa menumbuhkan ekonomi dan menyerap tenaga kerja,†ungkap Abdul Gofur, Ketua RT 08/04, Kamung Kadudatar, Desa Priangan Jaya, Kecamatan Sukalarang kepada sukabumiupdate.com, Kamis (26/1).
Menurut Gofur, warga yang awalnya menolak pun saat ini sudah bisa menerima kegiatan tambang bebatuan kars yang menjadi bahan baku semen dan keramik. “Saya juga kurang paham, apakah bakal ada pabrik semen atau hanya tambang saja, yang jelas pihak desa dan warga saat ini sudah memberikan izin,†lanjutnya.
BACA JUGA:
Menanti Tahun Baru dari Puncak Gunung Sunda Sukabumi
Ajakan Dukung Pariwisata Sukabumi dari Puncak Gunung Sunda
#SaveGunungSunda, Stop Buang Sampah
Selain Prianganjaya, Desa Sukalarang, dan Semplak menurut Gofur sudah memberikan izin untuk kegiatan ekploitasi. “Dalam musyawarah desa kemarin, pihak perusahaan sudah bersedia memberikan anggaran 100 ribu per orang per bulan kepada warga, tapi masih ada sebagai warga yang sebenarnya tidak rela gunung Sabak dan Suta diekpoitasi,†tuturnya.
Menurut Gofur warga yang menolak karena khawatir kegiatan ekpoitasi tersebut akan merusak lingkungan. “Sayangnya dalam setiap pertemuan warga yang menolak ekpolitasi ini tidak berani bersuara, saya juga nggak ngerti takut atau apa, kalau udah pulang ke rumah baru ngomong dan protes,†imbuhnya.
Ia mengakui jika selama ini, Bukit Sabak dan Suta ini banyak dikunjungi wisatawan khususnya hari Minggu. Namun keindahan alam dari puncak kedua bukit ini akan dipastikan sirna dalam waktu dekat.
“Rencananya dua gunung ini akan mulai digunduli bulan Februari 2017 mendatang, apalagi para pengurusnya sudah ada dari bulan sebelumnya dan alat berat seperti bekhu katanya mau datang minggu ini,†tambahnya.
Diperkirakan luas lahan yang akan digunakan oleh perusahaan sekitar 250 hektar, dan mulai bergerak di wilayah Kampung Panarosan. “Sebenarnya upaya ini sudah dari tiga tahun sebelumnya namun belum diberikan surat izin. Sekarang izinnya sudah ada,†pungkasnya.
