SUKABUMIUPDATE.com - Hiruk pikuk Kota Sukabumi mulai terasa sejak jam 06.30 WIB. Anak-anak  sekolah satu persatu mulai nampak naik turun dari angkutan kota. Sebagian diantar orang tuanya menggunakan sepeda motor dan kendaraan roda empat dan yang lainnya jalan kaki bergerombol. Sementara itu, para pekerja mulai terlihat bersiap diri, berpakaian rapi dan menenteng tas. Sebagian mereka berhenti di kedai nasi kuning atau bubur ayam untuk sarapan.
Ketika matahari mulai meninggi, di sebuah sudut trotoar Jalan Suryakencana Kota Sukabumi, nampak seorang kakek tua renta bernama Omo tengah menjajakan dagangan. Beberapa kali Omo menawarkan dagangannya kepada orang yang lewat di hadapannya dan untuk kesekian kali pula dagangannya ditolak.
Namun Omo tak henti berharap. Berbagai upaya tetap ia lakukan agar dagangannya laku, di antaranya dengan menawarkan dagangan pada pengendara mobil yang kebetulan menepi di pinggir jalan. Tapi tak juga dagangannya terjual.
BACA JUGA:
Namanya Sukatma, Kakek Tukang Parkir di Cibadak Kabupaten Sukabumi
Tahukah Anda apa dagangan Omo? Ia berdagang satu sisir pisang golek dan beberapa bibit bunga yang ditaruh dalam gelas plastik bekas kemasan gelas air mineral. Ia kantongi dalam tas kresek dan ia jual. Setiap hari Omo melakukan itu demi bertahan hidup.
Kembali ke aktivitas Omo, nampak seorang perempuan berkerudung hitam sekira 40 tahun ditawari oleh Omo. Sang perempuan menolak dengan halus. “Nggak pak, terima kasih. Saya belum butuh bibit bunga. Saya masih ngontrak rumah orang. Bapak sudah sarapan? Mau bubur?†Giliran perempuan itu menawarkan sesuatu. Omo mengiyakan, “Dibungkus saja, mungkin agak siangan berasa lapar,†pinta Omo.
Ya, dia lah Omo (80). Sesosok kakek yang harus menghabiskan masa tuanya dengan berkeliling Kota Sukabumi untuk menjajakan dagangan apapun yang bisa ia jual. Bapak dari lima anak ini mengaku warga Salabintana, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi.
“Waduh, nggak ingat RT-RW-nya, harus saya tanyakan dulu atuh,†jawaban Omo kepada sukabumiupdate.com, Kamis (19/1), ketika ditanya alamat lengkapnya. “Iya, di Salabintana, pokona mah kiduleun Hotel Pangrango, disana saya tinggal,â€Â  Omo memastikan letak rumah tempat ia tinggal.
Dengan kemampuan mendengar dan mengingat yang mulai payah, Omo tak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh sukabumiupdate.com. Omo tak merespon saat ditanya bagaimanakah perhatian dari anak-anak dan keluarganya. Lalu mengapa setua ini tetap harus banting tulang.
Tetapi, Omo sempat menangkap obrolan sukabumiupdate.com mengenai apakah ia seseorang yang idealis, tak mau bergantung pada bantuan keluarga atau orang lain? Omo pun menjelaskan bahwa dirinya tak punya pilihan selain jualan keliling sejak kelima anak-anaknya mempunyai kehidupan masing-masing.
“Nggak ada perhatian, kumaha atuh da? Mereka (anak-anaknya, red) juga punya anak-anak yang harus dinafkahi,†terang Omo yang hanya bisa mengingat namanya Omo.
Omo adalah sebuah potret para lansia dari golongan ekonomi lemah yang tak bisa menikmati masa tuanya dengan lebih menyenangkan dan mapan, dimana perhatian dari berbagai kalangan sangat dibutuhkan. Namun ia tidak mempertanyakan di manakah perhatian itu? Ia hanya meyakini jika ada yang masih bisa ia dikerjakan, maka imbalan akan datang.Â
“Saya sering lihat kondisi kayak gini. Mending yang dijualnya bunga. Jarang yang beli tapi laku saja, rata-rata karena iba saja. Ada yang lebih miris lagi, saya pernah lihat nenek-nenek yang jualan sikat gigi bekas, siapa yang mau beli coba? Akhirnya orang kasih uang,†ungkap seorang warga Sukaraja yang enggan menyebutkan namanya, menanggapi keberadaan Omo.
