SUKABUMIUPDATE.com – Kawasan wisata Alun-alun Gadobangkong di Jalan Kidang Kencana, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, semakin semarak setiap Jumat malam. Dentingan gitar, hentakan drum, hingga lantunan vokal para musisi lokal menjadi hiburan yang mengundang masyarakat dan wisatawan untuk menikmati suasana malam di kawasan pesisir tersebut.
Panggung musik yang digelar komunitas Music on the Street (MOTS) kini menjadi salah satu daya tarik baru wisata malam Palabuhanratu. Sedikitnya 24 grup band lokal dari berbagai genre tampil secara bergiliran setiap pekan, menghadirkan pertunjukan gratis sekaligus menjadi ruang bagi para musisi untuk menunjukkan karya terbaik mereka.
Penasihat MOTS, Aang Heriana, mengatakan komunitas tersebut dibentuk sekitar delapan bulan lalu sebagai wadah bagi para musisi Palabuhanratu yang selama ini kesulitan mendapatkan ruang untuk tampil.
"Ide ini berawal dari teman-teman musisi di Palabuhanratu yang merasa tidak memiliki wadah untuk berkarya. Akhirnya kami berkumpul bersama, di antaranya Pak Dera, Ecau, Sendy, dan rekan-rekan lainnya, lalu sepakat membentuk Music on the Street atau MOTS," ujarnya saat ditemui di Alun-alun Gadobangkong, Jumat (17/7/2026) malam.
Baca Juga: Panggung Musik Jalanan di Alun-alun Gadobangkong, Jadi Magnet Wisatawan dan UMKM
Menurut Aang, Palabuhanratu memiliki sejarah melahirkan sejumlah grup musik yang mampu dikenal hingga tingkat nasional. Karena itu, keberadaan MOTS diharapkan menjadi wadah regenerasi sekaligus membuka peluang lahirnya musisi-musisi baru dari daerah.
"Kami ingin regenerasi itu terus berjalan. Jangan sampai potensi anak-anak muda di Palabuhanratu hilang karena tidak memiliki tempat untuk tampil," katanya.
Awalnya, panggung MOTS digelar di kawasan Batu Sapi, Jalan Ahmad Yani. Namun, sejak dua pekan terakhir dipindahkan ke kawasan wisata Gadobangkong agar lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mendukung geliat pariwisata.
Perpindahan lokasi tersebut membawa dampak positif. Antusiasme musisi lokal terus meningkat. Jika sebelumnya pengurus harus menghubungi grup band satu per satu, kini justru banyak band yang mengajukan diri untuk tampil.
"Dulu kami yang mencari band. Sekarang justru banyak grup band yang menghubungi kami dan ingin tampil di panggung MOTS," ungkapnya.
Saat ini, sebanyak 24 grup band telah bergabung dalam komunitas tersebut. Mereka membawakan beragam genre, mulai dari rock, punk rock, reggae, musik Melayu hingga genre lainnya. Penampilan mereka dijadwalkan bergiliran setiap Jumat malam sehingga masyarakat selalu mendapatkan suguhan musik yang beragam.
Baca Juga: Iklan Tidak Membeli Pemberitaan
Tak hanya menjadi ruang berekspresi bagi musisi, kegiatan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi kawasan wisata Gadobangkong. Ramainya pengunjung saat pertunjukan berlangsung membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi ikut merasakan peningkatan aktivitas penjualan.
"Ketika ada pertunjukan musik, masyarakat berkumpul, wisatawan datang menikmati suasana. Dampaknya bukan hanya bagi musisi, tetapi juga menggerakkan pelaku UMKM yang berjualan di sekitar lokasi," jelas Aang.
Meski demikian, seluruh kegiatan hingga kini masih berjalan secara swadaya. Berbagai perlengkapan, seperti drum, gitar, sound system, hingga mixer, disediakan secara gotong royong oleh para anggota komunitas karena belum memiliki sponsor maupun donatur.
Aang mengaku bersyukur kegiatan tersebut mendapat dukungan berupa penyediaan lokasi dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) serta pengamanan dari aparat. Ia berharap ke depan ada dukungan lebih besar agar panggung musik tersebut dapat berkembang dan menjadi ruang kreatif yang berkelanjutan.
"Sekarang sudah ada beberapa grup yang mulai rekaman, seperti Pattepang dan Namla. Mudah-mudahan mereka bisa menembus industri musik nasional dan mengharumkan nama Palabuhanratu," harapnya.
Sementara itu, salah seorang pengunjung, Diki Permana (33), menilai pertunjukan musik rutin di Gadobangkong menjadi nilai tambah bagi destinasi wisata Palabuhanratu.
"Saya berharap kegiatan ini terus dilaksanakan setiap minggu. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, lokasi ini merupakan kawasan wisata sehingga pertunjukan musik bisa menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang datang ke Palabuhanratu," ujarnya.
Baca Juga: 530 KK di Cibadak Terdampak Kekeringan, Warga Terpaksa Bikin Kobak untuk MCK
Menurut Diki, jika dikelola secara konsisten dengan dukungan berbagai pihak, panggung musik tersebut berpotensi menjadi agenda wisata rutin yang mampu memperkuat citra Palabuhanratu sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan pantai, tetapi juga ruang kreatif bagi seni dan budaya lokal.













