Operasi Modifikasi Cuaca Disebut Solusi Palsu Atasi Banjir? Ini Penjelasan BMKG

Sukabumiupdate.com
Rabu 28 Jan 2026, 19:23 WIB
Operasi Modifikasi Cuaca Disebut Solusi Palsu Atasi Banjir? Ini Penjelasan BMKG

OMC di selatan Jawa (Sumber: dok BNPB)

SUKABUMIUPDATE.com - Belakang ini sejumlah pemerintah daerah rajin menggelar Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC bersama BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). OMC sebagai upaya mengurangi dampak cuaca ekstrim khususnya curah hujan tinggi disebut publik sebagai solusi palsu mengatasi banjir.

BMKG menegaskan pandangan tersebut keliru karena selama ini OMC dilakukan untuk memitigasi bencana dengan metode terukur berbasis sains.

“Tantangan perubahan iklim bukanlah isapan jempol karena potensi terjadinya hujan ekstrem juga akan terus meningkat,” bunyi keterangan resmi BMKG pada Rabu, 28 Januari 2026, dilansir dari tempo.co.

Baca Juga: Diduga Kabur Gas, Mobil Toyota Rush Tabrak Pemotor di Jalan Siliwangi Sukabumi

Menurut BMKG tidak ada kepentingan bagi pemerintah untuk menciptakan cuaca buruk yang merugikan ekonomi atau membahayakan warga. BMKG menjelaskan bahwa OMC dilakukan dengan menyemai garam ke awan yang sudah tersedia, bukan malah menumbuhkan awan baru. Tujuan dari penyemaian ini untuk mempercepat penurunan hujan sebelum sampai ke wilayah tertentu yang rentan terhadap risiko banjir.

Terkait kekhawatiran bahwa OMC memindahkan hujan hingga memicu banjir di wilayah tetangga, BMKG menerapkan dua metode teknis yang presisi.

Metode pertama adalah jumping process, di mana tim mendeteksi suplai awan dari laut dan menyiramnya agar hujan jatuh di perairan sebelum mencapai daratan. Metode kedua dikenal sebagai competition method yang diterapkan pada awan yang tumbuh langsung di atas daratan.

Baca Juga: Singkong Manggu Waluran jadi Bahan Baku Gaplek Bernilai Ekonomi

Penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan agar tidak berkembang menjadi awan cumulonimbus yang masif dan merusak. Tujuannya adalah meluruhkan intensitas hujan di tempat, bukan memindahkannya ke lokasi lain.

BMKG menekankan bahwa faktor utama banjir tidak hanya curah hujan, melainkan juga penurunan daya dukung lingkungan. Fakta menunjukkan hilangnya sekitar 800 situ di wilayah Jabodetabek sejak tahun 1930-an telah mengurangi daerah resapan air secara signifikan. Kondisi ini membuat air hujan tidak dapat tertampung dengan baik oleh tanah.

Jawa Barat Rajin OMC

Provinsi Jawa Barat termasuk yang rajin menggelar OMC, bersama Jakarta dan Jawa Tengah. Terbaru, OMC akan dilakukan mulai 25 hingga 29 Januari 2026, dengan pusat operasional di Pangkalan TNI AU Husein Sastranegara, Bandung.

Baca Juga: Motor Berpenumpang Lansia Diserempet di Sukaraja Sukabumi, Pelaku Kabur

Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyampaikan pelaksanaan operasi tersebut merupakan langkah antisipatif terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat dalam waktu dekat.

OMC dilakukan untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor, melalui upaya pengaturan atau pengurangan intensitas hujan sebelum mencapai kawasan padat penduduk maupun daerah rawan bencana.

“TNI Angkatan Udara mengerahkan satu armada pesawat Cassa 212 dengan nomor registrasi A-2107 dalam operasi hari ini. Tim melaksanakan sorti satu pada pukul 09.50 WIB dengan fokus menyemai awan di wilayah Jatiluhur. Langkah ini secara spesifik membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan logistik di daerah terdampak tanah longsor, khususnya di Desa Pasir Langu, Cisarua.” Kata Budi dalam keterangannya dikutip dari BMKG.

Baca Juga: Penampakan Tahu Bulukan dan Sayur Berlendir: Viral Menu MBG Sebelum Pelajar dan Guru di Sukabumi Keracunan

Di sisi lain, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, saat meninjau Posko OMC menegaskan bahwa pelaksanaan operasi ini merupakan instruksi langsung dari Gubernur Jawa Barat sebagai bentuk langkah preventif pemerintah daerah dalam melindungi masyarakat.

Operasi difokuskan pada wilayah yang terdampak longsor untuk mengendalikan curah hujan, sehingga proses evakuasi dan penyaluran bantuan logistik dapat berjalan optimal tanpa hambatan cuaca.

“Kami melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai bentuk antisipasi dan solusi teknis atas arahan Bapak Gubernur. Kami berharap Operasi Modifikasi Cuaca ini mampu mengendalikan intensitas hujan di titik-titik rawan. Kami ingin memastikan tim evakuasi di Desa Pasir Langu bekerja maksimal dan bantuan logistik mencapai warga tanpa hambatan cuaca buruk,” kata Herman.

 

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini