Suami Nikah Lagi, Mak Turi Warga Surade Kabupaten Sukabumi Hidupi Anak dan Cucu Berkebutuhan Khusus

[object Object]
Selasa 21 Mar 2017, 06:44 WIB
Suami Nikah Lagi, Mak Turi Warga Surade Kabupaten Sukabumi Hidupi Anak dan Cucu Berkebutuhan Khusus

SUKABUMIUPDATE.com - Mak Turi (58), warga Kampung Mekarasih RT 14/08, Desa Pasiripisi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, sudah tak berdaya lagi untuk mencari nafkah. Namun, ia masih bertanggungjawab terhadap anak, menantu, dan cucunya yang mengalami keterbelakangan mental.

Wanita tua ini, tinggal di rumah bilik hasil gotong-royong warga berukuran 3x5.5 meter persegi. Di gubuk reyot itu, bersama satu anak, menantu, dan satu orang cucunya ia bertahan hidup. Mak Turi sering membantu pemilik penggilingan untuk menarik gabah kering.

“Alhamdulillah, suka dapat beras satu liter dan uang lima ribu Rupiah,” kepada sukabumiupdate.com, Selasa (21/3), di balai-balai depan gubuknya, ia bertutur.

Ia mengatakan, semenjak suaminya menikah lagi dengan wanita lain, praktis ia berjuang sendiri membesarkan anak semata wayang bernama Ijud (48). “Saya tak mampu menyekolahkan Ijud, karena tidak punya biaya. Apalagi, anak saya ini sulit bicara. Kalau pun sekolah, harus ke sekolah khusus,” mak Turi mengisahkan.

Sebagai buruh tani yang tidak memiliki penghasilan tetap, sebut dia, apalagi tanpa suami, diakuinya, sering mendapatkan bantuan dari tetangga. “Bahkan dua cucu saya hasil pernikahan Ijud dengan Deti (37) diasuh orang lain karena tidak memiliki biaya,” paparnya.

BACA JUGA :

Asa Robia, Bocah Miskin Warungkiara Kabupaten Sukabumi yang Terancam Buta

Di Gubuk Kecil, Pasangan LansiaMiskin di Ciracap Kabupaten Sukabumi Hidup dari Belas Kasihan

Keluarga Miskin dan Lumpuh di Panumbangan Kabupaten Sukabumi Tidak Terjamah Bantuan

Bahkan, rumah yang ia tempati, berada di atas lahan milik Yusup Supriadi yang ia panggil dengan sebutan babeh. “Hanya menempati lahan saja. Kami sering dikasih beras dan makanan lainnya,” sambung Turi.

Turi mengakui, mendapatkan jatah beras miskin (Raskin) atau beras sejahtera (Rastra). Tetapi karena ketidakadaan uang, jatah itu Raskin/Rastra itu sering tak mampu ia tebus.

Anaknya Ijud telah berumahtangga, dan memiliki lima anak hasil pernikahan dengan Deti (37). Namun hanya satu anak yang Ijud rawat, yakni Radi. “Dua orang anak Ijud meninggal dunia. Dua orang lagi terpaksa dirawat tetangga karena ketiadaan biaya. Adapun Radi, memiliki kemiripan dengan Ijud, sulit berbicara,” pungkasnya.

Kendati demikian, lanjut Turi, untuk menyambung hidup, Ijud bekerja sebagai pemulung barang rongsokan. Terkadang Ijud mencari bekicot untuk dijual, atau menggembala sapi milik warga. “Tak besar uang dari hasil jerih payahnya. Tapi cukup untuk menambah biaya dapur,” lirih Turi.

Yusup Supriadi (60), tetangga Turi menambahkan, warga sangat prihatin dengan kondisi keluarga tersebut. Apalagi, ujar dia, Ijud tidak memiliki keahlian apapun.

“Tani saja Ijud tak bisa. Segala sesuatunya diserahkan ke saya sampai urusan anak sakit. Tahun 2014 lalu, Ijud mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun semenjak program itu berubah, Ijud belum mendapatkan perhatian dari pemerintah,” jelas Yusup.

Adanya keinginan Radi untuk sekolah, tambah Yusup Supariadi, membuat dirinya kebingungan. Pasalnya, di daerah itu tidak memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB). “Anak Ijud bernama Radi itu kan memiliki keterbelakangan. Tak mungkin bisa di sekolah umum. Harus SLB. Ini yang membuat saya bingung,” tukasnya.

Berita Terkini