SUKABUMIUPDATE.com – Meningkatnya permintaan akan gula merah berbahan baku nira kelapa, ternyata menjadikan sejumlah perajin gula merah dari Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, sedikit nakal. Para perajin ini menggunakan bahan tambahan makanan (BTM) berupa natrium metabisulfit secara berlebihan.
“Ribuan ton per pekan pesanan pasokan dari kota besar. Buyer yang memesan gula merah melalui tengkulak itu meminta produksi yang berpenampilan bagus tidak pecah. Untuk membuat produksi itu tidak mudah pecah, kami memang menggunakan BTM natrium metabisulfit tanpa memikirkan takaran,†ujar seorang perajin gula merah berinisial S, warga Desa Pangumbahan, Kecamaan Ciracap, kepada sukabumiupdate.com, Senin (20/3).
Ia mengatakan, kegunaan BTM natrium metabisulfit itu untuk mengawetkan bahan baku nira agar tidak basi, dan menghindari gagal cetak. “Gula merah yang kami buat ini bukan untuk komsumsi langsung. Kabarnya untuk bahan baku kecap,†katanya.
Sementara sejumlah warga meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi melalui instansi berwenang, melakukan pengawasan terhadap produksi gula merah tersebut dan meminta dilakukan penelitian guna mengetahui efek samping penggunaan natrium metabisulfit terhadap kesehatan manusia.
“Pengawasan dan sosialisasi terhadap perajin gula merah kelapa sangat perlu. Ini bukan hanya terkait produksi. Tetapi efek dari penggunaan BTM berlebihan ini harus disosialisasikan kepada masyarakat. Perajin tidak memikirkan dampak secara sistemik terhadap kesehatan manusia,†kata Maulana (37) seorang warga di Kampung Cimahi RT 02/02, Desa Citanglar, Kecamatan Surade menanggapi.
BACA JUGA:
Terobosan Perajin Ijuk Kalibunder Kabupaten Sukabumi
Kacamata Gaul Frame KayuMaple a la Perajin diKota Sukabumi
Sudah Tujuh Bulan Harga Gula Merah di Pajampangan Kabupaten Sukabumi Anjlok
Ia mengatakan, sudah lama mengetahui gula merah kelapa ini menggunakan BTM melebihi takaran. Sehingga warga khususnya di Kecamatan Ciracap dan Surade, tidak mau mengkomsumsi gula merah berbahan baku nira kelapa itu. “Masyarakat di sini lebih memilih menggunakan gula pasir untuk tambahan pemanis makanan,†ujar dia.
Sebagai kawasan geopark, ujar dia, gula merah telah dipertimbangkan sebagai salah satu oleh-oleh. “Kalau tidak diubah mental perajinnya, dan dibeirkan ilmu yang baik dalam pengolahan gula merah, maka gula merah ini tidak akan bisa menjadi oleh-oleh,†tandasnya.
Sementara Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian Energi Sumber Daya Mineral (PESDM) Kabupaten Sukabumi, H. Jajat mengatakan, penggunaan BTM berupa natrium metabisulfit tidak dianjurkan pada pembuatan gula merah.
BTM natrium metabisulfit untuk gula merah kelapa, tambah dia, bisa digunakan dengan memperhatikan takaran dengan perbandingan 0,01 miligram natrium metabisulfit untuk satu liter nira kelapa. “Tiap sosialisasi yang kami lakukan, kami mengimbau perajin tidak menggunakan BTM yang berlebihan,†jelas Jajat.
Ia mengatakan, sangat mudah membedakan gula merah kelapa yang menggunakan BTM berlebihan. Salah satunya, gula merah kelapa akan terlihat keras dan tidak mudah meleleh terkena sinar matahari. “Kemudian warnanya kuning pucat. Sedangkan kalau menggunakan takaran yang benar, warnanya akan terlihat coklat, dan mudah meleleh ketika terkena sinar matahari,†pungkasnya.
