Gunung Anak Krakatau Siaga, BMKG Waspadai Potensi Tsunami Non-Tektonik di Selat Sunda

Sukabumiupdate.com
Jumat 10 Jul 2026, 23:18 WIB
Gunung Anak Krakatau Siaga, BMKG Waspadai Potensi Tsunami Non-Tektonik di Selat Sunda

Gunung Anak Krakatau dilaporkan telah empat kali erupsi dalam sejam pada Jumat (10/7/2026), kolom abu tertinggi capai 250 meter. (Sumber : Magma Indonesia/PVMBG/Kementerian ESDM)

SUKABUMIUPDATE.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan intensitas pemantauan terhadap kondisi muka air laut dan aktivitas tektonik di sekitar kawasan Selat Sunda.

Langkah kesiapsiagaan ini diambil sebagai respons taktis atas status terkini aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dilaporkan terus mengalami gejolak dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II, Hartanto mengatakan, bahwa berdasarkan laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per Kamis (9/7/2026), tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau kini berada pada Level III dengan status Siaga.

Hasil pengamatan visual di lapangan menunjukkan adanya kepulan asap kawah bertekanan lemah hingga sedang, berwarna putih dan kelabu. Intensitas ketebalan asap tersebut terpantau bervariasi dari tipis hingga tebal dengan ketinggian berkisar antara 10 hingga 150 meter di atas puncak kawah.

Baca Juga: Nestapa Evi PMI Sukabumi di Jeddah, Kabur dari Majikan karena Tak Digaji Kini Koma Akibat Tumor Otak

Mengingat periode erupsi Gunung Anak Krakatau kerap berlangsung secara berulang dalam jangka waktu yang relatif panjang, mulai dari hitungan minggu, bulan, hingga tahun, PVMBG disebut Hartarto tengah fokus melakukan pengawasan ketat.

"Saat ini, pemantauan difokuskan pada perkembangan aktivitas geologi, termasuk perubahan water level (tinggi muka air) dan indikasi pergerakan massa batuan, serta evaluasi terhadap potensi bahaya yang mungkin ditimbulkan," ujar Hartarto dalam siaran pers yang diterima sukabumiupdate.com, Jumat (10/7/2026).

Lebih lanjut Hartarto menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik ini memerlukan perhatian dan kewaspadaan bersama dari seluruh pemangku kebijakan dan masyarakat pesisir.

Selain harus mengantisipasi ancaman bahaya primer seperti guguran awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta sebaran abu dan gas beracun, ada ancaman bahaya ikutan (secondary hazard) yang tidak kalah mematikan.

Hartanto mengingatkan adanya potensi bahaya ikutan berupa terjadinya aliran lahar dingin atau bencana longsoran material tubuh gunung ke dalam laut dalam volume besar.

Baca Juga: Viral Aksi Kejar-kejaran Diduga Tawuran Bermotor di Bawah Flyover Sukabumi

Fenomena kolapsnya dinding gunung ke laut tersebut sangat rawan memicu terjadinya tsunami non-tektonik, sebagaimana yang pernah mengguncang dan meluluhlantakkan kawasan pesisir Selat Sunda pada tahun 2018 silam.

Kendati demikian, BMKG menegaskan bahwa hingga detik ini jaringan sensor di laut belum mendeteksi adanya anomali gelombang ataupun perubahan muka air laut yang mengarah pada indikasi tsunami.

"Hingga saat ini BMKG belum mendeteksi adanya tsunami maupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami," ungkap Hartarto.

Guna meminimalkan risiko kepanikan publik di tengah beredarnya berbagai spekulasi, lanjut Hartarto, BMKG bersama PVMBG memastikan sinergi pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi gunung api dan laut di sekitarnya akan terus berjalan selama 24 jam penuh sebagai bagian dari sistem mitigasi bencana nasional yang terintegrasi.

Pihak BMKG juga mengeluarkan empat poin imbauan strategis bagi masyarakat, wisatawan, serta para nelayan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda.

Masyarakat diminta untuk tetap tenang, tidak panik, serta selektif dalam menyaring informasi dengan tidak mudah mempercayai isu-isu erupsi yang beredar di media sosial sebelum terverifikasi kebenarannya.

Baca Juga: Kecelakaan Maut di Jalur Lingkar Selatan Sukabumi, Pemotor Tewas usai Tabrak Truk Parkir

Publik diwajibkan memastikan seluruh informasi resmi hanya bersumber dari kanal komunikasi bercentang biru milik BMKG, PVMBG, atau instansi pemerintah terkait.

Selanjutnya, BMKG meminta dengan keras kepada para wisatawan dan nelayan untuk mematuhi rekomendasi steril dengan tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius aman 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Terakhir, bagi masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir pantai Selat Sunda, diimbau untuk kembali mempelajari dan memahami peta jalur evakuasi, titik kumpul aman, serta prosedur kesiapsiagaan mandiri apabila sewaktu-waktu pemerintah menerbitkan perintah evakuasi resmi.

"BMKG akan terus memperbarui informasi berdasarkan hasil pemantauan terbaru dan akan segera menyampaikan kepada masyarakat apabila terdapat perkembangan yang memerlukan peningkatan kewaspadaan," pungkasnya.

Berita Terkait
Berita Terkini