SUKABUMIUPDATE.com - Anggota komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka menyoroti kasus child grooming artis Aurelie Moeremans yang saat ini tengah menjadi viral di media sosial usai bukunya berjudul Broken Strings dirilis untuk publik.
Seperti diketahui, buku Broken Strings milik Aurelie Moeremans menceritakan pengalaman sang aktris ketika menjadi korban child grooming oleh seorang pria yang jauh lebih dewasa saat ia masih berusia remaja.
Broken Strings menarik perhatian masyarakat Indonesia hingga menjadi viral di media sosial. Rieke Diah Pitaloka menyampaikan pernyataan tentang kasus child grooming yang masih tabu di Tanah Air saat rapat dengar pendapat bersama Komnas HAM dan Komnas Perempuan di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis 15 Januari 2026.
Mengutip dari Suara.com , dalam rapat tersebut, Rieke membuka pembahasannya dengan menyebut bahwa kasus ini sedang menjadi perhatian luas di tengah masyarakat.
“Kasus yang sedang ramai di media sosial adalah child grooming. Child grooming ini adalah sesuatu yang tabu bagi Indonesia selama ini,” ujar Rieke dikutip dari Suara.com pada Sabtu, (17/01/2026).
Baca Juga: Aurelie Moeremans Ungkap Peluang Adaptasi Broken Strings ke Film atau Serial
Ia kemudian menyinggung keberanian Aurelie yang menerbitkan memoar secara gratis dalam bentuk e-book.
“Tetapi ada seorang perempuan yang bernama Aurelie Moeremans yang mengeluarkan buku e-book secara gratis yang berjudul Broken Strings,” katanya.
Rieke lalu menggambarkan buku tersebut di mana berisi kisah pahit masa muda Aurelie yang hancur akibat pengalaman traumatis.
“Bagaimana masa mudanya dihancurkan, bukan hanya dirampas. Dan ini adalah memoar yang terindikasi merupakan kisah hidup yang nyata, dan ini bisa terjadi pada siapa saja juga kepada anak-anak kita,” ucapnya.
Dengan tegas, Rieke menyoroti sikap negara yang dirasa belum bisa bersikap tegas dalam merespons isu serius ini.
“Ketika negara diam, ketika kita ada di dalam posisi yang harusnya bersuara, harusnya memberikan proteksi, kita diam,” tuturnya.
Ia juga menyayangkan minimnya respons dari lembaga terkait.
“Saya belum mendengar ada suara dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan secara utuh dan serius terhadap kasus ini,” lanjut Rieke.
Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan bahwa persoalan child grooming bukan perkara sepele.
“Ini bukan masalah yang (sepele) saya kira sudah menjadi perhatian internasional,” katanya.
Dengan nada emosional, ia mengingatkan bahwa hal ini bisa menimpa siapa saja.
“Saya agak emosional ya, ini bisa terjadi loh pada anak-anak kita,” katanya.
Baca Juga: Dukung Aurelie Moeremans, Hesti Purwadinata dan Suami Dapat Ancaman
Rieke juga menyebut bahwa kasus serupa sebenarnya banyak terjadi di Indonesia, hanya saja jarang terungkap.
“Sebetulnya banyak kasus ini di Indonesia, untung ada anak ini yang berani ngomong,” ujarnya.
Ia menyinggung indikasi adanya pembelaan diri dari pihak yang diduga sebagai pelaku.
“Lalu sekarang indikasi pelakunya, ini sekarang sedang melakukan pembelaan diri dan ini rame,” kata Rieke.
Menurutnya, pembelaan tersebut justru berpotensi menormalisasi kekerasan terhadap anak.
“Indikasi pelaku melakukan pembelaan diri seolah-olah normalisasi bagaimana kekerasan terhadap anak. Ada pembujukan di situ, pernikahan, ada indikasi kekerasan seksual,” tegasnya.
Rieke pun mendesak agar kasus ini diusut secara serius demi perlindungan anak di Indonesia. Ia berharap aparat dan lembaga terkait tidak lagi diam dan segera mengambil langkah konkret untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Sumber: Suara.com




