Musim Kemarau Kota Sukabumi Mulai Kekeringan, Warga Cikundul Andalkan Bantuan Air Bersih

Sukabumiupdate.com
Jumat 17 Jul 2026, 16:54 WIB
Musim Kemarau Kota Sukabumi Mulai Kekeringan, Warga Cikundul Andalkan Bantuan Air Bersih

Warga Kelurahan Cikundul, Kota Sukabumi saat mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih. (Sumber : SU/Asep Awaludin).

SUKABUMIUPDATE.com – Krisis air bersih mulai dirasakan warga disejumlah wilayah di Kota Sukabumi, dimana sedikitnya empat kecamatan mulai terdampak kekeringan, sementara ratusan kepala keluarga di Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, terpaksa mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini dikarenakan musim kemarau pada tahun ini di prediksi BMKG akan lebih panjang dan kering.

Merespons kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi bersama Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa (PDAM) dan BPBD Kota Sukabumi menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Cikundul, Jumat (17/7/2026).

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kota Sukabumi, Imran Wardhani, mengatakan penyaluran dilakukan setelah pihaknya menerima permohonan dari Kelurahan Cikundul yang mulai mengalami darurat kekeringan.

"Ini merupakan upaya atau respon kami (PMI) atas permintaan dari Kelurahan Cikundul, karena terjadi darurat kekeringan dan kami langsung merespon bersama PDAM menyalurkan air bersih dua armada dengan kapasitas 9.500 liter yang akan dimanfaatkan oleh 340 KK," ujar Imran kepada sukabumiupdate.com di lokasi, Jumat (17/07/2026).

Baca Juga: Hotman Paris Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Menurutnya, PMI telah bersiaga selama masa siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan yang berlaku sejak 1 Juli hingga 30 September 2026 sesuai keputusan pemerintah.

"Alhamdulillah untuk persediaan air kami bersama dengan PDAM selalu siaga 24 jam dan apabila diperlukan akan siap untuk menyalurkan air. Artinya selama masa siaga kami tetap menyiagakan," katanya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoshep Sabaruddin, mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dan lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Karena itu, Pemerintah Kota Sukabumi telah menetapkan status siaga darurat kekeringan mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.

"Kekeringan di Kota Sukabumi menurut perkiraan BMKG akan lebih panjang dan akan lebih kering dari tahun kemarin, sesuai dengan SK siaga darurat kekeringan yang disampaikan Wali Kota itu mulai dari 1 Juli sampai 30 September 2026," ujarnya.

Baca Juga: Dump Truck Masuk Jalur Berlawanan, 3 Orang Terluka dalam Kecelakaan di Cicurug Sukabumi

Meski demikian, pihaknya berharap dampak kekeringan tidak berlangsung hingga akhir masa siaga.

"Tapi kota berharap kekeringan tidak terjadi selama itu atau tidak lebih dari tanggal 30 September," ucap Yoshep.

BPBD bersama PMI, PDAM dan berbagai pemangku kepentingan terus berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.

"Di sisi lain kita mengantisipasinya dengan menyalurkan air bersih dengan berkoordinasi dengan teman-teman PMI, PDAM dan stakeholder lainnya untuk menyalurkan air bersih terutama di daerah Cikundul yang sampai saat ini ada permintaan," jelasnya.

Yoshep menyebut wilayah rawan kekeringan tersebar hampir di seluruh kecamatan. Namun saat ini baru empat kecamatan yang mulai terdampak, yakni Lembursitu, Baros, Warudoyong, dan Cibeureum.

Baca Juga: Sumur Mengering Saat Kemarau, Warga Cikundul Sukabumi Rela Rogoh Kocek demi Air Bersih

"Kalau titiknya itu sebetulnya hampir di seluruh kecamatan di Kota Sukabumi, terutama di Kecamatan Lembursitu, Baros, Warudoyong dan Kecamatan Cibeureum. Saat ini baru ada sekitar empat kecamatan yang mengalami kekeringan dan memang berdasarkan data tahun kemarin juga terutama di Kecamatan Lembursitu ini yang sering mengalami kekeringan," tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, warga Cikundul Hilir, Kelurahan Cikundul, Usah Aisah (50), mengaku sudah sekitar satu bulan terakhir kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur di lingkungan tempat tinggalnya mulai mengering.

"Iya di sini lagi sulit air paling dari sebulan yang lalu, di sini mah emang sulit air sumur-sumur pada saat (surut), tapi kalau ibu mah suka beli aja kalau ada orang yang mau ngambilnya mah (air) dari mata air di Sungai Cimandiri," ungkapnya.

Bantuan air bersih dari PMI dan PDAM pun disambut penuh syukur oleh warga.

Baca Juga: Atasi Kekurangan Guru, Pemprov Jabar Kirim 1.147 Mahasiswa UPI ke Sekolah-sekolah

"Alhamdulillah bahagia ibu kalau ada penyaluran air gini, soalnya air kan buat kebutuhan sehari-hari, buat minum, nyuci baju, nyuci piring," katanya.

Meski demikian, Aisah mengaku tetap dihantui kekhawatiran apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.

"Ya pasti khawatir kalau berkepanjangan mah, tapi mudah-mudahan nggak terlalu lama. Di sini kan memang langganan setiap tahun kalau musim kemarau suka kesulitan air, harapannya ya pengen nggak kesulitan saja," pungkasnya.

 

Berita Terkait
Berita Terkini