Diarpus Sukabumi Ajak Masyarakat Ikuti Survei Tingkat Kegemaran Membaca 2026

Sukabumiupdate.com
Selasa 06 Okt 2026, 11:35 WIB
Diarpus Sukabumi Ajak Masyarakat Ikuti Survei Tingkat Kegemaran Membaca 2026

Diarpus Kabupaten Sukabumi sebar survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) 2026 hingga 31 Oktober. (Sumber Foto: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com - Dinas Arsip dan Perpustakaan (Diarpus) Kabupaten Sukabumi tengah menyebarluaskan Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) kepada masyarakat. Survei ini dilakukan untuk melihat tingkat kegemaran membaca masyarakat di Kabupaten Sukabumi.

Ketua Tim Pembudayaan Gemar Membaca Diarpus Kabupaten Sukabumi, Dedi Mulyadi, mengatakan survei TKM dilakukan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, survei tersebut menjadi salah satu indikator dalam urusan perpustakaan, selain Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).

"Tujuannya sebetulnya untuk melihat tingkat kegemaran membaca di sebuah wilayah. Jadi survei TKM ini dilakukan, hari ini dilakukan se-Indonesia sama-sama," kata Dedi, Senin (5/10/2026).

Dedi menjelaskan, TKM lebih menyasar individu masyarakat. Untuk setiap kabupaten/kota, pengambilan sampel ditetapkan sebanyak 400 orang.

Baca Juga: Hari Pustakawan Nasional, Diarpus Sukabumi Ajak Masyarakat Jauhi Gadget Tingkatkan Literasi

Meski demikian, penyebarluasan survei dilakukan secara lebih luas agar masyarakat dengan latar belakang yang beragam dapat berpartisipasi. Mulai dari perbedaan usia hingga pekerjaan, seperti pedagang, pekerja pabrik, pegawai negeri, guru, pelajar, mahasiswa dan masyarakat lainnya.

"Memang dibatasi sampling itu hanya 400 orang. Nah, tujuannya adalah untuk melihat sebetulnya Kabupaten Sukabumi Tingkat Kegemaran Membacanya bagaimana nih? Rendah, sedang, tinggi," ujarnya.

Masyarakat yang mengikuti survei dapat mengisi tautan yang telah disediakan. Data yang masuk selanjutnya akan diterima dan diolah oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Dedi menyebut jumlah masyarakat yang mengisi survei dapat lebih dari 400 orang. Namun, untuk pengolahan hasilnya, Perpusnas tetap akan mengambil 400 orang sebagai sampel.

"Iya, betul. Jadi kita nyebarin seluas-luasnya, ternyata yang ngisinya misalkan ada 1.000 orang, ya tetap Perpusnas akan ngambilnya hanya 400 orang yang di-sampling," ungkapnya.

Dalam pengukuran TKM, terdapat tiga indikator yang menjadi bagian penilaian, yakni pra membaca, saat membaca, dan pasca membaca.

Selain itu, terdapat sejumlah aspek yang diperhatikan dalam melihat kebiasaan membaca masyarakat. Di antaranya frekuensi membaca, jumlah buku yang dibaca dalam periode tertentu, serta durasi membaca.

"Semakin sering membaca, semakin banyak buku yang dibaca, semakin lama durasi membaca maka ya itu pasti akan menjadi salah satu indikator untuk Tingkat Kegemaran Membaca," jelasnya.

Baca Juga: Perpustakaan Sukabumi Berbasis Teknologi, Diarpus Latih Pengelola Gunakan INLISLITE

Tak hanya kebiasaan membaca, akses masyarakat terhadap tempat membaca juga menjadi salah satu indikator. Jarak dari rumah menuju perpustakaan, misalnya, turut diperhitungkan dalam pengukuran.

Menurut Dedi, hasil survei nantinya dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kegemaran membaca masyarakat. Jika hasilnya masih rendah, kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui penyebabnya.

Survei TKM 2026 tersebut masih berlangsung dan ditargetkan disebarluaskan kepada masyarakat hingga 31 O6ktober 2026.

Hasil pengukuran nantinya juga diharapkan dapat menjadi bahan dalam menentukan kebijakan untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat.

"Pada akhirnya ini akan jadi bahan pengambilan kebijakan. 'Oh, ternyata masyarakat Kabupaten Sukabumi ternyata kegemaran membacanya rendah.' Berarti kan harus dievaluasi kenapa rendah," kata Dedi.

Ia mencontohkan, hasil survei dapat menjadi bahan untuk meningkatkan layanan perpustakaan keliling, mendekatkan akses bacaan kepada masyarakat, maupun memperbarui koleksi buku di perpustakaan.

"Berarti kan harus ada langkah-langkah yang dilakukan. 'Oh, berarti harus misalnya harus sering pusling,' gitu kan. Atau harus mendekatkan akses bacaan ke masyarakat, kah. Atau misalnya, 'Oh, ternyata buku-buku di perpustakaannya harus terus di-update,' misalkan tiap tahun," ujarnya.

Dedi mengatakan survei TKM bukan kegiatan yang baru dilakukan. Pengukuran tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun. Selain TKM, Diarpus juga melaksanakan survei Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).

Sebagai gambaran, berdasarkan hasil pengukuran TKM 2025, Kabupaten Sukabumi mencatat nilai rata-rata 63,41 dan menjadi kabupaten/kota dengan nilai tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Kabupaten Subang. Namun, seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat dalam pengukuran tersebut masih berada dalam kategori rendah.

Nilai TKM Kabupaten Sukabumi tersebut merupakan hasil dari tiga indikator, yakni pra membaca sebesar 56,39, saat membaca 61,56, dan pasca membaca 68,83.

Untuk mendukung kegemaran membaca masyarakat, Diarpus Kabupaten Sukabumi juga memiliki sejumlah layanan, salah satunya layanan Buku Box. Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat meminjam buku dalam jumlah lebih banyak dibandingkan peminjaman biasa di perpustakaan.

"Kalau peminjaman biasa ke perpustakaan hanya dua buku maksimal, hanya tujuh hari. Kalau Buku Box bisa sebulan 100 buku," ungkapnya.

Dedi berharap masyarakat ikut berpartisipasi mengisi survei yang telah disediakan. Menurutnya, partisipasi masyarakat diperlukan agar kondisi kegemaran membaca di Kabupaten Sukabumi dapat tergambarkan melalui data.

"Seberapa pun tinggi masyarakat kita senang membaca, kalau tidak ngisi survei ini kan enggak ketahuan. Jadi harapannya partisipasi masyarakat. Terus yang kedua memang harapannya adalah Tingkat Kegemaran Membaca di Kabupaten Sukabumi terus meningkat," pungkasnya. (adv)

TKM

Berita Terkait
Berita Terkini