5 Amalan yang Dianjurkan pada Rebo Wekasan

Sukabumiupdate.com
Rabu 12 Agu 2026, 12:00 WIB
5 Amalan yang Dianjurkan pada Rebo Wekasan

Ilustrasi -Membaca Al-Quran, Amalan yang Dianjurkan pada Rebo Wekasan. (Sumber : pexels.com/@Alena Darmel)

SUKABUMIUPDATE.com - Rebo Wekasan, atau Rabu terakhir pada bulan Safar, merupakan tradisi yang telah lama berkembang di tengah masyarakat Muslim Nusantara. Dalam praktiknya, momentum ini diisi dengan berbagai amalan seperti doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Meski demikian, terdapat hal penting yang perlu diperhatikan. Amalan Rebo Wekasan hendaknya tidak dilakukan dengan keyakinan bahwa bulan Safar atau hari Rabu terakhir memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan, manfaat, maupun mudarat dengan sendirinya. Seluruh manfaat dan mudarat pada hakikatnya berada dalam kehendak Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

Artinya: “Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada tathayyur (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa sial, tidak ada kesialan pada bulan Safar, dan larilah kamu dari penderita kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” (HR. al-Bukhari).

Imam Abdurrauf al-Munawi dalam Faidh al-Qadir juga menjelaskan bahwa yang dilarang adalah meyakini hari Rabu sebagai hari sial sebagaimana keyakinan para ahli nujum dan peramal. Hari-hari pada hakikatnya tidak mempunyai kekuatan untuk memberikan manfaat atau mudarat dengan sendirinya.

Beliau menegaskan:

وَالْحَاصِلُ أَنَّ تَوَقِّيَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ عَلَى جِهَةِ الطِّيَرَةِ وَظَنِّ اعْتِقَادِ الْمُنَجِّمِينَ حَرَامٌ شَدِيدُ التَّحْرِيمِ، إِذِ الْأَيَّامُ كُلُّهَا لِلَّهِ تَعَالَى، لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ بِذَاتِهَا

Artinya: “Menghindari hari Rabu karena meyakini kesialan sebagaimana keyakinan para peramal hukumnya haram. Sebab seluruh hari adalah milik Allah. Hari-hari itu tidak memberi manfaat maupun mudarat dengan sendirinya.” (Faidh al-Qadir, Juz I, hlm. 62).

Dengan pemahaman tersebut, Rebo Wekasan dapat diisi dengan amal saleh sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah Swt. Berikut lima amalan yang disebutkan dalam khazanah keislaman Nusantara.

1. Memperbanyak Doa

Amalan pertama yang dapat dilakukan pada Rebo Wekasan adalah memperbanyak doa. Doa merupakan bentuk penghambaan sekaligus permohonan seorang hamba kepada Allah Swt agar diberikan keselamatan, perlindungan, dan kebaikan.

Baca Juga: Rebo Wekasan 2026: Bacaan Doa Tolak Bala Lengkap dengan Latin dan Artinya

2. Memperbanyak Istighfar

Amalan berikutnya adalah memperbanyak istighfar. Memohon ampun kepada Allah Swt merupakan ibadah yang dianjurkan setiap saat, termasuk ketika memasuki Rebo Wekasan.

Allah Swt berfirman:

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ

Artinya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (QS. Hud: 90).

Rasulullah Saw juga bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, menghilangkan setiap kegundahan, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad).

Karena itu, Rebo Wekasan dapat menjadi momentum untuk memperbanyak membaca astaghfirullah, memperbaiki diri, serta memohon ampun atas dosa dan kekhilafan yang telah dilakukan.

3. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an juga termasuk amalan saleh yang dapat dilakukan pada Rebo Wekasan. Tilawah tidak terikat dengan waktu tertentu sehingga seorang Muslim dianjurkan membacanya kapan pun memiliki kesempatan.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Artinya: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. at-Tirmidzi).

Baca Juga: Penemuan Pria Tak Bernyawa Tergantung di Jembatan Cilubang Cidolog Sukabumi

4. Menulis Tujuh Ayat Salam

Di kalangan pesantren dan sebagian masyarakat Muslim Nusantara dikenal pula amalan menulis tujuh ayat Al-Qur’an yang diawali dengan lafaz سَلَامٌ (salamun). Ayat-ayat tersebut kemudian ditulis pada wadah dan dilarutkan dengan air untuk diminum sebagai bentuk tabarruk.

Keterangan ini dinukil oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihayah az-Zain. Beliau menyebutkan:

وَمَنْ كَتَبَ هَذِهِ الْآيَاتِ السَّبْعَ فِي إِنَاءٍ وَمَحَاهَا بِمَاءٍ وَشَرِبَهُ لَمْ يُصِبْهُ شَيْءٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلَايَا

Artinya: “Barang siapa menulis tujuh ayat tersebut pada sebuah wadah, kemudian melarutkannya dengan air lalu meminumnya, maka ia tidak akan terkena bala tersebut.”

Tujuh ayat yang dimaksud adalah:

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ — QS. Yasin: 58

سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ — QS. ash-Shaffat: 79

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ — QS. ash-Shaffat: 109

سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ — QS. ash-Shaffat: 120

سَلَامٌ عَلَى آلِ يَاسِينَ — QS. ash-Shaffat: 130

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ — QS. az-Zumar: 73

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مُطْلَعِ الْفَجْرِ — QS. al-Qadr: 5

Syekh Nawawi al-Bantani juga mengingatkan agar tulisan yang memuat ayat Al-Qur’an tersebut tetap diperlakukan dengan penuh penghormatan sebagaimana penghormatan terhadap mushaf.

5. Melaksanakan Shalat Sunnah Mutlak

Amalan kelima adalah melaksanakan shalat sunnah mutlak. Sebagian ulama menyebutkan adanya praktik shalat empat rakaat yang dilakukan pada momentum Rebo Wekasan.

Keterangan mengenai praktik tersebut antara lain terdapat dalam Kanz an-Najah wa as-Surur karya Syekh Abdul Hamid al-Qudsi dan Al-Risalah al-Badi'ah karya KH M. Djamaluddin Ahmad.

Penting dicatat, shalat tersebut diniatkan sebagai shalat sunnah mutlak, bukan sebagai shalat khusus Rebo Wekasan.

Dikutio dari NU Online, setiap rakaat membaca Surah Al-Fatihah, kemudian Surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Surah Al-Ikhlas lima kali, serta Surah Al-Falaq dan An-Nas masing-masing satu kali. Setelah salam, dianjurkan membaca doa perlindungan sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab tersebut.

Pada akhirnya, Rebo Wekasan dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, amalan tujuh ayat salam, maupun shalat sunnah mutlak merupakan bagian dari tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat Muslim Nusantara.

Namun, yang tidak kalah penting adalah menjaga keyakinan bahwa hari, tanggal, maupun bulan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat atau mudarat dengan sendirinya. Karena itu, berbagai amalan tersebut hendaknya diniatkan sebagai ibadah dan taqarrub kepada Allah Swt, bukan karena menganggap bulan Safar atau Rebo Wekasan sebagai waktu yang secara zat membawa kesialan.

Dengan demikian, Rebo Wekasan dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat doa dan tawakal, serta memohon perlindungan kepada Allah Swt dari segala keburukan.

Baca Juga: Newport Minta Maaf soal Challenge Hafalan Surat Ad-Dhuha Berhadiah Miras di The Sounds Project

Sumber:  NU Online

Berita Terkait
Berita Terkini