Pengakuan Pengusaha: Kenaikan Harga Plastik Bisa Picu PHK, Industri Mulai Kelabakan

Sukabumiupdate.com
Selasa 21 Apr 2026, 11:51 WIB
Pengakuan Pengusaha: Kenaikan Harga Plastik Bisa Picu PHK, Industri Mulai Kelabakan

Ilustrasi AI. Kenaikan harga plastik mengancam keberlangsungan industri (Sumber: copilot)

SUKABUMIUPDATE.com - Kenaikan harga plastik global yang sulit dikendalikan bisa memicu PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja. Pengusaha industri padat karya di Indonesia blak-blakan jika PHK menjadi resiko dari situasi global khususnya timur tengah bagi kalangan pekerja di Indonesia.

Hal ini diungkap Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani saat membahas situasi dunia usaha terkini, di tengah kemelut perang di kawasan timur tengah. Ia  menyatakan kenaikan harga plastik yang terus berlanjut tak hanya berisiko bagi pengusaha tapi juga tenaga kerja, dimana kemungkinan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) khususnya di sektor padat karya bila harga plastik terus melonjak.

Shinta menyatakan kenaikan harga bahan baku plastik saat ini sudah melampaui pola fluktuasi normal. “Jika tekanan biaya ini berlanjut, risiko terhadap tenaga kerja menjadi nyata, meskipun dampaknya akan terlihat dalam beberapa tahap penyesuaian,” ucap Shinta dilansir dari tempo.co, Sabtu, 18 April 2026.

Baca Juga: Muscab PPP Sukabumi Tetapkan Formatur: Ima Slamet dan Andri Hidayana Siap Susun Pengurus

Ia menjelaskan pada tahap awal, dunia usaha akan melakukan langkah penyesuaian melalui efisiensi operasional, seperti penyesuaian jam kerja, pengurangan lembur, serta penundaan ekspansi dan rekrutmen. Namun, jika tekanan biaya terus meningkat, berkepanjangan dan tidak diimbangi dengan kebijakan yang mendukung, maka kemampuan dunia usaha akan semakin terbatas.

Dalam kondisi tersebut, risiko terhadap tenaga kerja akan meningkat. “Dalam situasi tekanan yang berkepanjangan, tidak menutup kemungkinan berujung pada pengurangan tenaga kerja, khususnya di sektor padat karya yang sangat bergantung pada kemasan plastik,” ucapnya.

Ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi menyebabkan harga plastik melambung. Sekitar 70 persen pasokan global nafta berasal dari Timur Tengah. Nafta adalah cairan hasil olahan minyak bumi yang berfungsi sebagai bahan baku utama dalam industri petrokimia untuk memproduksi plastik.

Baca Juga: 20 Kata-Kata Hari Kartini 2026, Penuh Makna, Motivasi, dan Penyemangat

Kenaikan harga resin plastik memberikan tekanan langsung dan signifikan terhadap biaya operasional dunia usaha, khususnya sektor yang sangat bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, dan retail.

Menurut Shinta, kenaikan harga bahan baku plastik sudah melampaui pola fluktuasi normal. Nafta naik hampir 45 persen. Hasilnya resin PET naik 60 persen. “Pabrik pemasok kemasan memangkas kapasitas produksi sekitar 20 sampai 30 persen. Harga kemasan naik bervariasi hingga 100 persen sampai 150 persen.

Dalam situasi ini, pelaku usaha berada pada posisi yang sangat menantang: di satu sisi harus menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen untuk mempertahankan daya beli masyarakat.

Baca Juga: DKUKM Sukabumi Gandeng Kemenkop dan BRIN, Perkuat Ekonomi Lewat Koperasi Merah Putih

“Di sisi lain, tekanan kenaikan biaya terus meningkat secara signifikan. Bagi UMKM dan sektor dengan margin tipis, tekanan ini sudah mulai menggerus profitabilitas dan berpotensi mengganggu keberlanjutan usaha jika berlangsung dalam jangka panjang.”

Shinta menyatakan kondisi ini tidak hanya berdampak pada dunia usaha tetapi juga pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan. 

Respon Pemerintah

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah mencari berbagai alternatif negara pemasok bahan baku plastik untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri. Selama ini bahan baku utama biji plastik berupa nafta banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Cerita dari Surade: Ketua RT Perjuangkan Rutilahu untuk Warganya, Rumahnya Justru Nyaris Ambruk

Namun, kondisi global membuat pengapalan menjadi lebih panjang dan kompetisi antar negara untuk memperoleh bahan tersebut semakin ketat. "Jadi memang plastik itu, bahan bakunya untuk biji plastik itu kan selama ini, nafta itu dari Timur Tengah. Sekarang kita sudah dapat alternatif dari Afrika, India, dan Amerika," ujar Budi pada Kamis, 16 April 2026, dikutip dari Antara.

Industri Tekstil Kelabakan

Industri tekstil nasional mengaku menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga bahan baku, dengan kenaikan mencapai 30 hingga 40 persen. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana mengatakan lonjakan harga bahan baku gila-gilaan membuat industri terancam tak bisa survive atau bertahan.

"Ya, kenaikan bahan baku tekstil ini kan udah gila-gilaan ya, 30 persen, 40 persen. Dan ini menjadi salah satu kendala besar kita mengingat tidak ada suplai lokal," ujarnya kepada wartawan, Jumat 17 April 2026.

Baca Juga: Ramuan Daun Keji Beling: Herbal Alami untuk Mengatasi Batu Ginjal

Menurutnya, keterbatasan pasokan dalam negeri membuat industri sangat bergantung pada impor. Kondisi ini membuat pelaku usaha tidak memiliki banyak pilihan selain mencari alternatif sumber bahan baku dari luar negeri. "Jadi substitusi yang harus dilakukan adalah supplier tidak hanya dari China tapi juga dari India," jelasnya.

Melansir suara.com, API mulai melirik negara lain sebagai sumber bahan baku untuk menekan biaya produksi yang semakin tinggi. Langkah ini dinilai penting agar industri tetap bisa bertahan di tengah tekanan harga. "Kami juga pikirkan supplier-supplier dari Vietnam, yang memungkinkan untuk menggantikan bahan baku supaya saat ini tidak terlalu mahal," jelasnya.

Danang menyebut, lonjakan harga bahan baku sudah mulai menggerus kemampuan industri untuk bertahan. Terlebih, biaya energi yang berpotensi ikut meningkat akan semakin menambah beban produksi.

Baca Juga: BGN Tetapkan 18 Aturan Distribusi Makan Bergizi Gratis, Ini Rinciannya

"Karena terlalu mahal, kita udah enggak bisa survive di mana biaya-biaya energi akan segera naik, meskipun pemerintah statement tidak akan mengalami kenaikan pada tahun sampai akhir tahun 2026," tuturnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku terutama terjadi pada komponen berbasis kimia yang menjadi dasar produksi tekstil. Komponen ini selama ini banyak diimpor dari berbagai negara.

"(Naik) 30, 40 persen. Nah kalau bahan baku tekstil kan banyak banget ya. Kan kita bicara MEG, kita bicara poli, itu banyak sekali," ungkapnya.

Baca Juga: Pelayanan Adminduk di Palabuhanratu Diminati Warga, Petugas Siaga Melayani

Bahan-bahan tersebut umumnya merupakan turunan minyak, sehingga sangat dipengaruhi oleh kondisi global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. "Semua untuk bahan-bahan chemical untuk membikin yarn, benang, itu dari chemical, dan itu potensial naik," ujar Danang.

Menurut Danang, ketergantungan terhadap bahan baku berbasis minyak membuat industri tekstil rentan terhadap gangguan distribusi global. Salah satunya jika jalur perdagangan utama seperti Selat Hormuz terganggu.

"Dan kalau terjadi benar-benar Selat Hormuz tidak memungkinkan untuk menjadi lalu lintas, sementara bahan-bahan itu memang turunan minyak, artinya ya kita terkendala juga dengan adanya perang Iran-Israel ini," pungkasnya.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini