Pencarian Korban Longsor Cisarua KBB Berlanjut, 20 Orang Masih Dinyatakan Hilang

Sukabumiupdate.com
Jumat 30 Jan 2026, 23:28 WIB
Pencarian Korban Longsor Cisarua KBB Berlanjut, 20 Orang Masih Dinyatakan Hilang

Tim SAR gabungan saat mengevakuasi korban longsor di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat. (Sumber Foto: Dok. BNPB)

SUKABUMIUPDATE.com - Operasi pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dipastikan terus berlanjut. Keputusan ini diambil setelah tim SAR gabungan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses evakuasi yang telah berlangsung selama tujuh hari terakhir, terhitung sejak Sabtu (24/1/2026) hingga Jumat (30/1/2026).

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, berharap seluruh korban dapat ditemukan sebelum masa status tanggap darurat berakhir. Sebagaimana diketahui, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail telah menetapkan status darurat bencana longsor selama 14 hari sejak hari pertama kejadian.

Lebih lanjut, Syafii menuturkan, pada hari ketujuh pencarian korban longsor, tim SAR gabungan menemukan korban meninggal dunia sebanyak lima kantong jenazah. Dengan demikian, sudah ada 60 kantong jenazah yang dievakuasi oleh tim SAR dan diserahkan kepada tim DVI Polda Jabar untuk diidentifikasi.

Sementara itu, jumlah korban meninggal yang telah teridentifikasi sebanyak 44 jiwa.

"Jumlah korban yang masih dicari 20 jiwa," ucap Syafii di Desa Pasirlangu, Jumat (30/1/2026).

Baca Juga: BPBD: 286 Huntara dan 124 Huntap Terbangun dari Bantuan NGO Pascabencana Sukabumi 2024–2025

Pencarian korban longsor dilakukan oleh lebih dari 3.000 personil tim SAR gabungan. Tim memanfaatkan berbagai peralatan dalam mencari korban, seperti lima pesawat helikopter, 17 alat berat, dan 22 drone.

Operasi SAR pencarian korban longsor dilakukan selama 24 jam sehari. Meskipun pada malam hari, pencarian korban di lokasi longsor dihentikan, proses evaluasi dan koordinasi penanganan longsor terus dilaksanakan.

"Tantangannya ketebalan longsor di titik tertentu lebih dari 10 meter, curah hujan tinggi sehingga alat berat hanya bisa dioperasikan di tepian sektor," kata Syafii.

Rencana Relokasi

Di sisi lain, Bupati KBB Jeje Ritchie Ismail menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah menerima hasil pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT) dari Badan Geologi Kementerian ESDM.

Baca Juga: Kisah di Balik Aksi Kemanusiaan Chef Prancis di Dapur Darurat Longsor Cisarua KBB

Berdasarkan peta tersebut, beberapa warga yang rumahnya berada di zona kuning telah diperbolehkan kembali ke kediaman masing-masing. Namun, bagi warga yang rumahnya masuk dalam zona merah atau rawan gerakan tanah, pemerintah akan melakukan relokasi total dan disediakan hunian sementara serta hunian tetap.

"Pemerintah daerah akan cari lahan untuk relokasi berdasarkan hasil pemetaan dari Badan Geologi bahwa lahan tersebut aman untuk dihuni," ujar Jeje.

Bupati juga mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Bandung Barat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat intensitas hujan yang masih tinggi. Warga diminta segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat aman jika menemukan tanda-tanda potensi gerakan tanah di lingkungan mereka.

Sumber: Humas Jabar

Berita Terkait
Berita Terkini