Potret Kaum Pemakan Tikus, Termiskin dari yang Termiskin di India

[object Object]
Sabtu 24 Feb 2018, 16:47 WIB
Potret Kaum Pemakan Tikus, Termiskin dari yang Termiskin di India

SUKABUMIUPDATE.com - Selama berpuluh tahun, komunitas Musahars hidup dari menyantap tikus dengan cara sederhana, memanggangnya  di atas kayu api di atas tanah. Lalu mereka beramai-ramai memakannya. Anak-anak dengan tubuh kurus perut buncit dengan pakaian tak layak pakai dan hampir telanjang menikmati tikus panggang.

Setiap Musharas termasuk anak-anak dengan mudah akan menjelaskan bagaimana cara memasak tikus. Mereka sudah terbiasa.

Dan untuk menambah rasa daging tikus yang dipanggang, mereka menambahkan garam dan minyak biji sesawi.

Anak-anak itu tidak bersekolah. Tidak ada sekolah di sekitar kampung mereka. Begitu juga pusat layanan kesehatan berkilometer-kilometer jauhnya, listrik padam, dan tidak ada bantuan untuk mengasah ketrampilan mereka. Alhasil, mereka menganggur selama hidupnya.

Mereka mencari makan hanya sebagai petani kasar. Selebihnya jadi pemburu tikus.

"Kami dududk di rumah sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa. Beberapa hari kami bekerja di pertanian, dan di lain hari kami mencari tikus dan memakannnya dengan sedikit gandum yang bisa kami dapatkan," kata Rakesh Manjhi, 28 tahun, asal desa Alampur Gonpura.

Pendiri sekolah untuk anak laki-laki Musahars, J.K Sinha menuturkan, awal bertemu ia menyaksikan warga Musharas tinggal di pondok kecil bersama babi-babi dan kotoran hewan.

"Mengagetkan. Tidak manusiawi. Saya tak akan pernah melupakannya," ujar Sinha.

Perubahan muncul ketika anak-anak Musahars mulai dewasa dan mengubah nasib dengan meninggalkan rumahnya bekerja sebagai buruh murah di kota sekitar. 

Namun diskriminasi di segala sisi kehidupan kaum Musahars tidak berubah.

Mengerikan, hampir 60 persen anak yang dilahirkan meninggal sebelum berusia 1 tahun. Penderita kusta menjadi pemandangan sehari-hari di sana. Begitu juga penderita busung lapar parah. 

Kusum Lal, 72 tahun, menuturkan tak satupun politisi pernah datang mengunjungi desanya. Sehingga mereka bertekad tidak akan memberikan suaranya dalam pemilu mendatang hingga kondisi desa mereka lebih baik dari sekarang.

"Semua desa tetangg telah dialiri listrik, namun kami masih hidup dengan kondisi tidak beradab. Tak ada sekolah dan sekolah terdekat berjarak 2 kilometer jauhnya. Anak-anak terpaksa menyeberangi sungai untuk bersekolah. Selama musim hujan, desa kami terputus karena tidak ada jalan untuk mencapai desa kami. Tuntutan kami adalah road nahi, toh vote nahi, tak ada jalan, tak ada suara," ujar pria uzur ini, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Tidak jelas kenapa kaum Musahars yang berjumlah sekitar 2,5 juta ini diabaikan oleh pemerintah India. Hingga mereka terpaksa bertahan hidup dengan memburu dan menyantap tikus, setiap hari!

Sumber: Tempo

Berita Terkini