Jalan Sunyi Seniman Sukabumi, Sahal Kamil Tembus Pasar Global lewat Goresan Pulpen Warna

Sukabumiupdate.com
Selasa 27 Jan 2026, 22:55 WIB
Jalan Sunyi Seniman Sukabumi, Sahal Kamil Tembus Pasar Global lewat Goresan Pulpen Warna

Salah satu karya seni milik Salah Kamil, pemuda asal Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Dok pribadi Sahal.)

SUKABUMIUPDATE.com - Di sebuah desa bernama Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, lahir seorang pemuda yang memilih jalan hidup tak biasa. Namanya Sahal Kamil. Lahir pada 27 April 2002, Sahal menapaki dunia seni rupa dengan cara yang sunyi, pelan, namun penuh keyakinan.

Di usianya yang ke-22 tahun, Sahal dikenal sebagai seniman dengan teknik unik: menggambar menggunakan pulpen warna-warni yang digores sambil diputar. Dari tangan dan kesabarannya, tercipta tekstur visual khas yang menjadi identitas karyanya.

Gagal, Menjeda, Lalu Bangkit.

Ketertarikan Sahal pada seni muncul sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia kerap mengisi waktu istirahat, bahkan saat pelajaran berlangsung dengan menggambar. Aktivitas itu memberinya kepuasan tersendiri, terlebih ketika karyanya mendapat pujian.

“Saya senang ketika orang-orang memuji gambar saya. Dari situ, minat menggambar terus meningkat,” ujar Sahal kepada Sukabumiupdate.com, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga: Asap Muncul dari Dapur, Kebakaran Resto Parantina Jalur Lingsel Diduga Dipicu Korsleting

Namun kala itu, menggambar belum terbayang sebagai jalan hidup. Selepas lulus SMK, Sahal dihadapkan pada realitas sulitnya mencari pekerjaan. Ia mencoba kembali menekuni gambar secara serius dan menawarkan jasa menggambar pensil melalui media sosial. Usaha itu tak langsung berbuah hasil.

“Saya sempat menyerah di bulan ketiga dan berhenti memposting karya selama kurang lebih tiga tahun,” katanya.

Masa jeda panjang tersebut justru menjadi ruang refleksi. Di sanalah cara pandangnya terhadap seni dan kehidupan perlahan terbentuk.
Mencari Identitas Lewat Keterbatasan.

Pada 2024, Sahal mulai bereksperimen dengan teknik stippling menggambar menggunakan titik. Namun ia merasa karya yang dihasilkan belum memiliki pembeda. Keinginan bereksplorasi menggunakan cat terbentur kondisi ekonomi, hingga akhirnya ia memilih pulpen warna-warni yang lebih terjangkau.

Baca Juga: Detik-detik Kebakaran, Karyawan Parantina Resto & Cafe Ungkap Awal Mula Kemunculan Api

Teknik scribble sempat dicoba, tetapi terasa terlalu umum. Hingga suatu hari, ia bereksperimen menggunakan sepuluh mata pulpen sekaligus. Dengan memutar pulpen saat menggores, lahirlah tekstur visual yang tak biasa.

“Di situ saya merasa menemukan identitas sendiri sebagai seniman,” ucapnya.

Karya seni Sahal lainnya.Karya seni Sahal lainnya.

Sunyi Bernama Konsistensi.

Bagi Sahal, perjalanan kreatif adalah jalan sunyi penuh ketidaknyamanan, tetapi sarat pembelajaran. Konsistensi dan keberanian mengevaluasi diri menjadi kunci.

“Jalan ini tidak nyaman, tetapi justru di sanalah saya belajar memahami arah dan mengenal diri saya dengan lebih utuh,” ujarnya.

Baca Juga: Polda Jabar Tangkap 5 Terduga Pemburu Macan Tutul Jawa di Gunung Sanggabuana

Kerja sunyi itu mulai berbuah pada Agustus 2025. Karyanya mulai mendapat perhatian, disusul pesanan yang datang silih berganti. Sejak saat itu, menggambar bukan hanya ekspresi, melainkan sumber penghidupan sekaligus ruang untuk mengelola emosi.

Ketika Karya Menembus Pasar Global.

Kesadaran bahwa karyanya memiliki nilai ekonomi semakin kuat ketika salah satu video proses menggambarnya viral pada 2025. Konten tersebut diunggah melalui YouTube, Facebook, dan Instagram, dengan jumlah penonton mencapai puluhan juta kali. Pembeli pun datang dari dalam hingga luar negeri.

“Pengalaman itu terasa mengejutkan sekaligus membahagiakan,” katanya.

Perhatian publik membuka jalan baru. Sahal pun mendapat kesempatan berkolaborasi dengan sebuah galeri besar.

Baca Juga: Ngeri! Ular Kobra Jawa Ngumpet di Sela Kasur Kamar Anak di Cimanggu Sukabumi

Ia dijadwalkan menggelar pameran perdana bertajuk Urban Anarchy pada 7 Februari pukul 19.00 WIB di GRAHA STR, Jakarta Selatan. Pameran ini mengangkat realitas kehidupan urban tentang kesibukan, ketimpangan, dan kesengsaraan yang kerap tersembunyi di balik hiruk-pikuk kota.

Emosi, Luka, dan Kesadaran.

Dalam setiap karyanya, isu emosi, kesehatan mental, dan pengalaman personal menjadi pondasi utama. Sahal memandang seni sebagai medium distribusi kesadaran ruang refleksi agar emosi tidak sekadar dipendam, melainkan dikenali dan dipahami. Saat mengangkat isu politik, ia menempatkan seni sebagai cara melihat realitas secara lebih kritis.

Salah satu karya yang paling merepresentasikan perjalanan hidupnya berjudul Bullying. Karya ini lahir dari pengalaman perundungan yang ia alami sejak kecil. Visual lidah-lidah tajam yang menembus tubuh merepresentasikan kekerasan verbal dan luka batin yang membekas.

“Seni menjadi ruang aman bagi saya untuk jujur dan bertahan,” ungkapnya.

Baca Juga: Pemadaman Hampir 2 Jam, Damkar Kota Sukabumi Selidiki Sebab Kebakaran Parantina Resto & Cafe

Karya tersebut menjadi salah satu dari sepuluh karya eksklusif yang ditampilkan dalam pameran perdananya.

Pesan untuk Generasi Muda.

Menjadikan seni sebagai sumber penghidupan bukan tanpa tantangan. Sahal menyadari media sosial tidak pernah memberi kepastian. Ia belajar mengelola ekspektasi agar mentalnya tetap siap menghadapi fase naik maupun jatuh.

Baginya, media sosial bukan sekadar alat promosi, melainkan ruang dialog yang mempertemukan karya jujur dengan audiens lintas negara.
Kepada generasi muda, khususnya para seniman, Sahal berpesan agar tidak membebani proses berkarya dengan tuntutan kesempurnaan.

“Fokuslah pada kejujuran dalam berkarya, bukan pada hasil yang instan. Jangan takut memulai dari keterbatasan, karena dari situlah karakter dan keunikan karya terbentuk,” tutupnya.

Berita Terkait
Berita Terkini