SUKABUMIUPDATE.com - Bisnis kedai kopi di Sukabumi kian ramai, ditandai dengan bermunculannya bermacam konsep gerai kopi. Rata-rata gerai kopi tersebut menawarkan kopi lokal Indonesia yang sudah terlebih dulu sohor di mancanegara seperti Aceh Gayo, Toraja, Java, Sumatera Mandheiling, Sidikalang, Wamena, dan lain-lain.
Konon, 80 persen orang Indonesia belum begitu tahu dan mengenal apa itu kopi dan bagaimana cara menikmatinya. Hal tersebut mungkin sudah bisa dibantah dengan semakin banyaknya penikmat kopi yang fanatik terhadap rasa kopi, cara penyajian dan proses pembuatannya menjadi secangkir kopi yang siap diseruput panas atau dingin.
Gerai kopi di Sukabumi, kini mulai terlihat variatif dan menjadi alternatif penggemar kopi sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan koceknya masing-masing, dari mulai kelas hotel berbintang, gerai kopi dengan suasana cozy dan hingar bingar musik, hingga kedai kaki lima.
“Saya bisa dibilang penikmat kopi, kalau lagi ke Sukabumi sering pilih-pilih gerai kopi mana yang enak, nggak harus di café, ternyata di Sukabumi di pinggir jalan kayak gini ada yang jual kopi dengan grade bagus,†aku Effendi Hasan (37), Warga Panembong, Cianjur yang tengah menikmati malam Minggu di Kota Sukabumi, kepada sukabumiupdate.com, Sabtu(28/1) malam.
BACA JUGA:
Minum Kopi yang Meninggalkan Jejak di Lidah Warga Pamatutan Kabupaten Sukabumi
Diskusi CKopi Gaud Sukabumi: Tuduh Kopi Sebabkan Sakit, Penikmat Akan Murka
Yava Cafe Cicurug, Menikmati Kopi dalam Ruang Multi Konsep
Secangkir kopi dan pisang keju ia nikmati dalam dinginnya malam udara Kota Sukabumi dan guyuran hujan. “Baru kali ini saya nemu kedai kopi pinggir jalan, tapi rasanya mantap,†imbuh Hasan.
Namanya Kedai Kopi Chaproeks, menempati trotoar di Jalan Ahmad Yani No 108. Adalah Randi alias Dadung, sang pengusaha muda yang memilih berjualan kopi sejak 20 November 2016 lalu, berbekal pengalaman menjadi barista di beberapa café yang ada di Bogor dan Jakarta, akhirnya ia memilih membuka usaha kopinya sendiri.
Kopi yang ia sajikan memang sangat berbeda dari penjual kopi kaki lima pada umumya,“Saya memilih Kopi Sumatera Java, di-mix 50-50, Robusta Arabica, tapi masih pakai manual grinder, ngukurnya pakai feeling aja, jadi ngacapruk, harusnya kopi yang Aa minum tadi bisa dinikmati dengan ampas-ampasnya,†terang Dadung seperti tengah memberi alasan kenapa kedainya dinamai Chaproeks. Capruk dalam Bahasa Sunda berarti tak beraturan.
Meskipun demikian, rasa kopi yang disajikan Dadung memang menyerupai kedai-kedai kopi berkelas. Walaupun dengan proses manual, tetapi bisa menghasilkan kopi tubruk, vietnam drip, french press milk, atau pun original dan kopi tarik.
“Memang beda sih, saya juga baru ke sini. Beda rasa kopinya, lainlah dari yang lain, dibandingkan dengan yang mahalan juga enak ini,†terang Rizky Arief (32), pecinta kopi asal Lembur Situ, Kota Sukabumi, bersama tiga rekannya. â€Saya sering juga pindah-pindah tempat ngopi, suka banding-banding aja, nyari yang murah dan enak,†imbuh Rizky.
Ngopi di Kedai Chaproeks memang murah satu mug kaleng kecil kopi hanya dibandrol antara tujuh hingga delapan ribu rupiah. Suasana ngopi murah ini kian meriah dengan speaker yang sengaja dipasang empunya kedai, lewat pemutar mp.3 telpon selular-nya mengalun lagu-lagu rock 90’s seperti Forever and One-nya Helloween, Forsaken milik Dream Theatre, lagu-lagu Slank Lawas, dan The fly.
“Gile lagunya, bukan cuma kopinya nih yang enak. Umur berapa sih tukang kopinya? Perasaan semua lagu yang diputer mewakili zaman kita?†tanya Deny Tulang(42) yang datang menemani sukabumiupdate.com menikmati kopi a la Chaproeks, “Ini baru ngopi ajib di pinggir jalan,†pungkasnya.









