SUKABUMIUPDATE.com - Musim penghujan yang terus menerus nampaknya membuat harga cabai di Indonesia menembus level termahal. Sementara pasokan dari petani semakin minim lantaran gagal panen. Pohon cabai menjadi busuk, mongering, kemudian mati.
Ibong Sumpena (55), salah seorang petani cabai keriting di Kampung Pondoktisuk, Desa Ciheulang, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mengeluh jika tahun ini mengalami kerugian cukup besar. Lahan seluas 500 meter yang ia tanami cabai keriting dan sayur mayor, mengering dan membusuk.
"Curah hujan yang terus menerus, jadi cabenya mengering, kita rugi besar tahun ini, lihat saja membusuk," ungkap Ibong kepada sukabumiupdate.com, Minggu (8/1).
Untuk memastikan tak merugi, Ibong memutuskan memanen cabainya lebih cepat kemudian menyortirnya. Namun sayangnya, hasil sortiran jauh dari kata untung, apalagi menutupi kerugiannya.
"Petani cabai lokal terbatas pendanaan. Berbeda dengan pemodal besar kan bisa pakai rumah kebun, sehingga bisa mengatur suhu maupun cuaca," tutur Ibong lebih jauh.
Melihat harga di pasaran, harga cabai melonjak tinggi lantaran minimnya pasokan dari petani. Berdasarkan pengalaman, menurut Ibong, ketika hari ini banyak petani mendadak menanam cabe, maka saat panen harga akan turun.
"Petani kita selalu begitu, mengejar harga tinggi, semua pada menanam. Giliran semua panen, harga jatuh. Belum lagi permainan tengkulak. Mestinya Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan dinas terkait dapat mengawal nasib para petani," harapnya.
