SUKABUMIUPDATE.com – Narti (30), ibu rumah tangga yang menjadi korban dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, mengungkap detik-detik disayat oleh suaminya, N (42). Peristiwa itu disebut terjadi secara tiba-tiba saat korban hendak menyajikan nasi untuk suaminya.
Kasus tersebut terjadi di Kampung Bojongsempor, Desa Sirnasari, Kecamatan Surade, Jumat 16 Oktober 2026 sekitar pukul 21.30 WIB. Akibat kejadian itu, korban mengalami luka sayatan di bagian leher dan pipi.
Narti menuturkan, sebelum kejadian, hubungan rumah tangganya dengan sang suami berjalan seperti biasa. Ia mengaku tidak ada pertengkaran maupun persoalan yang mendahului insiden tersebut.
“Pulang dari kerja di Jakarta baik-baik saja. Enggak ada cekcok, enggak ada apa-apa, enggak ada masalah. Itu spontan saja,” kata Narti saat ditemui di Satreskrim Polres Sukabumi, pada Sabtu (17/10/2026).
Baca Juga: IRT Ditemukan Tewas di Ciemas Sukabumi, Anak Korban Ungkap Chat dan Sebut Teman Pria
Menurutnya, sang suami sempat makan setelah pulang kerja. Setelah itu, suaminya kembali makan seusai shalat Isya. Sekitar pukul 21.30 WIB, suaminya meminta dirinya memasak lagi.
Saat hendak menyajikan nasi, peristiwa tersebut terjadi. “Pas nyuruh masak itu, pas saya mau nyajiin nasi, dia langsung nyayat lehernya sendiri,” ujarnya.
Narti mengaku mengalami luka sayatan di leher dan pipi. Ia menyebut tindakan suaminya berlangsung mendadak dan tidak didahului pertengkaran.
Narti juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalani rumah tangga bersama N selama 12 tahun. Selama itu, ia mengaku tidak pernah mengalami perlakuan kasar dari suaminya.
Baca Juga: Jangan Asal Berwudhu, Kenali 6 Fardhu yang Menentukan Sah atau Tidaknya Wudhu
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak berspekulasi mengenai persoalan rumah tangganya, terutama setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik di media sosial.
“Alhamdulillah, dari sampai punya anak mau tiga sekarang, jangankan kasar, pernah. Makanya saya bikin klarifikasi buat para netizen di luaran sana, jangan berspekulasi lah. Karena yang rasain rumah tangga kan saya,” tuturnya.
Narti juga menyatakan tidak berencana melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Ia berharap kondisi keluarganya dapat membaik dan suaminya bisa pulih.
“Harapannya ke depannya, mudah-mudahan saya sama suami lebih baik lagi. Doanya yang terbaik,” ucapnya.
Baca Juga: Kemarau Bikin Kunjungan Geyser Cipanas di Sukabumi Turun? Semburan Air Justru Makin Bagus
Narti turut menceritakan perubahan sikap suaminya sebelum kejadian. Saat itu, N diketahui bekerja sebagai pekerja bangunan di Jakarta.
Menurut Narti, sebelum kejadian suaminya sempat menelepon sekitar tengah malam dan meminta dirinya bersama anak-anak pulang ke rumah orang tuanya. Suaminya mengaku merasa tidak enak badan.
"Awalnya dia pulang, pas saya telepon jam 12-an lah, katanya dia lagi di jalur, udah nyampe jalur, terus dia nelepon, katanya nyuruh saya sama anak-anak pulang ke rumah bapak, gitu katanya. Katanya dia udah enggak enak, badannya udah enggak enak, kayaknya ada yang, "Bagaimana?" gitu. Enggak tahu juga, gitu," tuturnya.
Ia juga mendapat cerita bahwa suaminya mengalami kesulitan tidur selama sekitar 10 hari ketika tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jakarta. Kontrakan tersebut, kata Narti, berada di dekat area pemakaman.
Baca Juga: Prediksi Skor Persib vs Persik Kediri di Super League, Maung Bandung Menang 2-0 ?
Suaminya disebut kerap mengalami demam, berkeringat, dan merinding karena tidak bisa tidur. "Jadi awal kerjanya itu kan di bangunan, di rumah pribadi. Terus pas gitu, proyekan pengin cepat kelar. Pas gitu, jadi harus nambah tenaga, gitu, nambah yang kerja. Pas gitu, udah nambah kerja, jadi dikontrakkan, gitu," kata dia.
"Dikontrakkan. Nah, mungkin enggak tahu, mungkin dari tempat, apa gimana, saya juga kurang tahu. Jadi pas begitu, dia tidur dikontrakan itu, dia enggak pernah tidur sampai, sampai pulang ke rumah juga enggak pernah tidur," sambungnya.
Namun, Narti mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab perubahan kondisi suaminya. Ia juga menegaskan tidak pernah mendengar adanya persoalan rumah tangga yang menjadi pemicu kejadian tersebut.
Baca Juga: Mengenal Paribasa Sunda Omong Harus Batan Goong dan Pesan Moral di Dalamnya
"Enggak ada. Enggak ada masalah," ucapnya.
Keluarga Tak Ingin Melapor
Ayah kandung Narti, Adam, mengatakan pihak keluarga memilih tidak membuat laporan polisi. Ia mengaku masih berharap menantunya dapat pulih dan kondisi keluarga anaknya kembali membaik.
Adam menyebut selama ini dirinya tidak pernah mendengar keluhan Narti mengenai persoalan rumah tangganya. “Selama ini enggak pernah ada cekcok di rumah tangga, enggak ada. Saya juga enggak tega, saya sampai enggak pernah dengar anak saya, misalkan, ‘Pak, ini ada masalah, laki saya gini-gini,’ enggak pernah,” kata Adam.
Ia mengaku memikirkan kondisi cucu-cucunya yang masih kecil. Terlebih, Narti saat ini tengah mengandung sekitar tujuh bulan dan diperkirakan akan melahirkan dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: 4 Hektare Lahan Terbakar, Dampak Karhutla di Citepus Sukabumi
“Yang penting satu saat bisa diarah-arah lagi lah, disembuhkan. Bagaimana caranya yang penting bisa melanjutkan rumah tangga dia. Karena saya kasihan sama anaknya dua, masih kecil. Lagi sekarang lagi hamil, udah tujuh bulan,” ujarnya.
Sikap Polisi
Dikonfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti video dugaan KDRT yang beredar di media sosial. Menurut Dudi, penanganan dilakukan atas instruksi Kapolres Sukabumi.
Polisi juga telah mengundang sejumlah pihak, termasuk korban, suami korban yang diduga sebagai pelaku, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa.
“Kami saat ini bekerja intensif kaitan dengan pemeriksaan yang bersangkutan, kemudian pengumpulan bukti-bukti yang ada, dan kami juga berkoordinasi dengan pihak rumah sakit yang melakukan pemeriksaan,” kata Dudi.
Baca Juga: Sedang Hamil, Wanita di Surade Sukabumi Diduga Dibacok Suami
Ia menyampaikan korban saat ini telah kembali ke rumah dan dapat menjalani pemeriksaan. Namun, penyelidikan masih berlangsung untuk mendalami kejadian tersebut.
Terkait keputusan keluarga yang tidak ingin melapor, Dudi mengatakan pihaknya belum menerima pernyataan tertulis yang teradministrasikan mengenai hal itu.
“Sampai saat ini kami belum menerima secara tertulis teradministrasikan terkait dengan hal tersebut. Namun demikian, kami akan mencoba kembali berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait,” ujarnya.
Dudi menegaskan, kepolisian masih melakukan pendalaman dengan mempertimbangkan manfaat penegakan hukum bagi masyarakat.
Baca Juga: Head to Head Persib vs Persik Kediri di Super League, Maung Bandung Unggul 8 Kemenangan
“Kami adalah pelayan dalam hal penegakan hukum. Dalam hal ini tetap akan mengedepankan kemanfaatan dalam penegakan hukumnya sehingga benar-benar akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.















