Mengenal Paribasa Sunda Omong Harus Batan Goong dan Pesan Moral di Dalamnya

Mengenal Paribasa Sunda Omong Harus Batan Goong dan Pesan Moral di Dalamnya

Ilustrasi - Paribasa Sunda Omong Harus Batan Goong mengajarkan kita agar berhati-hati dalam menyampaikan dan menerima informasi (Sumber : Freepik/@tirachardz)

SUKABUMIUPDATE.com - Paribasa Sunda “Omong Harus Batan Goong” merupakan ungkapan yang mengingatkan bahwa kabar atau isu bisa menyebar dengan sangat cepat, bahkan sering kali menjadi lebih besar daripada kenyataan yang sebenarnya.

Dalam bahasa Sunda, paribasa ini dijelaskan sebagai “béja téh gancang naker nerekabna, malah sasarina mah béja anu nerekab téh leuwih hébat batan aslina”.

Secara harfiah, omong berarti ucapan atau perkataan, sedangkan harus dalam ungkapan ini bermakna nyaring atau keras bunyinya.

Baca Juga: Menyusuri Sungai Cileuleuy di Sukabumi, dari Trek 2 Kilometer hingga Tantangan 3 Jam

Adapun goong adalah gong, alat musik tradisional yang menghasilkan suara nyaring dan bergema.

Jika diterjemahkan secara bebas, ungkapan tersebut menggambarkan suara atau kabar yang terdengar lebih nyaring daripada gong.

Makna kiasannya adalah sebuah kabar dapat menyebar luas dan sering kali dibesar-besarkan dalam proses penyebarannya.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari

Misalnya, seseorang melihat dua orang sedang berbincang serius di tempat kerja. Ia kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada temannya dengan dugaan bahwa keduanya sedang bertengkar.

Baca Juga: Karhutla Picu 277 Ribu Kasus ISPA, 62 Ribu Korban Balita

Ketika cerita itu berpindah dari satu orang ke orang lain, kabarnya berkembang menjadi isu bahwa mereka memiliki masalah besar. Padahal, kenyataannya mereka hanya sedang membicarakan pekerjaan.

Situasi seperti inilah yang menggambarkan makna paribasa Omong Harus Batan Goong: kabar yang beredar bisa jauh lebih heboh daripada kejadian aslinya.

Pesan moral paribasa Omong Harus Batan Goong

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari ungkapan ini.

  1. Jangan mudah menyebarkan kabar. Pastikan informasi yang diterima benar sebelum meneruskannya kepada orang lain.
  2. Hindari membesar-besarkan cerita. Menambahkan dugaan atau detail yang belum terbukti dapat menimbulkan kesalahpahaman.
  3. Jangan langsung percaya pada isu. Cari tahu sumber dan kebenaran informasi sebelum mengambil kesimpulan.
  4. Bijak menggunakan media sosial. Informasi yang dibagikan melalui internet dapat tersebar luas dalam waktu singkat, termasuk kabar yang belum terverifikasi.
  5. Dalam kehidupan sekarang, paribasa ini tetap relevan, terutama ketika kabar dan rumor mudah menyebar melalui grup percakapan maupun media sosial.

Intinya, “Omong Harus Batan Goong” mengajarkan kita agar berhati-hati dalam menyampaikan dan menerima informasi.

Jangan sampai sebuah kabar yang awalnya sederhana berubah menjadi isu besar hanya karena ditambah-tambah atau disebarkan tanpa memastikan kebenarannya.

Editor:Dede Imran
Berita Terkini