Viral Dugaan Bullying di Nagrak Sukabumi, Pelajar SMP Alami Patah Tulang Tertutup

Viral Dugaan Bullying di Nagrak Sukabumi, Pelajar SMP Alami Patah Tulang Tertutup

Ilustrasi. Pelajar SMP di Nagrak Sukabumi alami patah tulang akibat bullying. | Foto: Medsos

SUKABUMIUPDATE.com - Dugaan bullying atau perudungan kembali terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya jadi tempat aman bagi anak Indonesia. Di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, seorang pelajar SMP di Nagrak dikabarkan mengalami cedera parah hingga retak tunggal panggul atau pinggul setelah alami aksi kekerasan oleh sejumlah pelajar satu sekolah.

Kabar ini viral di media sosial setelah diposting oleh salah satu akun facebook pada Kamis (15/10/2025). Akun tersebut mencantumkan foto-foto seorang pelajar yang menjadi korban perundungan.

Salah satu foto menunjukkan hasil ronsen yang menyebut aksi kekerasan tersebut membuat korban mengalami pergeseran tulang lutut, tulang ilium retak,dan luka dalam pada bagian lutut yang mengakibatkan pembekakan.

Dalam narasinya akun tersebut mengabarkan bahwa korban sampai sekarang belum sembuh dan baru satu pelaku yang mengakui perbuatannya. “Dari 5  pelaku baru 1 yang  bertanggung jawab, 4 lagi masih belum ada kepastian karena masih di lindungi oleh keluarganya,” tulis akun tersebut.

Baca Juga: Rentetan Gempa Dangkal Gunung Salak, 18 Menit 3 Lini di Bogor dan Sukabumi

Dia meminta pelaku lainnya juga mengakui kesalahan. Postingan tersebut juga dimaksudkan agar menjadi pelajaran agar bullying tidak terus terjadi. “agar guru² di sekolah bisa selalu waspada kepada murid muridnya...dan semoga tidak terjadi seperti ini lagi,” tutupnya.

Jalani Pemulihan

Dari penelusuran sukabumiupdate, korban adalah pelajar berinisial AI (12 tahun) siswa kelas VII salah satu SMP di Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi. Korban sendiri merupakan warga Kampung Cibubuay, Desa Kalaparea, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.

AI sempat menjalani perawatan di RSUD Sekarwangi dan kini telah diperbolehkan pulang untuk menjalani pemulihan. Humas RSUD Sekarwangi, Irman Firmansyah Saputra, mengatakan AI datang ke instalasi gawat darurat (IGD) pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien mengalami patah tulang tertutup atau closed fracture pada bagian paha atas di kedua kaki. "Kondisinya saat datang ke IGD, area pelvisnya, terutama bagian paha atas, tidak bisa digerakkan," kata Irman saat dikonfirmasi, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga: Lahan 2,3 Hektare Terbakar, Api Nyaris Merembet ke Kantor Dinas Pertanian Sagaranten Sukabumi

Menurut Irman, berdasarkan pemeriksaan dokter, cedera yang dialami AI tidak memerlukan tindakan operasi. Penanganan dilakukan dengan memasang pelvic binder, yakni alat penyangga untuk membantu menstabilkan area panggul.

Selain itu, pasien juga dikonsultasikan kepada dokter fisioterapi untuk merencanakan penanganan lanjutan. Fisioterapi diperlukan untuk membantu pemulihan kondisi pasien.

"Kalau masuk ke ruangannya itu sekitar pukul 22.00 WIB. Sebelumnya, pasien diobservasi dulu di IGD," ujarnya.

Irman juga menyampaikan bahwa informasi yang diterimanya menyebutkan AI diduga mengalami kekerasan di sekolah oleh pelajar lainnya. 

Baca Juga: Martha Tilaar Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun, Pendiri Martha Tilaar Group

Penyelesaian Kekeluargaan

Sementara itu, orang tua AI, Maria, mengatakan dirinya tidak mengetahui secara langsung kejadian yang menimpa anaknya karena saat itu sedang bekerja di Jakarta. Selama menjalani perawatan, AI didampingi oleh neneknya.

Maria mengaku belum mendapatkan cerita lengkap dari anaknya mengenai kejadian tersebut. Kondisi AI yang masih merasakan sakit dan pusing membuatnya belum banyak berbicara.

"Belum cerita banyak, soalnya anaknya juga masih belum bisa bicara banyak. Masih pusing, terus sakit juga," ungkap Maria.

Maria mengatakan kondisi anaknya kini mulai membaik. AI telah diperbolehkan pulang dari RSUD Sekarwangi pada Selasa, 13 Oktober 2026, dan saat ini berada di rumah neneknya. Meski demikian, AI masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan atau kontrol untuk memantau perkembangan kondisinya. 

Baca Juga: Dikenal sebagai Pelatih Sepakbola, Lansia Ditemukan Tak Bernyawa di Parungkuda Sukabumi

Menurut Maria, biaya tersebut ditanggung oleh pihak sekolah. Maria juga menyebut persoalan yang menimpa anaknya telah diselesaikan secara kekeluargaan. 

Pihak keluarga, kata dia, telah menerima pertanggungjawaban terkait kejadian tersebut. "Iya, sudah selesai sih," ujarnya.

Meski demikian, dugaan kekerasan terhadap siswa di lingkungan sekolah tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut, terutama terkait kronologi kejadian dan dugaan keterlibatan sejumlah siswa.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak sekolah mengenai peristiwa tersebut maupun langkah yang diambil untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Berita Terkini