Petani Penggarap Gelar Aksi, Minta Pembangunan Yonif 345 di Sukabumi Dihentikan

Petani Penggarap Gelar Aksi, Minta Pembangunan Yonif 345 di Sukabumi Dihentikan

Perkumpulan Petani Penggarap Bagja Sutra menggelar aksi di lokasi rencana pembangunan Yonif TP 345/Maung Sancang yang disebut berada di lahan eks HGU PTPN. Senin (12/10/2026). (Sumber : Istimewa.)

SUKABUMIUPDATE.com – Puluhan petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Penggarap Bagja Sutra menggelar aksi di lokasi rencana pembangunan Yonif TP 345/Maung Sancang yang disebut berada di lahan eks HGU PTPN. Senin (12/10/2026).

Dalam aksi tersebut, para petani meminta proses pembangunan dihentikan sementara hingga terdapat kejelasan mengenai status dan penggunaan lahan yang selama ini mereka garap.

Ketua Harian Perkumpulan Petani Penggarap Bagja Sutra, Lumindar atau akrab disapa Lulu, mengatakan aksi dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi petani yang menggantungkan penghidupan dari lahan tersebut.

Menurut Lulu, sebelumnya pihak petani telah meminta agar aktivitas pembangunan tidak dilanjutkan sebelum dilakukan peninjauan dan terdapat kejelasan terkait persoalan lahan.

Baca Juga: Hari Kedua Pencarian 2 Remaja Terseret Ombak Pantai Cibuaya Sukabumi Masih Nihil

"Petani meminta supaya kegiatan tersebut jangan dulu berlanjut sebelum ada kepastian yang jelas terkait permasalahan lahan. Kami memohon kepada pihak Kodim untuk menghentikan sementara aktivitas sampai nanti lahannya clear and clean," kata Lulu kepada sukabumiupdate.com melalui sambungan telpon pada Senin (12/10/2026).

Namun, menurut dia, aktivitas di lokasi tetap berjalan. Karena itu, para petani mendatangi lokasi untuk meminta dialog secara langsung.

Lulu menyebut aktivitas yang terpantau di lokasi di antaranya land clearing hingga penggunaan alat berat untuk pekerjaan cut and fill. Selain itu, terdapat pula pemasangan tenda peleton.

"Sudah ada land clearing, pembakaran sampah rumput dan sebagainya, kemudian masuk alat berat beko, dilanjutkan dengan pemasangan tenda peleton," ujarnya.

Ia menyebut alat berat yang berada di lokasi berjumlah satu unit beko berukuran kecil.

Baca Juga: Nada Kasih Gelar Konser Amal “Harapan dalam Harmoni”, Donasi Terkumpul Rp414,6 Juta

Lulu menuturkan, lahan yang terdampak merupakan lahan yang sebelumnya telah dipersiapkan petani untuk musim tanam. Menurutnya, sejumlah kebutuhan pertanian seperti pupuk dan bibit juga telah disiapkan.

"Ini kebun petani yang sudah disiapkan untuk musim tanam sekarang, musim hujan. Sudah digeromokson, pupuk sudah datang, bibit sedang disiapkan," katanya.

Ia juga menyoroti luasan lahan yang disebut masuk dalam rencana pembangunan. Berdasarkan peta yang mereka pegang, ia menyebut luasan lahan mencapai sekitar 75 hektare.

Namun, menurut Lulu, terdapat perbedaan dengan angka yang tercantum dalam RAB yang disebut sekitar 40 hektare.

"Kalau melihat di dalam peta ajuannya itu 75 hektare. Keseluruhannya itu di atas lahan petani penggarap yang sudah dibuka. Walaupun kalau melihat di RAB, ajuannya itu 40 hektare," ujarnya.

Baca Juga: Nomor WhatsApp Penipu Catut Nama Kepala Bapenda Sukabumi Herdy Somantri

Selain itu, Lulu juga membantah informasi yang menyebut tidak terdapat petani penggarap di lokasi. Dalam aksi tersebut, para petani turut hadir untuk menunjukkan bahwa lahan tersebut selama ini dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

"Makanya kita tadi bawa petaninya. Inilah petani kita. Karena sebelumnya ada keterangan di media yang menyatakan bahwa di situ tidak ada petani penggarap," katanya.

Menurut Lulu, Perkumpulan Petani Penggarap Bagja Sutra menaungi sejumlah kelompok tani. Ia menyebut terdapat tujuh kelompok tani, ditambah pengelola yayasan atau PKBM serta masyarakat pesantren yang juga mengelola kebun di kawasan tersebut.

Ia memperkirakan jumlah masyarakat yang terdampak mencapai ratusan orang jika dihitung bersama keluarga dan pekerja yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pertanian di lokasi.

Baca Juga: Peraturan Presiden Nomor 69 Tahun 2026 Terbit: Ekspor Benur Dilarang untuk Selamanya

"Ratusan yang terdampak, bahkan bisa kehilangan mata pencaharian atau kehilangan penghidupannya," ujarnya.

Lulu mengatakan pihak petani tidak mempersoalkan kebutuhan negara terhadap lahan untuk pembangunan fasilitas TNI. Namun, ia berharap lahan yang digunakan tidak mengganggu lahan produktif yang selama ini menjadi sumber penghidupan petani.

Menurutnya, masih terdapat lahan yang dikuasai PTPN yang dinilai dapat dipertimbangkan untuk pembangunan.

"Masih banyak sebenarnya lahan yang dikuasai oleh PTPN yang secara umum bisa dipergunakan oleh TNI untuk pembangunan batalyon, terutama di lahan-lahan yang produktif," katanya.

Ia menegaskan, petani berharap persoalan tersebut dapat dibicarakan melalui dialog antara pihak-pihak terkait.

Dalam aksi tersebut, menurut Lulu, tidak ada pihak Kodim yang menemui petani di lokasi. Para petani kemudian menyampaikan pernyataan sikap dan merekamnya dalam bentuk video untuk disampaikan kepada pemangku kebijakan.

 

Berita Terkini