Hidup dari Rongsokan: Ironi Lansia Sebatang Kara di Sukabumi Masuk Desil 7

Sukabumiupdate.com
Kamis 10 Sep 2026, 17:24 WIB
Hidup dari Rongsokan: Ironi Lansia Sebatang Kara di Sukabumi Masuk Desil 7

Een Suhaesih (67) warga Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Di sebuah kamar berukuran tak lebih dari 2 x 2 meter persegi di Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Een Suhaenah (67) menjalani hari-harinya seorang diri. Untuk sekadar menyambung hidup, nenek sebatang kara ini harus keluar mencari rongsokan. Ironisnya, di tengah kehidupan serba terbatas itu, Een kini tercatat masuk dalam desil 7.

Kamis (10/9/2026) siang, Een ditemui di tempat tinggalnya di RT 04/04, Kelurahan Benteng. Sebuah kamar sederhana yang sejatinya merupakan milik saudaranya menjadi tempat Een berteduh sejak hampir dua setengah tahun terakhir.

Tak ada aktivitas keluarga di dalam kamar tersebut. Een hidup sendiri, ditemani beberapa ekor kucing yang menjadi teman kesehariannya.

Kondisi kehidupan Een tergambar dari kesehariannya yang jauh dari kata mudah. Di usia 67 tahun, ia masih harus menyusuri berbagai tempat untuk mencari barang bekas yang bisa dikumpulkan dan dijual kembali demi mendapatkan uang untuk makan.

Baca Juga: BMKG: Kabupaten Sukabumi Awas Kekeringan Periode 11-20 September 2026

Namun, di tengah kondisi tersebut, nama Een tercatat dalam desil 7. Status itu diketahui setelah dirinya mendapat informasi dari pendamping yang menunjukkan data pada layar.

"Iya, sudah dicek, dilihat dari layar katanya masuk desil 7," ujar Een kepada sukabumiupdate.com di rumahnya pada Kamis (10/9/2026).

Een tidak mengetahui secara pasti bagaimana status desil tersebut ditetapkan. Yang ia tahu, untuk bertahan hidup setiap hari, dirinya masih harus mengandalkan rongsokan.

"Sehari-hari saya nyari rongsokan saja. Biarin buat makan, yang penting halal," katanya.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Pekan Kedua Super League 2026/2027, Laga Persija vs Persib Jadi Sorotan Utama!

Hampir setiap hari, Een berusaha mengumpulkan barang-barang bekas untuk kemudian dijual. Tetapi penghasilan dari aktivitas tersebut tidak selalu ada. Ketika tidak mendapatkan uang, pilihan Een menjadi semakin terbatas. Ia harus meminjam kepada orang lain untuk sekadar membeli makanan.

"Kalau enggak ada yang ngasih ya cari sendiri. Usaha saya ya cari rongsokan saja buat beli makan. Kalau nggak ada, pinjam dulu sama orang," ungkapnya.

Een mengatakan dirinya masih dipercaya oleh orang-orang di sekitar untuk meminjam uang. Pembayaran dilakukan ketika dirinya sudah memiliki uang.

"Alhamdulillah saya dipercaya sama orang, jadi kalau ada uang baru dibayar," katanya.

Baca Juga: BPR Sukabumi Cabang Cibadak Lebih Selektif Salurkan Kredit di Tengah Tantangan Ekonomi

Een tinggal seorang diri di kamar kost yang diberikan saudaranya tanpa dipungut biaya sewa. Sebelum menempati kamar tersebut, ia sempat tinggal di tempat lain dengan cara mengontrak.

"Saya tinggal di sini sudah hampir dua tahun setengah sendiri. Awalnya di bawah ngontrak, terus pindah ke sini," tuturnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Een mengaku sebelumnya pernah menerima bantuan sosial. Namun, bantuan itu kini tidak lagi diterimanya.

"Dapat kalau sebelumnya, sekarang enggak ada. Katanya gantian dapatnya, nanti dirapatkan katanya," ujarnya.

Baca Juga: Pemdes Ungkap Pelaku Pembuang Sampah Cangkang Kelapa di Jalan Waluran Sukabumi

Bagi Een, bantuan sosial bukan sekadar tambahan. Bantuan tersebut sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan dasar ketika penghasilannya dari mencari rongsokan tidak menentu.

"Ya pengennya ada lagi bantuan," ucap Een.

Petugas Sensus Ungkap Kondisi Een 

Kondisi Een dibenarkan Yudi Firmansyah (38), petugas sensus ekonomi yang melakukan pendataan di wilayah RW 04, Kelurahan Benteng. Yudi mengatakan proses pendataan dilakukan berdasarkan kondisi yang ditemukan secara langsung di lapangan, termasuk informasi dari pengurus RT setempat.

Baca Juga: Sekar Budaya HJKS ke-156, Bupati Ajak Seluruh Pihak Bersinergi Bangun Sukabumi

Menurut hasil pendataannya, Een merupakan warga lanjut usia yang tinggal di sebuah kamar tanpa membayar sewa. Ia juga tercatat mendapatkan bantuan pemerintah berupa Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

"Kebetulan karena saya petugasnya untuk di wilayah ini, saya sesuai kondisi di lapangan, jadi kondisinya si ibu Een ini bebas sewa atau tinggal di sebuah kamar kos tapi tidak bayar, dan dapat bantuan pemerintah yaitu PKH dan BPNT, selebihnya tidak ada, jadi saya sesuai fakta di lapangan dan berikut informasi dari pengurus RT, karena ibu Een ini sudah lansia," ujar Yudi.

Yudi menyebut Een masih mendapatkan bantuan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Kondisi tersebut menjadi salah satu cara Een bertahan di tengah tidak adanya penghasilan tetap.

"Jadi mungkin sebagian dibantu sama keluarga, karena masih ada keluarganya di sini, sisanya mungkin pemberian dari lingkungan, karena di sini juga kadang ada kegiatan jumat berkah. Dia hidupnya memang kalau di tempat istirahatnya tapi berdampingan sama sodaranya, nggak punya penghasilan apa-apa," tuturnya.

Baca Juga: Tinggal Baju di Badan, Hendra Menatap Puing Rumahnya yang Hangus di Simpenan

Karena itu, Yudi mengaku heran ketika mengetahui Een tercatat dalam desil 7. Menurutnya, kondisi yang ia temukan ketika melakukan pendataan justru menunjukkan kehidupan Een yang memprihatinkan.

"Untuk informasi kenaikan desil ini saya juga bingung, kenapa bisa ada kenaikan signifikan seperti itu, karena saya sendiri yang mendata dan faktanya seperti itu (memprihatinkan)," ungkap Yudi.

Yudi mengatakan dirinya belum mengetahui secara pasti kapan perubahan status desil Een terjadi. Sebab, saat proses pendataan berlangsung, belum ada informasi mengenai perubahan status tersebut.

"Sejauh ini saya belum mengetahui terkait perubahan desil tersebut, karena kan waktu pendataan juga belum ada informasi seperti ini, baru sekarang ada informasi," ujarnya.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini